Cawapres 2019 dan Politik Meja Makan Jokowi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Cawapres 2019 dan Politik Meja Makan Jokowi

Senin, 30 Jul 2018 13:20 WIB
Muhammadun
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Cawapres 2019 dan Politik Meja Makan Jokowi
Presiden Jokowi makan malam dengan ketum parpol koalisi (Foto: dok. istimewa)
Jakarta - Semakin gencarnya arus politik menjelang Pemilu 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menggelar politik meja makan, dengan menggelar jamuan makan malam di Istana Kepresidenan, Bogor (23/7). Dalam acara ini, politik meja makan ala Jokowi dihadiri semua ketua umum partai koalisi. Mereka adalah Megawati Soekarnoputri (PDIP), Surya Paloh (Nasdem), Airlangga Hartanto (Golkar), Romahurmiziy (PPP), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Oesman Sapta Odang (Hanura).

Politik meja makan ala Jokowi ini tak bisa lepas dari tema Cawapres 2019 yang akan mendampingi Jokowi sebagai Capres. Semua partai koalisi sepakat mengusung kembali Jokowi sebagai Capres, tetapi semua partai koalisi juga mempunyai Cawapres masing-masing. Terbukti, para tokoh partai koalisi itu telah memasang baliho di berbagai kota di Indonesia sebagai wujud kesiapan mendampingi Jokowi dalam Pemilu 2019 nanti.

Apakah politik meja makan ala Jokowi mampu menemukan titik kompromi pada pertemuan tersebut? Belum ada jawaban pasti, karena Jokowi juga belum mengumumkan secara resmi. Ujian politik meja makan Jokowi saat ini mendapatkan tantangan serius, karena Cawapres 2019 juga sangat terkait dengan peta investasi politik pada 2024 nanti. Siapa yang bisa merebut posisi Cawapres, maka berpeluang besar menjadi petarung kuat dalam politik 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maklum, Jokowi tidak punya dinasti politik partai sekaligus akan selesai pada 2024 nanti. Posisi "kosong" ini menjadi rebutan pada Pilpres 2019 ini. PDIP sendiri pasti tak akan melewatkan momentum politik ini, sekaligus menyiapkan generasi masa depan pasca Megawati. Dalam konteks ini, Jokowi harus benar-benar cerdas dalam memainkan politik meja makan. Kesuksesan politik meja makan ketika di Solo dan DKI Jakarta jangan sampai dilupakan Jokowi, karena keseimbangan politik sangat mempengaruhi kinerja pemerintahan.

Tanpa Transaksional

Politik meja makan Jokowi akan selalu digelar sebagai pertunjukan di media. Di sini, tantangan serius yang dihadapi Jokowi adalah dirinya sendiri. Apa itu? Yakni, komitmen untuk berpolitik tanpa transaksional. Komitmen ini akan menjadi sumber kekuatan dirinya sendiri dan kekuatan koalisinya dengan partai pendukung. Yang jauh jauh lebih penting adalah koalisi Jokowi dengan rakyat yang selama ini mendukung dan mencintainya.

Jokowi memang harus membangun kesepahaman dengan partai koalisi dan parlemen, tetapi kalau terjebak politik transaksional, justru bisa menjebak Jokowi sendiri dalam kesalahan fatal. Di meja makan malam itu, Jokowi bersama ketua umum partai koalisi sebenarnya sudah menghadirkan senyum bahagia dan menu "rendang koalisi" yang membuat tertawa publik. Ini sinyal menarik kalau Jokowi bisa mengelola kelanjutannya, tetapi bisa jadi musibah politik bila gagal mencairkan dan membangun solusi kesepahaman soal Cawapres nanti.

Kalau melihat politik meja makan selama ini, ada dua hal mendasar yang dilakukan Jokowi. Pertama, Jokowi selalu menjadi "tuan rumah" yang selalu melayani tamu-tamunya. Ini kunci politik yang dilakukan Jokowi, sehingga tamu-tamunya merasa senang dengan setiap kebijakan politik yang digerakkan Jokowi. Ini bukan saja dilakukan ketika bertemu partai koalisi, tapi juga dilakukan kepada siapa saja, termasuk Prabowo Subianto yang menjadi oposisinya. Dengan melayani, Jokowi sebenarnya telah "memenangkan" komunikasi yang dibangun.

Kedua, menu makan yang disajikan Jokowi selalu sesuai dengan selera tamu. Ini sangat penting, karena seenak apapun menunya, kalau itu justru menjadi "pantangan" tamu, maka akan jadi musibah bagi tuan rumah. Di sini, Jokowi selalu tahu selera yang diminati para tamunya. Ketika selesai dalam politik meja makan, para tamu selalu merasakan nikmat dengan jamuan Jokowi. Ini tanda khusus politik yang saling menerima. Di sini, Jokowi juga "memenangkan" komunikasinya.

Dalam dua hal mendasar ini, Jokowi harus benar-benar menjaga diri dari politik transaksi. Kalau terjebak, bisa jadi menu dan pelayanannya berubah. Mereka yang selesai perjamuan justru akan mengabarkan fitnah. Jokowi tahu ini, dan harus cerdas dalam memilih Cawapres 2019 yang sedang ditunggu-tunggu publik saat ini.

Muhammadun analis studi politik, pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

(mmu/mmu)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads