Pasang surut ini patut mendapatkan perhatian yang serius. Kebutuhan ini bukan saja seiring dengan memanasnya panorama politik lewat pilkada yang serempak dilaksanakan di negeri ini beberapa waktu lalu. Jauh lebih penting, dinamika partai ini sejatinya tidak dapat dipisahkan dari dua tantangan utama yang tengah dihadapi partai dakwah ini; kepemimpinan (qiyadah) dan keilmuan. Kemampuannya mengelola dua masalah tidak hanya akan membuat partai ini mampu bertahan secara politis melalui dukungan pemilih yang semakin meningkat tetapi juga mengembalikan bahkan memperkuat posisinya sebagai panutan bagi politisi dan partai politik di Indonesia.
PKS sekarang menghadapi masalah kepemimpinan yang serius. Meskipun memiliki sistem regenerasi yang sangat mapan, namun itu tidak cukup dan mendorong adaptabilitas terhadap arus politik yang ada. Kepemimpinan berbasis sistem, yang merupakan kepemimpinan rotasi berdasarkan pertimbangan Majelis Syuro, tidak selalu relevan dengan psikologi politik pemilih yang menginginkan kekuatan ketokohan politik. Ini terutama berlaku untuk anggota dan aktivis partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susah menebak dan mengukur kesalahan serius yang diperbuat AM hingga orang-orangnya perlu dibersihkan di dalam struktur kepartaian. Ada yang menyebut ini terkait dengan dua fraksi yang berseberangan di dalam tubuh PKS-Keadilan dan Kesejahteraan. Namun, perbedaan kontras ini sebetulnya tidak lagi relevan sebab politik membuka jalan bagi mobilitas vertikal selama tidak melawan hukum seperti korupsi. Isolasi ini telah menciptakan suasana suramadi di kalangan kader-kader PKS sendiri karena sebagian besar memuji kepemimpinan dan intelektualitas AM alih-alih terjebak dalam pengultusan, sesuatu yang menjangkiti banyak partai nasionalis seperti PDI-P dan Demokrat.
Masalah kepemimpinan sangat penting bagi stabilitas PKS. Sungguhpun loyalitas kader dan anggota anggota PKS masih solid dan tidak terbagi, PKS sesungguhnya telah mengalami tiga guncangan yang melelahkan para kadenya; kepergian para pendiri partai karena transformasi dari PK (Partai Keadilan) menuju PKS demi keinginan menjadi partai terbuka, penangkapan Luthfi Hasan Ishaaq, dan pemecatan Fahri Hamzah --meskipun yang terakhir ditolak oleh dewan pimpinan partai saat ini.
Lebih lebih jauh, PKS secara mendesak perlu menangani persoalan keilmuan di lingkaran mereka sendiri. Dikenal sebagai kendaraan politik untuk orang-orang muda dan profesional, budaya politik PKS sangat bergantung pada aspek keilmuan. Itulah mengapa pada awalnya PK menyebarluaskan gagasan-gagasannya yang sangat kuat melalui media. Tokoh-tokoh besar PK menulis di berbagai majalah seperti Saksi, Tarbawi, Ummi atau An Nida. Anis Matta dan K.H. Rahmat Abdullah (alm.) membuktikan kapasitas intelektual dan spiritual mereka lewat media-media itu.
Kini amat disayangkan bahwa PKS menghadapi persoalan intelektualisasi kepemimpinan yang serius. Ini bukan berarti PKS mengalami krisis kepemimpinan intelektual. Hanya saja masyarakat relatif sulit menemukan tokoh-tokoh dengan pelbagai karya dan tradisi intelektual yang produktif. Sewaktu masih bernama PK, Hidayat Nur Wahid, Daud Rasyid, dan Anis Matta adalah tokoh-tokoh intelektual partai yang terkenal. Kini masyarakat hanya mengenal AM yang terus berkibar dengan karya-karya pemikirannya lewat tulisan.
Sejumlah faktor berkontribusi terhadap fenomena ini, termasuk meninggalnya K.H. Rahmat Abdullah dan absennya figur intelektual yang rajin menuliskan gagasan-gagasannya seperti AM. Tak kalah pentingnya, aktivitas politik yang intens, seperti pilkada yang dilakukan secara serentak di seluruh negeri, ternyata sangat menggerus energi intelektual pemimpin dan kader partai.
Sayangnya, PKS belum memiliki label yang kuat sebagai partai Islam yang fenomenal dengan karakteristik atau sumber daya manusianya. Bila NU dikenal dengan Islam Nusantara, Muhammadiyah lewat Islam Berkemajuan, PKS belum memiliki tag yang kuat --meskipun NU dan Muhammadiyah adalah organisasi massa. Tidak ada yang menyangkal bahwa PKS memiliki citra politik Islam sangat kuat pada saat yang sama membutuhkan merek Islam yang sama kuatnya. Jika para pemimpinnya sekarang sibuk mengamankan kursi politik di parlemen tanpa mempertimbangkan regenerasi intelektual, maka jangan harap khalayak umum bakal mengingat partai ini sebagaimana mereka mengingat tokoh-tokoh muslim dengan ide-ide hebat, semisal Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Abdurrahmad Wahid, Jalaluddin Rachmat, atau Amien Rais.
Tokoh-tokoh PKS perlu kembali ke sumber inspirasi mereka, tokoh Ikhwanul Muslimin. Salah satu ciri utama gerakan ini adalah bahwa ia memiliki ulama atau cendekiawan yang dikenal karena karya tulis mereka yang produktif. Buku-buku mereka mengisi banyak perpustakaan dunia Islam seperti Yusuf Al-Qaradhawi, Said Hawwa, Muhammad Al-Ghazali, Sayyid Sabiq, Mustafa As-Siba'i, Sayyid Qutb, atau Abdul Qadir Audah. Tanpa itu, PKS akan turun kelas sebagai kumpulan politisi tanpa narasi besar.
Donny Syofyan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
(mmu/mmu)











































