DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 09 Agustus 2018, 14:55 WIB

Kolom

Urang Banjar Naik Haji

Supriansyah - detikNews
Urang Banjar Naik Haji Salah satu tradisi mengantar haji di Nusantara (Foto: M Rofiq)
Jakarta -

Keberangkatan jemaah haji sudah berjalan beberapa minggu. Setiap hari Panitia Keberangkatan Haji di setiap embarkasi terus memberangkatkan ratusan hingga ribuan orang jemaah. Keberangkatan jemaah haji ini pasti meninggalkan beberapa cerita yang sangat manusiawi, dari yang menangis karena meninggalkan keluarga hingga ada jemaah yang harus memohon kepada petugas embarkasi untuk diberangkatkan karena perjalanannya ke Tanah Suci harus ditunda dengan berbagai sebab.

Dari kloter (kelompok terbang) pertama hingga sekarang, sudah ada ribuan orang jemaah haji yang berangkat. Kebiasaan keberangkatan jemaah haji dari seluruh dunia akan ditutup sekitar beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Adha atau keberangkatan ke Padang Arafah untuk pelaksanaan wukuf. Setiap jemaah dari seluruh dunia akan membawa gaya dan kehidupannya dan bertemu tumpah ruah di sebuah kota yang dulunya lembah tandus, yaitu Mekkah.

Pertemuan seluruh jemaah haji di kota Mekkah memang sangatlah indah, sebab semua bangsa pasti membawa keunikannya masing-masing. Dari pakaian hingga perilaku nan pasti berbeda, karena perbedaan budaya dan gaya hidup. Cerita-cerita dari mereka yang pernah menginjakkan kaki di sana untuk menunaikan rukun Islam kelima itu sangatlah menarik jika disimak, bahkan banyak buku yang menuliskan kisah-kisah di Tanah Suci baik dari seorang tokoh hingga cerita beberapa orang.

Haji yang mewajibkan umat Islam mendatangi kota Mekkah, Madinah juga wilayah Arafah, Muzdalifah hingga Mina ini pastilah membuat kesan yang mendalam bagi yang melaksanakannya, tak ketinggalan bagi jemaah haji asal Indonesia. Jemaah Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Nusantara ini pasti mempersiapkan segala hal dengan keunikan dari masing-masing daerah.

Kekhasan jemaah asal masyarakat Banjar atau dikenal dengan urang Banjar menarik jika kita telisik bersama. Dari sebelum keberangkatan hingga kedatangan akan banyak menemukan keunikan yang mungkin saja tidak ditemukan di wilayah lain, atau bertransformasi dalam bentuk yang berbeda.

Sebelum keberangkatan saja, banyak calon jemaah melaksanakan walimatus safar atau selamatan keberangkatan haji, biasanya di kalangan muslim tradisionalis juga disertai dengan Salat Hajat setelah Salat Maghrib. Namun, sekarang biasanya ditambah dengan selamatan atau kenduri untuk mengundang kolega, kawan, hingga atasan di kantor atau tempat kerja. Ini biasanya dilaksanakan oleh masyarakat urban perkotaan. Masyarakat desa masih bertahan pada tradisi Salat Hajat saja yang dilanjutkan dengan membaca Surah Yasin hingga salawat.

Pada hari keberangkatan biasanya juga diadakan selamatan yang diisi dengan membaca Surah Yasin dan beberapa salawat. Kemudian sang jemaah haji duduk dengan memakai pakaian batik khas jemaah haji Indonesia, sekarang bermotif batik berwarna biru tosca, lengkap dengan tas paspor dikalungkan di leher. Setelah semua itu selesai, jemaah pun berdiri di depan pintu kemudian azan dikumandangkan oleh tuan guru yang memimpin acara pelepasan. Setelah azan, beberapa doa khusus dibaca oleh jemaah haji sendiri yang dipimpin oleh tuan guru.

Sebelumnya, keluarga inti dari sang jemaah biasanya dijamu dengan makan dalam satu nampan besar, yang diniatkan agar nanti tetap berkumpul dengan keluarga yang ditinggalkan setelah melakukan perjalanan jauh ke Tanah Suci. Kalau jemaah haji memiliki anak yang masih kecil, yang tidak dibawa serta berangkat, biasanya dititipkan pada keluarga terdekat bersama baju yang biasa dipakai oleh jemaah untuk diselimutkan agar mengurangi kerinduan kalau anak yang masih kecil tersebut menangis.

Sebagian jemaah juga masih melakukan ritual salat dua rakaat dulu di salah satu masjid sebelum menuju asrama haji keberangkatan. Sebab, dalam kepercayaan urang Banjar perjalanan haji adalah perjalanan dari masjid ke masjid (baca: Masjidil Haram). Ini juga akan dilakukan saat kepulangan --perjalanan haji akan ditutup dengan salat di masjid juga.

Sebelum berangkat biasanya jemaah haji juga disibukkan dengan urusan kiriman salam pada Nabi Muhammad. Beberapa keluarga biasanya ikut menyampaikan salam, yaitu bacaan salawat dan salam pada Rasulullah. Ini biasanya dilakukan setiap pribadi masing-masing pada jemaah yang berangkat. Selain itu juga biasanya dititipi oleh keluarga, beberapa helai kain putih untuk dipakai saat melaksanakan prosesi haji di sana nanti, untuk kelak dipakai sebagai kain kafan. Menurut kepercayaan urang Banjar, kain yang sudah dipakai saat berihram dan dicuci memakai air zam zam adalah sebuah keberkahan.

Saat keberangkatan, setelah prosesi oleh panitia embarkasi dan naik ke pesawat, biasanya ada jemaah yang membaca beberapa amalan seperti membaca Kitab Dalail atau Kitab Sanjata Mukmin untuk memohon kesalamatan kepada Allah. Dalail dan Sanjata Mukmin adalah kitab bacaan yang akrab di kalangan masyarakat Banjar, sehingga beberapa jemaah membawa serta kitab tersebut selama perjalanan haji.

Beberapa kekhasan jemaah haji urang Banjar saat sudah berapa di Tanah Suci di antaranya menyangkut soal makanan. Memang saat ini ada kebijakan soal katering selama di Mekkah dan Madinah, namun biasanya urang Banjar memiliki permasalahan soal ini. Urang Banjar tidak semua terbiasa makan dengan nasi yang disediakan oleh katering, sebab nasi yang dihasilkan dari beras asal tanah Kalimantan Selatan memiliki tekstur yang berbeda dibanding beras yang dari katering. Makanya, biasanya urang Banjar ada yang membawa sendiri beras dari Kalimantan Selatan. Walau kebijakan penginapan biasanya banyak yang melarang memasak di dalam gedung, mereka biasa tetap memasak dengan alasan tidak cocok dan berkurangnya selera makan.

Makanan memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Oleh sebab itu soal makanan memang pasti akan menarik jika kita menelisik bagaimana makanan di Tanah Suci dengan orang sebanyak jutaan tersebut. Oleh sebab itu, selain beras biasanya ada jemaah yang masih membawa beberapa makanan khas Kalimantan Selatan. Alasan yang sama mereka utarakan yaitu ketidakseleraan mereka saat menemui menu yang sama setiap hari dari katering. Makanan seperti ikan kering telang masak asam manis atau ikan gabus dibuat abon adalah penyelamat dari selera makan yang hilang masyarakat Banjar.

Selain soal katering, ada juga soal kebiasaan urang Banjar mampir ke warung makan di pagi hari setelah Salat Subuh. Kebiasaan ini biasanya disebut dengan mewarung yaitu mampir ke warung makan, yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat Banjar bahkan saat di Tanah Suci. Adanya TKI atau TKW (tenaga kerja wanita) asal Banjarmasin sangat membantu. Sebab, jika ada TKW asal Banjarmasin biasanya ada menyertakan kue khas Banjar yang bernama untuk. Yaitu, kue yang terbuat dari tepung dan biasanya diisi dengan parutan kelapa atau kacang hijau. Ini barang yang luar biasa berharga, karena kue ini biasanya menemani tradisi mewarung dan biasanya ditemani dengan segelas teh panas. Walau dengan harga yang cukup mahal jika dibanding di tanah Banjar, dengan mengeluarkan uang sebesar 4-6 Real Saudi cukup untuk menuntaskan kerinduan akan kampung halaman.

Selain makanan, masyarakat Banjar biasanya juga melakukan hal-hal yang unik selama di Tanah Suci, di antaranya setelah melakukan prosesi wukuf di Arafah biasanya jemaah haji asal Banjar menuliskan nama-nama keluarga mereka di batu atau kayu yang kemudian ditanam di tanah Arafah tersebut. Dengan harapan, nama keluarga yang dituliskan tersebut bisa juga datang untuk menunaikan ibadah wukuf, yang notebene sebagai inti pelaksaan ibadah haji. Selain di Arafah, jemaah juga melakukannya di Mekkah juga Madinah. Kadang juga ada yang menitipkan foto untuk ditanam di tanah Arafah.

Kerinduaan akan Tanah Suci di kalangan masyarakat Banjar memang cukup membumbung tinggi, oleh karena itu bukanlah hal yang aneh jika antrean jemaah haji Kalimantan Selatan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Selain itu, beberapa jemaah biasanya membawa potongan tali kemah di Arafah hingga sisa nasi yang dimakan selama di Arafah, yang dikeringkan sebelumnya, untuk dibawa ke Tanah Air agar menjadi penglaris karena diyakini memiliki berkah tanah Arafah yang setiap tahunnya didatangi oleh jutaan orang jemaah haji. Ini berkaitan dengan jiwa dagang yang melekat pada urang Banjar. Mereka berharap, dengan membawa barang-barang tersebut bisa memberikan keberkahan kepada usaha yang mereka bina.

Ada juga yang membawa sekantong beras selama perjalanan ARMINA (Arafah-Muzdalifah-Mina) yang kemudian dibawa pulang untuk dimasukkan ketika memasak nasi bagi jemaah atau keluarganya yang berjualan warung makan. Diharapkan, selain keberkahan ARMINA juga nasi yang dimasak selalu cukup untuk banyak orang sebanyak orang yang ada di Arafah hingga Mina.

Cerita-cerita ini adalah sebagian kecil dari sisi kemanusiaan perjalanan haji; bagaimana haji tidak cuma dilihat dari sisi ibadah dan proses perjalanan tugas ala negara. Haji adalah perjalanan manusia ke tanah yang suci, oleh sebab itu banyak sekali bahkan melimpah sisi kemanusiaan yang bisa kita petik dari peristiwa demi peristiwa yang dilalui dari rihlah haji.

Supriansyah peneliti isu sosial dan perdamaian di Kindai Institute dan penggiat di Jaringan Gusdurian Banjarmasin


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed