Kolom

Memaknai Gema Sindiran "Jenderal Kardus" di Medsos

Hariqo Wibawa Satria - detikNews
Kamis, 09 Agu 2018 13:00 WIB
Hariqo Wibawa Satria (Foto: istimewa)
Hariqo Wibawa Satria (Foto: istimewa)
Jakarta - Semalam, Rabu (8/8) terjadi beberapa kali pergantian puncak trending topic di Twitter. Pukul 19.00 ada #JokowiDin2019 yang mengkampanyekan Din Syamsudin sebagai Cawapres Jokowi. Pukul 20.00 - 22.30 WIB berganti menjadi #MujahadahCakImin yang menampilkan kegiatan doa agar Muhaimin Iskandar terpilih sebagai Cawapres Jokowi. Tagar ini dilatarbelakangi dengan isu semakin menguatnya nama Mahfud MD sebagai Cawapres Jokowi.

Hingga pukul 23.30 WIB terlihat bahwa masalah lebih berat di koalisi yang mendukung Jokowi sebagai Calon Presiden. Namun, situasi berubah ketika media online memberitakan twit dari akun @AndiArief_ yang menyebut Prabowo sebagai Jenderal Kardus. Maka naiklah tagar #Jenderalkardus di puncak pembicaraan dan terus bertahan hingga saya selesai menulis ini pukul 03.05 WIB (Kamis, 9/8). Sekarang terlihat elite kedua kelompok sama-sama tidak bisa tidur.

Beberapa hal yang menjadi catatan saya adalah; pertama, elite politik banyak memproduksi julukan-julukan buruk yang pedas. Ali Mochtar Ngabalin menyebut Amien Rais dengan "mulut comberan", Andi Arief menyebut Prabowo dengan "Jenderal Kardus", Arief Poyuono menyebut SBY dengan "Jenderal Baper". Sebelumnya Arief Poyuono juga menyebut AHY dengan "Anak Boncel". Untungnya para pendukung mereka di media sosial lebih banyak yang mampu mengendalikan emosi ketimbang bersumbu pendek. Bahkan beberapa pendukung menyayangkan julukan-julukan tersebut, misalnya akun @zarazettirazr yang dikenal pendukung AHY mengkritik ucapan Andi Arief.

Kedua, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan, sebab elite-elite politik yang memberikan julukan-julukan buruk tersebut, pada kesempatan lain juga bicara tentang pentingnya bersabar, bersikap baik, dan lain sebagainya. Rekam digital akan menguji konsistensi seorang figur publik.

Ketiga, kata kunci yang sedang ramai dibicarakan selalu melahirkan peluang bagi para kreatif seperti yang dilakukan @Chilli_Pari; akun yang menjual martabak ini langsung mempromosikan kardus terbarunya. Masih terbuka peluang bagi perusahaan kardus untuk mempromosikan produknya. Demikian juga dengan para pencipta lagu, penulis, pembuat video-video pendek di Instagram. Para Youtuber tentu juga akan memanfaatkan kata "kardus", "baper" untuk judul-judul video mereka. Akun-akun baru yang menggunakan nama kardus juga akan bermunculan.

Keempat, berbagai perubahan dukungan, keputusan politik menjadikan masyarakat semakin dewasa dalam menghadapi politik. Misalnya, Mahfud MD adalah juru kampanye nasional PKB pada Pemilu 2014 dan ikut membantu menaikkan suara PKB saat itu. Namun, sekarang justru tidak didukung oleh PKB untuk menjadi Cawapres Jokowi. Di sini pendukung PKB diuji dalam menyikapinya, dan akan terlihat pada aktivitas mereka di media sosial.

Kelima, tingginya perhatian masyarakat terhadap Pilpres 2019 utamanya siapa yang akan menjadi Cawapres bagi Jokowi dan Cawapres bagi Prabowo. Sehingga, malam tadi perkembangan penanganan gempa bumi yang terjadi di NTB kalah banyak dibicarakan dibanding isu Cawapres. Di sini harus ada warganet yang mengingatkan agar tidak menjadi kebiasaan buruk.

Keenam, pentingnya independensi organisasi bagi ormas-ormas keagamaan yang besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain. Kita akan terus merasa damai, bahagia menghadapi dan saat Pileg, Pilpres selama TNI, POLRI netral dan ormas-ormas keagamaan mampu menjaga independensi organisasinya. Tegasnya organisasi keagamaan cukup bicara kriteria, dan sebaiknya tidak perlu merekomendasikan nama-nama Capres atau Cawapres pilihan mereka karena akan berpotensi membuat umatnya di dunia nyata dan dunia digital terpecah sehingga merugikan organisasi keagamaan itu sendiri.

Hariqo Wibawa Satria Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi


Ramai #JenderalKardus vs #JenderalBaper, tonton videonya di sini:
[Gambas:Video 20detik] (mmu/mmu)