Kolom

Republik Kelas Menengah

Rahmat Petuguran - detikNews
Kamis, 02 Agu 2018 14:40 WIB
Konflik agraria di Kulonprogo menggambarkan konflik selera antarkelas
Jakarta -

Jumlah kelas menengah Indonesia telah mencapai 143 juta jiwa dan akan terus bertambah. Peningkatan jumlah kelas menengah telah mengubah wajah demografi Indonesia. Selain dominan dalam jumlah, kelompok ini juga dominan dalam pertarungan wacana publik. Mereka menjadi kekuatan demografi yang sangat diperhitungan karena cukup kaya, kritis, rewel, sekaligus paling vokal menyampaikan aspirasi.

Secara sosioekonomi, kelas menengah bisa diidentifikasi dengan berbagai cara. Yuswohady dan Gani (2015) menyebutkan, kelas menengah adalah kelompok di luar 20 persen penduduk termiskin dan 20 persen penduduk terkaya. Sementara, Asian Development Bank (ADB) mengidentifikasi kelas menengah sebagai kelompok masyarakat berpenghasilan 2 hingga 20 dolar AS per hari.

Secara ekonomi, lembaga-lembaga riset sepakat mengidentifikasi kelas menengah sebagai kelompok penduduk yang telah berhasil memenuhi kebutuhan dasar (basic need). Di samping itu, mereka memiliki setidaknya 30 persen penghasilan menganggur. Mereka tidak lagi fokus pada kebutuhan biologis karena telah tercukupi dan mengalihkan perhatian ke kebutuhan sosial.

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan sosial merujuk pada tiga jenis kebutuhan yaitu mencintai dan dicintai, pengakuan, dan aktualisasi diri. Tiga jenis kebutuhan inilah yang mendorong kelas menengah sangat gemar terhubung. Selain masuk dalam komunitas-komunitas kecil berbasis hobi, keterhubungan dijalin melalui media sosial. Mereka menggunakan media sosial untuk bersosialisasi, mendapat pengakuan, dan memperluas pengaruh.

Di sisi lain, kelas menengah juga memiliki pengetahuan yang relatif luas. Akses terhadap internet membuat mereka bisa melahap informasi-informasi penting dari berbagai penjuru dunia. Wawasan mereka berkembang sehingga kepedulian terhadap isu-isu global mulai bertumbuh. Isu-isu global seperti kesetaraan gender, global warming, dan hak-hak sipil mulai tampak penting dan menjadi bahan perhatian mereka.

Kondisi inilah yang membuat Middle Class Institute (MCI) menarik simpulan bahwa perilaku kelas menangah dibentuk oleh tiga variabel utama, yaitu kepemilikan, konektivitas, dan pengetahuan. Dari aspek ekonomi, mereka telah selesai dengan kebutuhan dasar dan memiliki penghasilan menganggur. Dari aspek keterhubungan, mereka suka berjejaring. Adapun secara pengetahuan, wawasan semakin luas.

Kritis dan Penuntut

Akumulasi kepemilikan aset, konektivitas, dan pengetahuan telah menciptakan mentalitas baru pada sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu mentalitas kelas menengah. Dari sisi positif, mentalitas ini membentuk seseorang lebih beradab, rasional, dan peduli terhadap lingkungan. Adapun dari sisi negatif, mentalitas ini membentuk seseorang menjadi cerewet, egois (selfish), dan penuntut.

Dualisme mentalitas inilah yang selama ini tergambar secara akurat di media sosial. Di media sosial, mereka menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu besar. Tapi, di sisi lain kelas menengah pulalah yang paling vokal menuntut agar pemerintah melayani selera mereka. Ada ambivalensi dalam kepribadian kelompok ini.

Kelas menengah bisa sangat abai terhadap kenaikan harga sembako karena kebutuhan pokok tidak lagi menjadi masalah bagi mereka. Tetapi, mereka bisa sangat cerewet melihat taman kota berantakan. Mereka bisa abai anggaran program jaring pengaman sosial dikurangi, tetapi bisa sangat "ganas" ketika menuntut pemerintah membangun lintasan berlari (jogging track). Mereka bisa saja diam saat pemerintah mengurangi anggaran subsidi pendidikan, namun siap "melawan" jika Facebook dan Instagram diblokir.

Bangsa Indonesia telah menikmati kemurahhatian kelas menengah melalui berbagai kebiasaan baru yang dibawanya. Kelas menengah telah memperkenalkan berbagai saluran baru berdemokrasi. Kelas menengah telah memungkinkan kegiatan amal dilakukan secara massif dan berdampak besar melalui mekanisme crowdfunding. Pengetahuan yang dulu eksklusif hanya bisa diperoleh di perguruan tinggi oleh kelas menengah juga didesakralisasi melalui berbagai saluran sehingga tercipta demokratisasi pengetahuan.

Di sisi lain, kelas menengah juga harus bertanggung jawab atas meningkatnya ketegangan relasi sosial akibat perbedaan pilihan politik. Aktivisme kelas menengah telah membuat kebijakan-kebijakan kecil disorot dan diperdebatkan sedemikian rupa sehingga menyita energi publik. Benturan gagasan dan pertengkaran menjadi lebih sering terjadi karena kelas menengah lebih ekspresif dan bahkan vulgar beraspirasi.

Dalam banyak kasus, sikap kelas menengah telah menciptakan paradoks. Pada satu sisi mereka mengidamkan dunia yang lebih damai, tetapi demi identitas dan kepentingan politiknya mereka siap bertengkar dengan kelompok lain. Mereka menginginkan negara melakukan pemerataan pembangunan, namun protes jika ada kenaikan pajak. Standar kelas menengah kerap dipaksanakan agar menjadi standar bersama, bahkan oleh negara.

Sangat Diperhitungkan

Ciri kelas menengah yang kaya, kritis, dan terkoneksi membuat mereka menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang sangat diperhitungan. Baik swasta maupun pemerintah berusaha mengakomodasi aspirasi mereka dengan melahirkan produk dan kebijakan yang sesuai selera mereka. Aspirasi kelas menengah sangat diperhitungkan, bahkan kerap menjadi penentu pengambilan kebijakan.

Menjamurnya kafe, bahkan di kabupaten-kabupaten kecil, adalah salah satu bukti kemenangan kelas menengah dalam "memaksakan" selera mereka. Kafe adalah tempat yang menggambarkan kepribadian kelas menengah karena mengakomodasi makan, minum, dan bersosialisasi sekaligus. Di tempat-tempat seperti itu, mereka bisa menegaskan kelas dan memperoleh pengakuan dari lingkungan.

Kian hari pemerintah juga tampak lebih akomodatif terhadap kepentingan kelas menengah. Bahkan ada kecenderungan negara dikelola dengan standar selera mereka. Sebuah kebijakan tampak baik jika berterima oleh kelas menengah. Sebaliknya, kebijakan akan tampak buruk jika ditolak oleh kelompok mayoritas ini. Negara menjadi pelayan setia kelas menengah dengan membelanjakan uang negara demi memenuhi aspirasi mereka.

Sekarang mudah sekali didapati pemerintah kabupaten atau kota yang royal membelanjakan APBD untuk membangun taman. Kebijakan ini sangat populer karena sesuai selera dan kebutuhan kelas menengah yang menginginkan tempat yang nyaman untuk bersosialisasi menghabiskan waktu luang. Pemerintah juga sangat akomodatif terhadap pembangunan hotel dan mall. Kedua tempat itu dikehendaki kelas menengah karena relevan dengan kemampuan ekonomi mereka.

Dominasi selera kelas menengah dalam perumusan kebijakan publik menjadi masalah karena tidak selalu relevan dengan kepentingan kelas bawah (penduduk miskin). Dalam sejumlah kasus, kedua kelompok ini bahkan berbenturan. Benturan itu dapat diamati dalam pembangunan mall dan hotel. Kelas menengah cenderung menilai kedua tempat itu mendatangkan keuntungan. Tapi, bagi warga miskin kedua tempat itu berpotensi menyengsarakan karena mengeksploitasi sumber daya air. Sementara kelas menengah meraup untung, penduduk miskin hanya menikmati kebisingan dan polusi.

Dalam pembangunan infrastruktur transportasi, kelas menengah merasa diuntungkan jika pemerintah membangun bandara, jalan tol, dan pelabuhan baru. Infrastruktur itu memudahkan mereka berwisata ke berbagai daerah dengan relatif murah. Tetapi, bagi warga miskin satu-satunya dampak yang dirasakan dari pembangunan infrastruktur tersebut adalah hilangnya lahan bertani bahkan rumah (karena digusur).

Sayangnya, pertarungan wacana dan selera antara dua kelas tersebut kerap berlangsung tidak seimbang. Selain kekuatan jumlah, kelas menengah unggul karena memiliki uang, pengetahuan, dan menguasai saluran aspirasi. Pemerintah dan apalagi korporasi juga lebih berpihak kepada mereka karena lebih menguntungkan. Kondisi inilah yang membuat selera kelas menengah semakin dominan, mengubah negara menjadi "republik kelas menengah" yang menyenangkan bagi mereka.

Rahmat Petuguran dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)



(mmu/mmu)