DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 17 Juli 2018, 11:20 WIB

Catatan Agus Pambagio

Saatnya Label dan Promosi SKM Diatur

Agus Pambagio - detikNews
Saatnya Label dan Promosi SKM Diatur Agus Pambagio (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sejak pertama tulisan saya tentang susu kental manis (SKM) muncul di kolom ini kurang lebih setahun yang lalu (22 Juli 2017), ternyata banyak mendapatkan tanggapan dari publik. Padahal isu SKM bukan isu baru di Indonesia tetapi sebuah isu lama yang sudah puluhan tahun muncul. Isu ini saya tulis setelah menyaksikan sebuah iklan merek SKM terkenal di televisi yang sangat menyesatkan. Dimana SKM diseduh dengan air menggunakan cangkir dan diminum sekeluarga termasuk anak-anak layaknya susu, dan dikatakan bahwa SKM merupakan sumber gizi yang menyehatkan.

Rupanya tulisan tersebut banyak dibahas di media sosial dan media mainstream oleh publik, dan lalu muncul beberapa tanggapan komentar dari para ahli gizi, dokter anak, ahli etika pariwara, Kementerian Kesehatan, dan Badan POM dan juga para politisi di DPR termasuk Ketua DPR Bambang Soesatyo. Pada umumnya mereka setuju kalau label dan iklan atau promosi SKM diatur, bahkan Ketua DPR lebih ekstrem lagi karena dia menyatakan bahwa produk SKM harus ditarik dari peredaran karena mengandung banyak gula.

Dari sisi pengawasan, rupanya persoalan promosi SKM di berbagai media menjadi perhatian Badan POM. Begitu pula dengan label pada kemasan SKM. Setelah melalui beberapa forum diskusi dengan multi stakeholders, termasuk Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, asosiasi industri, konsumen, ahli periklanan, ahli kebijakan publik, YLKI dan konsumen; Badan POM mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. HK.06.5.51.511.05.18/2000 Tahun 2018 Tentang Label dan Iklan Pada Produk Susu Kental dan Analognya pada 22 Mei 2018. Dengan keluarnya SE BPOM ini, produsen/importir/distributor SKM dan analognya harus menyesuaikan paling lambat 6 bulan sejak ditetapkan, atau 22 November 2018.

Sekali lagi tujuan saya menulis artikel yang lalu maupun yang ini adalah supaya pemerintah mengatur label dan iklan SKM dengan ketat, bukan melarang diproduksi atau diperjualbelikan karena SKM aman, hanya tidak tepat untuk pertumbuhan anak jika dikonsumsi layaknya susu karena SKM bukan susu tetapi larutan gula rasa susu.

Sanksi Tegas

Saya sebagai pegiat kebijakan publik tentu secara pribadi sangat mengapresiasi langkah Badan POM untuk mengeluarkan SE tentang Label dan Iklan Produk Susu Kental dan Analognya. Lalu, supaya punya kekuatan hukum untuk memberikan sanksi tegas, saya berharap Badan POM dapat menyelesaikan Peraturan Kepala (Perka) Badan POM tentang Label Pangan Olahan. Semoga paling lambat September 2018, Perka ini sudah selesai dan dapat diberlakukan supaya tidak ada lagi label maupun iklan SKM yang menyesatkan publik.

Sebagai bangsa yang besar tentunya Indonesia harus punya peran besar di dunia. Kita semua berharap bahwa anak-anak Indonesia kelak akan banyak yang menjadi pemimpin dunia atau pemimpin yang mempunyai pengaruh dan kecerdasan kelas dunia. Untuk itu tugas kita sekarang mempersiapkan mereka dengan serius. Jangan paksa mereka mengkonsumsi makanan/minuman yang tidak bergizi dan berisiko buruk pada masa depan kesehatan mereka. Contohnya, jangan berikan anak-anak kita makanan/minuman yang berkadar gula, garam dan lemak (GGL) tinggi karena itu merusak masa depan mereka. Beri mereka makanan yang bergizi tinggi.

Banyak penelitian mengatakan bahwa susu (tidak termasuk SKM) merupakan salah satu sumber nutrisi yang paling lengkap untuk pertumbuhan anak. Baik susu ibu (ASI), susu sapi, dan susu pasteurisasi wajib menjadi asupan nutrisi sejak anak dilahirkan hingga masa pertumbuhan dan remaja. Jika sejak balita asupan ASI dan susu lanjutannya baik, maka anak-anak Indonesia akan tumbuh sehat dan tingkat kecerdasannya tinggi, begitu kata ahli gizi maupun kesehatan anak.

Dalam SE BPOM tentang Label dan Iklan Pada Produk Susu Kental dan Analognya, dinyatakan bahwa label dan iklan pada produk susu kental dan analognya agar memperhatikan beberapa hal. Yakni, (1) Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 (lima) tahun dalam bentuk apapun. (2) Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental dan analognya disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain susu sapi/susu yang dipasteurisasi/susu yang disteilisasi/susu formula/susu pertumbuhan. (3) Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. (4) Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak

Semoga keberadaan SE BPOM ini dapat membuat produsen SKM melaksanakan 4 hal di atas. Label dan iklan SKM harus diatur dengan ketat supaya tidak ada lagi label dan iklan SKM yang menyesatkan konsumen, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, yang percaya bahwa SKM bergizi sama seperti susu formula namun dengan harga jauh lebih murah. Akibat buruknya label dan iklan SKM, masyarakat percaya bahwa SKM tidak saja menjadi makanan tambahan bayi tetapi juga makanan pengganti ASI.

Dengan berbagai upaya, kalangan produsen SKM maupun asosiasinya saat pertemuan terakhir minggu lalu di Badan POM masih mencoba untuk menawar banyak ketentuan dalam Rancangan Perka BPOM tentang Label Pangan Olahan. Alasan mereka menawar karena SKM itu susu, dan kalau dibatasi dengan berbagai larangan dan peringatan akan mengurangi daya kreativitas produsen untuk berpromosi dan sebagainya.

Langkah Pemerintah

Segera sahkan Perka Badan POM tentang Label Pangan Olahan, dan di salah satu pasalnya harus ada yang mengatur label peringatan bahwa SKM hanya digunakan sebagai pelengkap atau topping pangan, bukan sebagai pengganti ASI dan tidak cocok untuk bayi seperti yang tertulis di Pasal 57 (Rancangan Perka BPOM versi 9 Juli 2018).

Selain itu di Perka BPOM label pangan olahan juga harus mencantumkan 1 (satu) pasal yang menyatakan bahwa produsen wajib mencantumkan pada label bahwa produk mereka itu susu atau krimer kental manis (KKM). Ini penting karena kandungan KKM berbeda dengan SKM, meskipun sama-sama berbentuk cairan dan labelnya mirip. Pastikan juga ada pasal yang mengatur bahwa SKM atau KKM tidak boleh meletakkan gambar susu atau sapi atau kambing atau hewan lain karena mayoritas kandungan keduanya gula bukan susu hewani.

Terkait dengan tata cara promosi atau iklan, pemerintah harus tegas pada produsen SKM supaya mereka mau menerapkan peraturan yang sama dengan peraturan yang mereka taati di negara asalnya. Kalau di negara asal mereka sudah tidak beriklan, ya jangan beriklan di Indonesia. Harusnya kebijakan mereka berlaku global, tidak pilih-pilih. Saat ini ada produsen SKM yang taat pada kebijakan global perusahaannya, sehingga di Indonesia mereka tidak lagi beriklan.

Sebagai penutup, Badan POM harus segera tetapkan Perka Badan POM tentang Label Pangan Olahan sebelum Peraturan Pemerintah (PP) tentang Label dan Iklan Pangan serta Revisi PP Keamanan Pangan disahkan oleh Kementerian Kesehatan, supaya implementasi Perka Badan POM tentang Label Pangan Olahan bisa langsung dilaksanakan ketika 2 (dua) PP yang di usung Kementerian Kesehatan disahkan.

Agus Pambagio pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed