DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 Juli 2018, 13:28 WIB

Kolom

Manuver Sayap Kiri dan Hubungan Indonesia-Israel

Romi Zarman - detikNews
Manuver Sayap Kiri dan Hubungan Indonesia-Israel Yahya Cholil Staquf di Israel (Foto: Facebook Truman Institute)
Jakarta - Tidak diketahui kapan tanggal pasti dimulainya pembukaan visa wisata ke Indonesia untuk WN Israel itu, namun sebuah badan bernama Israel-Indonesia Agency diketahui telah berdiri di Tel Aviv sejak akhir April 2018.

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk mendongkrak perekonomian dalam negeri, salah satunya dengan cara meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing. Tingginya minat di kalangan WN Israel yang hendak berwisata di Indonesia dilihat sebagai potensi pasar yang menjanjikan.

Suatu percobaan terkesan dimulai sejak akhir April dengan ditandai berdirinya Israel-Indonesia Agency, namun beberapa hari kemudian informasi itu bocor ke media sayap kiri Israel, Hareetz. The Hareetz menginformasikannya pada 3 Mei dengan judul Indonesia, largest muslim country, to issue tourism visas to Israel.

Sebagai orang yang menggeluti topik riset Indonesian Jewish history saya jelas terhubung dengan sebagian keturunan Yahudi Indonesia, dan link berita Hareetz itu segera saya bagikan. Sebuah respons mengejutkan saya terima dari salah seorang keturunan Yahudi Indonesia. Tidak ada yang baru dalam laporan Hareetz itu. Bahkan, ujarnya pada saya, dalam suatu perjalanan menuju Tel Aviv dirinya pernah bertemu dengan rombongan tur Israel yang barusan melakukan perjalanan lima minggu ke sejumlah tempat di Indonesia.

Apa yang diinformasikan kepada saya itu mengindikasikan bahwa Hareetz sebagai media sayap kiri sedang mengarahkan anak panahnya pada Pemerintah Benjamin Netanyahu dengan berupaya menggoyang kemajuan hubungan luar negeri dengan Indonesia yang selama ini berlangsung diam-diam di bawah permukaan. Suatu prestasi yang membanggakan bagi Pemerintah Netanyahu di mana warga negaranya dapat berwisata di sebuah negara (Indonesia) yang tidak punya hubungan diplomatik dengannya sama sekali.

Manuver sayap kiri Israel itu akhirnya memang terbukti menggoyang kemajuan hubungan yang telah dicapai sebelumnya oleh Pemerintah Netanyahu. Dua minggu setelah manuver Hareetz itu, melalui media berbahasa Ibrani Yedioth Ahromoth diketahui bahwa Indonesia akhirnya membatalkan pemberian visa turis dan melarang WN Israel memasuki wilayah Indonesia. Manuver media sayap kiri itu menimbulkan kegelisahan bagi Pemerintah Indonesia mengingat secara politis dinilai telah menguntungkan kubu oposisi dalam negeri Indonesia.

Pernyataan pembatalan visa bagi WN Israel itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon, dan disiarkan oleh media berbahasa Ibrani itu. Pemerintah Netanyahu mencoba untuk mengajak kembali ke meja kerja sama, namun Indonesia lebih memfokuskan perhatian ke dalam negeri pada suara-suara protes yang mulai berdatangan akibat pembocoran informasi oleh Hareetz itu. Sebanyak 53 WN Israel yang permohonan visanya ditolak Pemerintah Indonesia, sebagaimana diakui Menkumhan (Kompas, 1/6/18), tampaknya diajukan pasca pemberitaan The Hareetz.

Seorang keturunan Yahudi Indonesia lainnya sedang berkunjung ke Singapura pada 4 Juni, dan menginformasikan bagaimana pandangan orang Yahudi di Singapura mengenai pembatalan pemberian visa oleh Indonesia itu. Gonjang-ganjing di kalangan Yahudi di Singapura menyatakan bahwa informasi yang dibocorkan Hareetz telah menempatkan Indonesia seperti berada di atas tungku api. Tidak mengherankan mengapa kemudian Indonesia mencari alasan yang tepat untuk keluar dari kerja sama yang telah disepakati sebelumnya.

Suatu aksi protes oleh Palestina atas pemindahan kantor kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem dilakukan pada 14 Mei 2018. Korban jiwa berjatuhan dari pihak demonstran akibat tindakan di luar batas yang dilakukan oleh petugas keamanan Israel. Semua mata di dunia mengarah ke Israel sebagai tertuduh utama, dan menurut kalangan Yahudi di Singapura kondisi itu dijadikan sebagai alasan yang tepat oleh Indonesia untuk menarik diri dari kerja sama. Melalui Yedioth Ahromoth, sebagaimana sudah disebutkan di atas, kita dapati informasi bahwa Indonesia akhirnya memang membatalkan pemberian visa bagi WN Israel.

Berat bagi Pemerintah Netanyahu menghadapi manuver sayap kiri yang berdampak buruk pada hubungannya dengan Indonesia yang sebelumnya telah mulai menampakkan kemajuan. Dalam politik internasional, khususnya di negara-negara Muslim, keputusan Indonesia yang membatalkan pemberian visa itu sebagai bentuk protes keras atas tindakan di luar batas Israel yang telah menimbulkan jatuhnya korban jiwa di pihak Palestina terkesan makin menunjukkan komitmen Indonesia sebagai sahabat baik Palestina. Laporan Middle East Monitor terbitan 23 Mei yang berjudul “Indonesia cancels visas for Israelis following Gaza massacre” menunjukkan ke arah itu.

Netanyahu kemudian menyelamatkan harga diri pemerintahannya di mata dunia dengan melakukan aksi balasan berupa larangan berwisata ke Israel bagi WN Indonesia yang akan diberlakukan terhitung dari 9 Juni. Namun, Pemerintah Netanyahu sangat berhati-hati agar keadaan tidak semakin memburuk. Netanyahu pastilah beroleh laporan dari Kedutaan Israel yang ada di Singapura bahwa Pemerintah Indonesia di dalam negeri sedang tersudut pasca pengumuman larangan oleh Israel itu.

Logika umum yang beredar di kalangan bawah yang menyudutkan Pemerintah Indonesia itu adalah tidak mungkin Israel melarang WN Indonesia memasuki wilayahnya jika tidak ada kerja sama sebelumnya dengan pemerintah Indonesia. Kemenkumham kemudian disibukkan untuk menangkis serangan-serangan pertanyaan dari kalangan jurnalis.

Rencana kepergian Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Jerusalem dalam rangka menghadiri Forum Global AJC pada minggu pertama Juni telah mendorong suara-suara protes itu semakin besar dan membulat. Israel menyadari kondisi ini, dan berpandangan tidak mungkin pemulihan kerja sama akan terjadi dalam minggu kedua atau ketiga Juni, dan oleh karena itu Pemerintah Netanyahu kemudian mengundur masa larangannya yang semula akan diberlakukan 9 Juni menjadi 27 Juni. Media-media berbahasa Indonesia segera menyiarkan pengunduran masa larangan bagi WN Indonesia itu.

Yahya Cholil Staquf akhirnya hadir di Forum Global AJC, dan di luar dugaan nyatanya ia tidak menyerukan sama sekali perdamaian Israel-Palestina. Para penentang Yahya segera bersorak dalam minggu kedua Juni itu dengan melancarkan kritik bertubi-tubi. Nahdatul Ulama (NU) melihat dengan jelas bagaimana serangan itu berlangsung pada kiainya, dan segera membangun benteng pertahanan di mana akhirnya seruan perdamaian itu secara eksplisit disampaikan Yahya pada akhir minggu kedua Juni dalam suatu kuliah umumnya di Truman Institute, Hebrew University.

NU kemudian bergerak menyebarluaskan isi pidato itu, baik melalui pemberitaan media massa cetak maupun online, serta media sosial, dan hasilnya seperti sudah dapat ditebak bahwa suara-suara protes yang sebelumnya tertuju pada pemerintah kini teralihkan ke kubu Yahya Staquf. Angin pemulihan hubungan kerja sama antara Indonesia dan Israel mulai terembus pada level ini. Pemerintah mulai keluar dari tekanan dalam negeri dan Israel membacanya dengan baik.

Puncaknya, pada 27 Juni 2018, melalui pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon di Time of Israel diketahui bahwa hubungan antara Indonesia dan Israel telah kembali membaik. "Visa restrictions on Indonesian tourism to Israel were lifted, in parallel to lifting of restrictions by Indonesia on Israeli tourists. Good news.

Romi Zarman penulis buku Di Bawah Kuasa Antisemitisme: Orang Yahudi di Hindia Belanda 1861-1942 (Tjatatan Ind, 2018).


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed