DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 10 Agustus 2018, 13:56 WIB

Kolom

Jalan Tengah Ma'ruf Amin

Sudrajat - detikNews
Jalan Tengah Maruf Amin Sudrajat (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Di tengah hiruk pikuk 'Jenderal Kardus vs Jenderal Baper' di lini masa, publik dikejutkan oleh keputusan Jokowi memilih KH Ma'ruf Amin sebagai calon wapres. Padahal beberapa jam sebelumnya kabar yang terkonfirmasi, cawapres Jokowi adalah Mahfud MD. Mantan ketua MK itu pun sudah mengurus berbagai persyaratan administrasi dan membuat kemeja putih. Tapi, keputusan politik berkehendak lain.

Banyak yang sekadar kaget, tak sedikit yang kaget lalu mengumpat kecewa. Saya pribadi termasuk yang kaget. Mengingat Jokowi kerap tampil bergaya milenial, saya menduga calon wapresnya akan lebih muda atau sebaya dan dapat berpenampilan trendi. Tapi, ternyata calon yang dideklarasikan cuma setahun lebih muda dari Jusuf Kalla, 75 tahun.

Tentang hal ini, seorang teman secara berseloroh menyebut bahwa Kiai Ma'ruf adalah juga milenial. "Milenial pada masanya." Soal usia tua atau muda, sang teman melanjutkan, harusnya sudah tidak menjadi isu lagi pasca terpilihnya kembali Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Sebaliknya, usia muda pun bukan jaminan sebagai pemimpin yang matang. "Lha, kalau cuma disorong-sorong ibu-bapaknya kan tidak mandiri dan kreatif. Itu pemimpin karbitan," ujarnya.

Lalu, soal gaya sarungan sang kiai kelahiran Tangerang, 11 Maret 1943 itu, harus dimaknai sebagai tren tersendiri. Ketika banyak ustad, kiai, dan ulama berdandan ala Timur Tengah atau para wali, Kiai Ma'ruf istiqomah dengan ciri khas kalangan pesantren: sarungan. Bukan mustahil, kalangan milenial juga besok-lusa akan menjadikan sarung sebagai busana pergaulan. Tentu dengan segala modifikasinya.

Soal kenapa akhirnya Jokowi memilih Kiai Ma'ruf ketimbang Mahfud, ada sejumlah alasan. Pertama, untuk meredam potensi konflik di internal NU. Seperti diberitakan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyebut Mahfud bukan kader NU, meski lahir dan besar di lingkungan berkultur NU. Pendapat ini mendapat reaksi keras dari sejumlah kiai, aktivis NU, dan keluarga besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kedua, ada potensi perpecahan di tubuh koalisi bila memaksakan Mahfud yang dinilai "tak berkeringat" dalam mendukung Jokowi, meski secara kapabilitas dan integritas sudah teruji. Muhaimin Iskandar dan PKB yang terkesan ambisius untuk menjadi pendamping Jokowi mengancam keluar dari koalisi. Bila ini terjadi, tentu kelompok lain akan memanfaatkan peluang tersebut untuk membentuk poros sendiri.

Ketiga, pemilihan Kiai Ma'ruf tak cuma untuk menetralisir kemungkinan potensi konflik di internal NU dan PKB. Lebih luas lagi, sebagai Ketua MUI dan Rais AM PBNU, sosok Kiai Maruf diyakini mampu meredam isu SARA yang selama ini menyerang Jokowi. Dengan adanya sosok Jokowi, diharapkan politisasi agama tak lagi terjadi. Media sosial lebih sunyi dari caci maki dan kehidupan politik di masyarakat akan lebih tenteram.

Keempat, usia Kiai Ma'ruf yang tergolong senja tentu tidak akan menjadi ancaman bagi koalisi parpol di 2024. Lima tahun ke depan, mereka tak terlalu khawatir Kiai Ma'ruf akan mengajukan diri menjadi Presiden. Dengan demikian setiap parpol sama-sama akan berjuang dari nol.

Kelima, sejatinya KH Ma'ruf Amin bukan cuma seorang kiai sarungan yang fasih soal wirid dan dzikir. Dia adalah salah satu pakar ekonomi syariah yang dimiliki negeri ini. Situs ristekdikti.go.id mencatat, Ma'ruf adalah guru besar bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Pengukuhan gelar Profesor tertuang dalam Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 69195/A2.3/KP/2017 tertanggal 16 Mei 2017.

Bila menyimak rekam jejaknya, Ma'ruf Amin adalah motor penggerak ekonomi syariah di Indonesia. Dia misalnya memprakarsai atau menjadi tokoh di balik lahirnya fatwa haram bunga bank pada 2003-2004. Kala itu, pro-kontra yang terjadi tak cuma di lingkungan para ulama, tapi juga melibatkan para akademisi dan praktisi perbankan.

Lewat Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dipimpinnya, Kiai Ma'ruf Amin banyak memberikan panduan dan menjadi penggerak ekonomi syariah. Prof.Dr. H.M. Atho Mudzhar, Promotor I, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, memberikan kesaksian ini saat memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Ma'ruf Amin pada 5 Mei 2012.

"Kiai Ma'ruf banyak melakukan dialog dan lobi-lobi dengan Bank Indonesia (BI), sehingga sebagian besar dari fatwa-fatwa DSN itu kemudian diadopsi oleh BI atau Kementerian Keuangan menjadi peraturan perundang-undangan yang mengikat. Bahkan sebagiannya telah pula diadopsi oleh negara menjadi undang-undang," papar Atho kala itu.

Salah satu yang mungkin bakal menjadi titik lemah Kiai Ma'ruf adalah kondisi kesehatannya. Pada 20 Juli 2016 dia pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur. Saat itu dia menjalani observasi di bawah penanganan Prof Dr Jusuf Misbach, SpS(K) yang dikenal sebagai pakar stroke di Indonesia.

Sejauh ini, dengan pendampingan langsung sang istri, Wury Esty Handayani yang juga berprofesi sebagai perawat, Kiai Ma'ruf senantiasa tampak bugar. Insya Allah demikian selanjutnya. Amin.

Sudrajat wartawan detikcom, tulisan ini pendapat pribadi




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed