DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 12 Juli 2018, 16:12 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Irak Melawan Ekstremisme

Zuhairi Misrawi - detikNews
Irak Melawan Ekstremisme Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setelah dinyatakan merdeka dari ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) pada 2017, Irak terus berbenah untuk bangkit dari keterpurukan. Salah satunya yang paling menjadi perhatian adalah nalar ekstremis yang tidak mudah ditumbangkan. Tentara ISIS dan jaringannya dengan mudah diluluhlantahkan dengan persenjataan supercanggih dari negara-negara adidaya, tetapi nalar kaum ekstremis tidaklah mudah ditaklukkan.

Faktanya, jaringan ISIS masih terus melakukan rekrutmen, bahkan aksi bom bunuh diri di seantero dunia. ISIS tidak benar-benar mati. Bahkan ideologi ISIS terus mengembara ke mana-mana.

Di Irak, nalar kaum ekstremis tumbuh subur bersamaan dengan matinya harapan perihal keadilan dan kesetaraan. Korupsi politik telah membangkitkan glorifikasi terhadap masa lalu, karena masa kini tak kunjung memberikan jalan bagi kemakmuran. Alih-alih demokrasi menjamin keadilan sosial dan kesetaraan, justru yang terjadi adalah sektarianisme dan korupsi.

Maka dari itu, apa yang dihadapi Irak saat ini tidak mudah. Perlu upaya kultural yang serius untuk menggemakan kembali moderasi dan toleransi dalam rangka merajut kembali kebersamaan. Irak membutuhkan persatuan dan solidaritas di antara sesama.

Mosul merupakan kota terbesar kedua setelah Baghdad yang berhasil dicaplok oleh ISIS sejak 2014 hingga 2017. Mosul yang dulunya menjadi kota metropolitan, kini berubah menjadi kota mati yang dalam setahun terakhir sedang bangkit dari kegelapan.

Samir Said menyalakan lilin harapan bagi Mosul. Ia menjadikan radio sebagai medium untuk menyuarakan kembali perihal pentingnya toleransi dan harmoni di antara sesama warga. Said menggelar dialog setiap hari di Radio ONE FM dengan nama program Abou Taxi.

Nama program Abou Taxi bukan tanpa alasan. Di tengah situasi krisis ekonomi dan fragmentasi sosial, diperlukan gerakan masyarakat sipil yang dapat membangkitkan solidaritas sosial dalam rangka mengingatkan kembali pentingnya memperkuat persatuan dan kesatuan bagi negara-bangsa dengan peradaban masa yang adiluhung. Di Mosul ini, jejak peradaban manusia di masa lalu terekam dengan baik. Di antaranya sudah luluh-lantah di bawah kekuasaan ISIS.

Sejak Mosul berhasil direbut dari kendali ISIS, satu-satunya pekerjaan yang digandrungi oleh para remaja, guru, insinyur, dan lainnya yaitu menjadi sopir taksi. Mereka tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan lain, karena situasinya masih belum kembali normal.

Maka dari itu, Samir Said membuat program dialog Abou Taxi di Radio ONE FM untuk menyapa para sopir taksi sembari membangkitkan gairah pentingnya toleransi di antara sesama. Setiap sopir taksi dapat menyampaikan pendapatnya, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Tidak hanya itu, para sopir taksi dapat mengisahkan kembali kebiadaban ISIS selama mencaplok Mosul. Yang dilakukan ISIS tidak lain hanya merusak dan menghancurkan Mosul. Faktanya, saat ISIS menguasai kota Mosul, yang terjadi adalah pembunuhan, kekerasan, intimidasi, dan pengrusakan.

Ketika ISIS menguasai Mosul, mereka berusaha menguasai media massa, termasuk radio. ISIS menangkap para jurnalis, di antara mereka dibunuh. ISIS sadar betul bahwa propaganda melalui radio dan media massa yang lain sangat penting. Karenanya, paham ISIS dengan mudah tersebar luas ke seantero Mosul.

Kini situasinya sudah berubah. ISIS tidak lagi menguasai Mosul. Saatnya memutar kembali pendulum untuk membangun kesadaran perihal pentingnya perdamaian dan saling menghormati. Melalu program dialog Abou Taxi, Said mempunyai inisiatif yang sangat penting untuk melawan ekstremisme, yaitu menyebarluaskan kembali mimpi dan harapan bagi warga Mosul.

Yang dibutuhkan Mosul saat ini adalah keadaban dan persatuan. Untuk bangkit dari keterpurukan diperlukan sebuah sikap yang mencerminkan persatuan dan solidaritas. ISIS harus dilawan bersama-sama, bahwa yang mereka lakukan dalam beberapa tahun terakhir tidak boleh terulang kembali. ISIS pada hakikatnya sebuah gerakan ekstremis yang hanya ingin merusak, menghancurkan, dan memecah belah kebersamaan sebuah negara-bangsa. ISIS telah terbukti ingin membangun negara dalam negara.

Menurut Said, di Radio ONE FM warga Mosul bisa bersenda gurau dan melontarkan humor-humor segar, layaknya orang-orang Irak dan orang-orang Arab yang suka dengan humor-humor menggelitik. Mereka sekarang sudah bisa tertawa kembali, dan tertawa adalah kekuatan untuk merajut kembali toleransi. ISIS selama bertahun-tahun telah membunuh citarasa humor, tawa, dan senda gurau.

Alistair Burt (2018) mengisahkan pengalamannya menginjakkan kaki di Mosul setahun setelah bebas dari cengkeraman ISIS. Beberapa infrastruktur yang hancur, seperti jembatan kembali dibangun. Akses terhadap air tersedia kembali. Aparat kepolisian sudah berhasil mengendalikan keamanan di hampir sebagian besar Mosul.

Meskipun demikian, menurut Burt, Mosul masih belum betul-betul bebas dari ISIS. Perlu kewaspadaan dari semua pihak untuk menjaga perbatasan Irak, sehingga tidak mudah diinfiltrasi oleh ISIS. Apalagi masih ada indikasi kuat, beberapa tentara ISIS berbaur dengan warga.

Nasib para pengungsi yang jumlahnya jutaan juga menjadi agenda selanjutnya, sehingga mereka bisa kembali ke rumahnya. Namun, sekali lagi itu tidak mudah karena membutuhkan kepastian bahwa daerah-daerah di Mosul memang betul-betul bebas dari ISIS.

Masyarakat harus mempunyai kesadaran penuh untuk tidak mudah terbius dengan janji-janji palsu ISIS. Sebab itu, melawan ISIS tidak cukup hanya dengan senjata, melainkan juga dengan penanaman pemahaman yang benar terhadap paham keagamaan.

Apa yang dilakukan Samir Said dan kawan-kawannya dengan menyemarakkan dialog-dialog kultural melalui radio telah menjadi salah satu instrumen untuk membangun kesadaran publik tentang pentingnya toleransi. ISIS dan kaum ekstremis lainnya tidak mempunyai tujuan lain, kecuali hanya ingin memecah belah. Karenanya, warga jangan mudah terpapar oleh ideologi kaum ekstremis.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed