DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 10 Agustus 2018, 13:16 WIB

Kolom

Ma'ruf Amin, Islam, dan Politik Persepsi

Fathor Rahman Jm - detikNews
Maruf Amin, Islam, dan Politik Persepsi Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta -

Proses politik kekuasaan merupakan entitas yang dinamis dan penuh dengan ketidakpastian. Namun demikian, dipilihnya KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi merupakan pertunjukan politik yang cukup mengejutkan bagi banyak kalangan. Kiai Ma'ruf Amin adalah Rais Aam PBNU.

Ma'ruf Amin adalah representasi ulama khas, yang semestinya tidak terjun dalam arena perebutan kekuasaan, apalagi hanya sebagai cawapres. Proporsinya adalah sebagai wasit, jujukan, juru kunci moralitas politik, dan pemersatu bangsa yang mungkin saja bertikai dalam proses perebutan kekuasaan. Kalangan warga NU tentu akan banyak yang kecewa dengan kenyataan ini. Tapi, itulah realitas politik Tanah Air saat ini.

Peristiwa dipilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres tidak bisa dilepaskan dari rentetan peristiwa-peristiwa politik sebelumnya. Pada Jumat (27/7), Ijtima Ulama digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) di Hotel Peninsula, Jakarta. Ijtima itu merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) dan Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2019.

Beberapa hari setelah itu, 1.000 ulama dari pelbagai penjuru negeri berkumpul dalam acara zikir kebangsaan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (1/8). Meski dikatakan digelar dalam rangka tasyakuran dalam menyambut peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, namun nuansa pertunjukan konsolidasi kekuatan politik menjelang Pilpres 2019 dalam acara itu tetap sulit dipungkiri.

Peristiwa-peristiwa politik tersebut menunjukkan betapa lekatnya proses-proses politik Tanah Air dengan simbol-simbol agama. Agama sengaja dipanggungkan menjadi entitas menarik untuk dijadikan atribusi politik.

Arena Persepsi

Medan pertarungan politik adalah arena persepsi. Siapa yang mampu membangun persepsi dan mengapitalisasikannya dengan baik menjadi citra, maka dialah pemenang dalam suatu pertarungan politik. Tidak heran kalau dua kubu yang sedang bertarung menjelang Pilpres 2019 berlomba-lomba membangun persepsi publik.

Persepsi ialah kristalisasi yang dihasilkan dari proses pengamatan terhadap objek eksternal individu yang dikaitkan dengan suatu proses pemaknaan. Individu akan memberikan makna terhadap suatu objek berdasarkan pengalamannya. Persepsi individu dan asosiasinya dengan objek-objek pemaknaan yang lain itulah yang akan melahirkan citra bagi seorang aktor politik. Apakah citra tersebut baik atau buruk, itu persoalan lain.

Dalam konteks perpolitikan Tanah Air, masing-masing kontestan berupaya membentuk persepsi publik bahwa mereka mewakili aspirasi umat Islam, pemimpin yang lahir dari kalangan Islam, mencintai ulama, dan pembela Islam.

Demokrasi elektoral meniscayakan yang memperoleh suara terbanyaklah sebagai pemenang. Dalam konteks Indonesia, di mana mayoritas masyarakat adalah pemeluk agama Islam, membangun citra diri sebagai kandidat yang dekat dan loyal terhadap kepentingan Islam merupakan langkah strategis dan logis.

Selain itu, sejak masa Reformasi, gerakan populisme Islam semakin marak, dinamis, dan ekspresif. Agama semakin ditarik ke arena publik, termasuk dalam politik. Para penafsir agama saat ini banyak yang menginginkan agama dapat menjejalkan pengaruhnya ke ruang-ruang relasi dan kontestasi publik. Karena itu, aktor politik semakin merasa perlu untuk tidak mengabaikan aspek agama dalam kontestasi politiknya.

Dalam panggung politik Tanah Air, prakondisi dan setting pertarungan politik sebetulnya sudah lama dibangun. Dimunculkanlah realitas semu yang memberikan kesan dan merangsang persepsi publik bahwa aktor politik, baik tokoh maupun partai politik, yang bertarung menjelang Pilpres 2019 ini terpolarisasi menjadi dua faksi, yakni yang pro Islam dan kontra Islam.

Indikatornya adalah banyaknya idiom-idiom agama yang muncul di media-media massa dan media sosial. Seperti, kategorisasi "parpol Allah" vs "parpol setan"; "kriminalisasi dan persekusi ulama", "rekomendasi Ijtima Ulama adalah kehendak Allah", dan seterusnya.

Ujaran-ujaran semacam itu telah lama diembuskan di ruang publik Tanah Air dalam bentuk gambar, teks, dan video yang disebarkan melalui media-media massa dan akun-akun media sosial. Untuk membangun suatu persepsi publik, bahkan tidak jarang ditemukan teks/gambar/video yang terus diproduksi, digandakan, dimanipulasi, disunting, ditambah atau dikurangi, dan disebarkan secara masif melalui media sosial yang kebanyakan anonim.

Akibatnya sangat dahsyat. Banyak masyarakat Islam terprovokasi. Umat Islam terbelah. Kalangan Nahdlatul Ulama lebih lunak, akomodatif, dan kompromistik dalam mencandra realitas politik tersebut. Sehingga, Jokowi sebagai pihak yang hendak dipersepsikan anti Islam harus menyangkalnya dengan mendekat pada kalangan Islam tradisionalis ini.

Di kalangan politisi NU pun tidak solid karena banyak partai dan kepentingan politik di situ. Untuk menyatukan kekuatan politik kaum sarungan itu, Jokowi kemudian merasa perlu memutuskan Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Dari aspek ini, keputusan itu sebenarnya menunjukkan bahwa Jokowi tidak percaya diri untuk menangkal gempuran politik persepsi sebagai calon presiden yang anti Islam dan ulama.

Dilihat dari sudut pandang relasi, sistem, dan struktur kepemimpinan ulama dalam tradisi NU, dipilihnya Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres sebenarnya juga tidak masuk logika. Namun, Jokowi sepertinya ingin mengingatkan publik bahwa yang dikenal dalam pertarungan politik bukanlah kekuatan logika, melainkan logika kekuatan.

Fathor Rahman Jm pengamat politik, dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Jember




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed