DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 10 Juli 2018, 14:36 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kepalsuan-Kepalsuan yang Menyenangkan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kepalsuan-Kepalsuan yang Menyenangkan Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Saya masih ingat sekali kejadian itu. Saat itu dini hari bulan Ramadan. Cuma saya dan kakak perempuan saya yang dibangunkan oleh Emak untuk makan sahur. Kami berdua sudah SD, sementara adik kami TK pun belum.

Bagi kami yang masih belajar berpuasa, makan sahur terasa sangat berat. Mata lengket, mengunyah makanan ibarat campur mengigau. Sebagai strateginya, Emak selalu berusaha membikinkan menu-menu yang enak untuk ukuran zaman itu. Satu menu favorit yang saya ingat adalah semur telur ayam. Itu sudah istimewa dan lumayan membuat mata kami melek. Daging ayam kadang muncul juga sih, tapi jarang. Waktu itu ayam tidak dapat diakses setiap saat, dan itu terjadi hampir pada siapa pun. (Entah kenapa ada orang yang bilang "penak zamanku".)

Selain semur telur andalan, kadang kami juga mendapat tambahan ransum yang begitu membangkitkan semangat: susu kental manis. Waktu itu, kalau sudah minum susu kental manis, badan mendadak terasa berlipat lebih kuat. Puasa lebih tahan, isi perut terasa awet sekali.

Nah, pagi itu, usai menyikat sepiring nasi lengkap dengan semur telurnya, saya mengambil kaleng susu kental manis di meja. Tinggal sedikit sekali. Saya tuangkanlah semuanya ke dalam gelas, lalu air hangat saya kucurkan. Saya teguk isinya hingga tandas. Badan kemepyar seketika. Rasanya saya sanggup menuntaskan sisa Ramadan tanpa sahur lagi.

Hingga kemudian saya melihat wajah itu. Wajah kakak saya. Dia tampak sedih sambil menjungkir-jungkirkan kaleng susu kental manis yang telah kosong itu. Dia coba lagi, nihil hasilnya. Memelas sekali.

Bapak melihat semuanya. Beliau agak memarahi saya, sembari menggugat kenapa saya menghabiskan sisa susu itu semuanya. Padahal sesedikit apa pun, tetap saja masih bisa dibagi dua. Wajah Bapak suram, wajah kakak saya cemberut.

Lalu kakak saya mengambil satu langkah jitu yang saya yakin dilakukan oleh ratusan ribu orang pada masanya. Dengan gagang sendok, ia membuka lubang kaleng itu sedikit lebih lebar. Air hangat ia kucurkan masuk hingga mengisi dasar kaleng. Segera kaleng kosong itu dia goyang-goyangkan pelan, barangkali sambil mengucapkan doa pengharapan agar sisa-sisa susu kental manis yang masih menempel di bagian dalam dinding kaleng bisa rontok pelan-pelan. Nggojaki, istilah Jawanya.

Setelah prosesi nggojaki selesai, dia tuangkan air dari dalam kaleng. Cuurrr, air yang semula bening ketika masuk, kini mengucur keluar dalam kondisi putih. Bukan, bukan putih kental, melainkan lebih cocok disebut...keruh. Air keruh keputih-putihan itu masuk ke gelas, ditambahi dengan air lagi, dan disempurnakan dengan gula pasir satu sendok penuh.

Kakak saya meneguknya. Pastilah rasa sebal itu masih tersisa untuk saya. Namun, tegukan air pencuci dinding dalam kaleng susu kental manis dicampur sesendok gula pasir itu bagaimana pun menyelamatkan kepercayaan dirinya sampai waktu magrib tiba.

***

Maaf, isu sudah mulai berlalu, tapi saya masih asyik berbicara tentang susu kental manis dan cerita-cerita tentangnya. Tetap pentinglah bagi saya untuk menceritakannya, karena sepertinya isu itu berlalu tanpa meninggalkan jejak pemaknaan yang berarti. Satu-satunya bidang evaluasi hanyalah tentang penertiban pengawasan produk obat dan makanan, perbaikan edukasi publik, dan mungkin ancaman yang lebih tegas kepada produsen yang mencekokkan citra-citra palsu kepada konsumen. Sangat ilmiah sih, tapi juga sangat permukaan.

Di saat yang sama, kita lupa bertanya: ada berapa juta orang di Indonesia yang masa kecilnya dihidupi oleh jenis-jenis semangat seperti yang menghidupi saya dan kakak saya? Saya yakin berjuta-juta jumlahnya. Kami merasa dibesarkan oleh susu kental manis, karena waktu itu susu bubuk merupakan kemewahan duniawi yang jauh dari dompet orangtua kami. Kami bisa merasakan sensasi bahwa kami sehat, bertenaga, bersemangat, lebih percaya diri dalam menjalani proses pertumbuhan badan dan otak kanak-kanak kami, ya bersama susu kental manis!

Hari ini kita mungkin berhasil membongkar kepalsuan itu. Jangan marah dulu, saya tidak bilang bahwa SKM itu palsu. Namun, citra-citra kesehatan yang ditampilkan dalam entah berapa miliar slot iklan di berbagai media selama puluhan itu ternyata palsu, bukan? Nah, apakah pembongkaran kepalsuan citra itu merupakan langkah yang seratus persen berguna? Saya tidak yakin.

Situasi ini mengingatkan saya akan pergulatan batin tokoh Iyah dalam novel Kemarau karya AA Navis. Iyah adalah ibu dari Arni, sedangkan Arni adalah istri Masri. Masri memiliki bapak yang telah puluhan tahun meninggalkannya, yakni Sutan Duano.

Suatu hari, Sutan Duano akhirnya menjumpai Masri kembali. Ia hampir pingsan karena menemukan bahwa mertua Masri adalah Iyah, sedangkan Iyah adalah mantan istri Sutan Duano sendiri. Artinya, masih ada hubungan darah antara suami-istri Masri dan Arni. Itu aib tak tertanggungkan dalam tradisi masyarakat muslim Minang. Sutan Duano pun bertekad membongkar fakta tersebut. Malang, Iyah mencegahnya. Bagi Iyah, ada kebenaran yang layak ditutupi, demi kebaikan yang telah berjalan begitu lama. Bagi Duano, kebenaran adalah kebenaran.

Sutan Duano memang akhirnya menang, namun kegalauan batin Iyah pun manusiawi.

Seperti itu jugalah yang tercecer dari kasus susu kental manis. Coba, ada berapa juta orang yang melongo setelah mendengar berita BPOM membuka fakta bahwa SKM bukanlah susu segar yang dapat diminum harian sebagai sumber kesehatan? Berapa juta orang yang gondok dan kecewa, sembari menggerutu, "Oh, jadi selama ini kau, kau... ah, sialan."

Bagaimana kebenaran persusuan itu mereka tempatkan? Rasa kecewa pasti besar, sebesar perasaan seorang kekasih yang ternyata ditipu mentah-mentah berpuluh-puluh tahun. Namun apakah lantas semangat tinggi yang mereka dapatkan dari susu kental manis selama masa kecil mereka itu tiada begitu saja? Tidak, tidak begitu. Semangat itu pernah sangat nyata adanya, jelas kemunculannya, dan semangat itu pulalah yang secara signifikan turut membentuk hidup mereka!

Pendek kata, susu kental manis bukanlah susu sejati secara epistemologis, namun ia susu sesungguhnya secara aksiologis! Hahaha!

Barangkali Anda geli mendengar celotehan tak berguna ini. Namun ingat, pola semacam itu selalu terjadi pada segenap bidang kehidupan kita. Hidup kita setiap saat selalu dibelit oleh sulur-sulur rumit yang terjalin antara kebenaran dan kepalsuan. Apa yang tampak benar pada hari ini bisa jadi ketahuan palsunya dua puluh tahun lagi. Apa yang tampak palsu di detik ini bukan mustahil ternyata asli pada lima dekade nanti.

Maka, tantangan hidup kita bukanlah untuk benar-benar memahami yang manakah yang paling benar, sebab hal itu membutuhkan kemampuan adimanusia. Tugas kita adalah terus berusaha untuk mendekati yang benar, atau mengambil kebaikan dari serpihan-serpihan realitas yang sekilas tampak benar.

Dalam kehidupan Anda yang sedang asyik-asyiknya menikmati pilihan politik pun rasanya tak beda. Anda boleh saja dengan sangat yakin membela junjungan-junjungan Anda, atau menghujat "musuh-musuh" Anda. Tapi jangan lupa, bisa jadi dalam 30 tahun ke depan akan terpampang di depan mata bahwa keyakinan yang nyaris setara iman di dada Anda itu terbongkar sebagai kepalsuan belaka.

Tidak mengapa. Nikmati saja perjalanan ini.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed