DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 17 Juli 2018, 13:29 WIB

Kolom

Multikulturalisme dan Mentalitas Jawara

Iding Rosyidin - detikNews
Multikulturalisme dan Mentalitas Jawara Foto: Philippe Wojazer/Reuters
Jakarta - Tim Nasional (Timnas) Prancis akhirnya tampil sebagai juara di perhelatan terakbar dalam dunia sepakbola, Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim yang berjuluk Les Bleus itu di babak final mampu mengalahkan tim yang sebenarnya diunggulkan banyak kalangan, yakni Kroasia dengan skor meyakinkan 4-2.

Skuad yang diasuh oleh Didier Deschamp itu mampu mengulang kembali kejayaan tim yang juga berjuluk Ayam Jantan itu saat piala dunia digelar di kampung halamannya sendiri pada 1998. Ketika itu, sang pelatih menjadi kapten tim dengan bintang utamanya Zineddine Zidane yang mengalahkan tim kuat Brasil di partai puncak.

Apa pun penilaian yang diberikan sejumlah pengamat sepakbola mengenai penampilan Timnas Prancis, terutama tentang kelemahan-kelemahannya, mereka kini telah ditahbiskan menjadi juara dunia yang kedua kalinya. Tropi Piala Dunia pun dibawa ke negeri anggur setelah sekian lama diimpi-impikan.

Tim Multikultur

Di luar persoalan teknis dan skill permainan sepakbola, ada hal yang menarik dianalisis dari Timnas Prancis. Tim ini boleh dikatakan tim sepakbola yang paling beragam dari sisi latar belakang etnis, bahkan agama setiap pemainnya. Beberapa pemain merepresentasikan asal-usul keturunan keluarga mereka sebagai imigran di Prancis.

Komposisi Timnas Prancis yang multikultur tersebut sudah terjadi sejak zaman dulu. Pada 1998 ketika Leu Bleus pertama kalinya menyabet gelar juara dunia, skuad Prancis pun dipenuhi oleh pemain-pemain keturunan para imigran. Zidane, sang bintang, seperti kita ketahui memiliki darah keturunan Al-Jazair. Lilian Thuram dan Marcel Desaily juga merupakan pemain keturunan imigran.

Di Tim 2018 sederet pemain Prancis yang bukan merupakan keturunan asli sangat dominan. Mulai dari Paul Pogba, N'Golo Kante, Samuel Umtiti, Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan lain-lain. Merekalah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung kekuatan Timnas Prancis sehingga mampu tampil sebagai jawara tahun ini.

Mungkin karena keberagaman asal-usul para pemainlah, Timnas Prancis menjelma menjadi kekuatan yang sulit ditaklukkan. Ketika orang-orang yang berasal dari keturunan yang berbeda-beda itu dipersatukan dalam satu ikatan kebangsaan (Prancis), maka kekuatan yang lahir dari mereka sangatlah kuat. Mereka hanya berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi mengangkat dan menjunjung tinggi negerinya.

Ungkapan Zidane yang terkenal saat membawa rekan-rekannya untuk menjadi juara dunia untuk pertama kalinya, seperti dilansir theconversation.com (13/7/18), "Ini bukan tentang agama, warna kulitmu, kami tidak peduli tentang itu, kita hanya bersatu dan menikmati momen." Ungkapan Zidane tersebut sangat tepat untuk menggambarkan situasi Timnas Prancis.

Inilah sebenarnya pengejawantahan paling nyata dari konsep multikulturalisme yang kerap digaungkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski asal para pemain berbeda-beda, mereka tetap merupakan satu kesatuan tim yang utuh dan solid, sehingga sulit diceraiberaikan. Kalau di Indonesia kita mengenal Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu jua, maka di Prancis semboyan itu diwujudkan dalam sepakbola.

Menolak Diskriminasi

Multikulturalisme di dalam dunia sepakbola tampaknya juga terepresentasikan dalam kehidupan masyarakat Prancis secara umum. Mereka dikenal sebagai masyarakat toleran dan terbuka terhadap para pendatang. Tidak heran kalau banyak imigran di negeri yang kini dipimpin oleh Presiden Emmanuel Macron yang masih berusia cukup muda itu.

Dengan sikapnya tersebut, masyarakat Prancis jelas menolak adanya diskriminasi terhadap penduduk, dari mana pun asal-usul keturunan mereka. Itulah kenapa, partai ultra kanan yang dipimpin Marine Le Pen dan dikenal sangat anti-imigran sulit diterima oleh mayoritas rakyat Prancis. Karena itu, di setiap pemilu mereka tidak pernah menang.

Apa yang diperlihatkan oleh Timnas Prancis dan juga masyarakatnya secara keseluruhan merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi dunia bahwa kecenderungan multikulturalisme itu merupakan sesuatu yang bukan hanya patut diterima, melainkan harus diwujudnyatakan oleh semua orang.

Dengan keberagamannya itu, mentalitas juara Timnas Prancis ternyata sangat kuat dan teruji. Selain secara tim, pada level individu pun, bahkan yang masih muda, mentalitas mereka sungguh luar biasa. Lihatlah Kylian Mbappe yang baru berusia kurang lebih 18 tahun yang tampil penuh percaya diri. Ia pun berhasil menjadi pencetak gol termuda dalam final piala dunia, sebuah prestasi yang didukung oleh mentalitas juara yang kokoh.

Bagi kita di Indonesia, apa yang telah ditorehkan Timnas Prancis menjadi inspirasi yang sangat penting, bukan hanya bagi dunia olahraga khususnya sepakbola, melainkan bagi kehidupan masyarakat negeri ini secara keseluruhan. Dengan penduduk yang sangat multi ini, bagi dari sisi ras, etnis, suku, agama, bahasa, dan sebagainya, Indonesia tentu paling tepat untuk mengambil pelajaran dari Timnas Prancis. Bahwa, masyarakat yang multikultur itu alih-alih menjadi perusak, bisa menjadi kekuatan yang dahsyat jika dikelola dengan baik.

Sebaliknya, kalau disalahurusi, dijejali oleh virus kebencian antarsatu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya, jelas hal itu akan menjadi kekuatan yang merusak. Oleh karena itu, ada baiknya kita semua, terutama para elite republik ini, untuk tetap saling menghormati dan menghargai perbedaan, dari segi apa pun. Carilah persamaan atau titik temu dari setiap perbedaan tersebut, dan kemudian diikat dalam suatu semangat kebersamaan sehingga akan berubah menjadi kekuatan yang sulit dilawan oleh bangsa dan negara mana pun.

Kalau kita sebagai bangsa selalu merawat dan menjaga keberagaman di tengah-tengah kehidupan, baik sosial terutama politik, mentalitas kita sebagai bangsa juara atau pemenang akan semakin kuat.

Iding Rosyidin Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan penggila sepakbola


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed