DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 11 Juli 2018, 15:02 WIB

Kolom

Indonesia Lebih 'Nyantri' dan Gejala 'Jahili' Milenial

Anwar Kurniawan - detikNews
Indonesia Lebih Nyantri dan Gejala Jahili Milenial Foto: istimewa
Jakarta - Ratusan kaum muda dari berbagi penjuru daerah yang tergabung dalam Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara mengadakan Kopdarnas di Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, 7-8 Juli 2018. Saya yang kebetulan hadir pada acara itu mendapati bahwa AIS Nusantara sedang berupaya untuk digitalisasi dakwah pesantren.

Pendapat itu setidaknya saya lihat dari dua hal. Pertama, konsistensi kontra-narasi ekstremis yang belakangan semakin masif di media sosial. Ya, merebaknya konten-konten keagamaan yang diekspresikan dengan penuh amarah dan caci-maki di media sosial tentunya menggelisahkan kita semua yang masih bisa berpikir waras.

Betapa tidak, alih-alih mendakwahkan Islam rahmatan lil'alamin, akun-akun fiktif dan/atau media yang terorganisasi dengan kelompok garis keras justru menciptakan suasana kontraproduktif. Ironinya yang demikian itu seringkali mengataskaman Tuhan dengan sumbu "memperjuangkan agama".

Dalam rangka itu kehadiran semangat dakwah pesantren melalui para santri yang telah teruji komitmen keislaman dan keindonesiaannya menjadi niscaya dan mendesak. Semangat dakwah yang demikian itulah yang pernah diteladankan para ulama kenamaan seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, A. Hassan, Ahmad Soorkati dan para pejuang serta pendiri bangsa lainnya yang diselimuti nilai-nilai Islam di satu pihak, serta kesadaran tentang kebangsaan Indonesia yang majemuk pada pihak lain.

Kedua, berpijak pada tradisi, memberdayakan modernisasi. Derasnya arus globalisasi memang kejam. Dalam arti, mereka yang tidak segera "move on" sangat berpotensi tenggelam dari peradaban. Bahkan acapkali modernisasi menisbikan segala hal yang berbau tradisi dengan menancapkan stigma kuno.

Sementara dalam konteks dakwah, realitas modernisasi barangkali tampil dalam sedikitnya dua ironi. Kalau tidak menolaknya dengan narasi bikinan Barat atau "kafir", ya melabeli tradisi masa lalu --yang sejatinya baik-baik saja-- dengan pem-bid'ah-an sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka saya kira, barangkali ada benarnya ketika Toshihiko Izutsu dalam Ethico-Religious Concepts memaparkan bahwa jahiliah memang tidak bisa dimusnahkan dalam semalam dan akan menjadi ancaman laten serta siap untuk menyala secara destruktif setiap saat.

Jahiliah ini, menurut Izutsu, kendati memiliki akar kata J-H-L yang dalam perbendaharaan bahasa Arab kerap dimaknai dan memiliki beberapa konotasi "kebodohan", tetapi arti utamanya adalah "sifat lekas marah": keangkuhan, keberlebihan, dan di atas semua itu adalah kecenderungan kronis kepada aksi kekerasan dan pembalasan dendam. Dalam pengertian ini barangkali bisa dimengerti mengapa Abu al-Hakam yang paling ambisius, tidak hanya menolak dakwah Muhammad pada masa Islam awal, akan tetapi juga memerangi secara arogan dengan gairah buta, kalap, dan bahkan sembrono.

Karena itu, lanjutnya, Alquran mengajak kaum Muslim untuk berperilaku hilm --kebajikan Arab tradisional. Laki-laki dan perempuan hilm adalah orang-orang yang menahan diri, sabar, dan pemaaf. Mereka bisa mengendalikan kemarahan dan tetap tenang dalam situasi yang amat sulit sekalipun.

Memang, perjuangan panjang para santri dalam mempromosikan moderasi Islam di tengah pluralitas budaya dan etnik, bagaimanapun terbukti membuahkan Indonesia yang damai. Kendati dalam beberapa aspek, eksistensi dan peranannya bagi pergumulan Indonesia modern terkadang masih terasa "marjinal". Pasalnya, santri yang sehari-hari bergelut dengan berbagai literatur-literatur babon keagamaan musti berhadapan dengan situasi produk masa kini yang serba instan.

Diakui maupun tidak diakui, kecenderungan terhadap yang instan itu senyatanya juga berlaku dalam hal keagamaan. Islam utamanya. Sementara, santri yang menimba ilmu saja tidak cukup setahun-dua tahun, dari satu pesantren ke pesantren yang lain, eksistensinya kini justru dimentahkan begitu saja oleh para ustaz yang dibesarkan oleh teknologi sementara keilmuannya masih abstrak. Meski tidak semuanya begitu, tapi yang masih abstrak itu alih-alih meneduhkan, yang ada malah mengumbar kebencian atau minimal teriak-teriak halal-haram, sesat, kafir, boleh-tidak. Kan ruwet!

Maka, jika kini masih ada yang mengumbar wajah dakwah dengan make-up recehan dan malah menyeramkan, patut kita duga bahwa --menyadur Izutsu-- gejala-gejala jahili sedang memperlihatkan eksistensinya dalam bentuk milenial. Ini tentu tidak bisa dibiarkan. Karena akan memperburuk citra Islam yang seharusnya dipahami sebagai sumber kebajikan yang mendamaikan: memperhatikan yang lemah dan kurang beruntung, membebaskan budak, saling mengingatkan kepada kesabaran, berkasih sayang, serta memberi makan orang miskin.

Pendek kata, para santri hari ini semestinya tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton, apalagi larut dalam rasa cemburu menghadapi dialektika sosial, politik, budaya, dan ekonomi Indonesia. Artinya, para santri harus menguasai segala lini. Sebab, mengutip Prof. Kamaruddin Amin (2015), Islam Indonesia kontemporer yang demokratis, progresif, moderat, toleran, inklusif, dan apresiatif terhadap diversitas budaya dan agama tidak bisa dilepaskan dari kontribusi fundamental para santri.

Akhirnya, melalui "Indonesia lebih nyantri" sebagai tema utama Kopdarnas AIS Nusantara tersebut, diharapkan para santri dapat menularkan khazanah keilmuannya kepada publik dengan menatap modernisasi lebih optimis tanpa harus meninggalkan tradisi masa lalu yang baik-baik. Keberimbangan itulah yang dalam kaidah ushul fiqh seringkali disebut dengan al-Muhafadzatu ala al-qadim as-shalih wal akhdu bil jadid al-ashlah.

Lebih jauh, watak seorang santri yang inklusif serta menjunjung tinggi budi pekerti (akhlaq al-karimah) kepada para tetua dan mengayomi yang lebih muda juga tak kalah penting untuk dilestarikan dalam konteks kampanye kebangsaan dan perdamaian di tengah realitas majemuk.

Demikianlah semestinya kaum Muslim yang harus bersikap lembut, sopan, dan santun. Mereka adalah orang-orang pendamai, bukan pencerai berai. Sebab, setiap masyarakat yang terpecah akan hancur karena ia bergerak melawan watak alamiahnya sendiri.

Anwar Kurniawan alumnus STAI Sunan Pandanaran, aktif di Komunitas Santri Gusdur Jogja


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed