DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Juni 2018, 16:02 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kopdar Lebaran, Ikhtiar Menjadi Manusia

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kopdar Lebaran, Ikhtiar Menjadi Manusia Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seberapa sering dan seberapa dahsyat Anda membangun imajinasi di kepala, tentang siapa pun yang ada di seberang layar telepon genggam Anda? Saya sering. Dan, tentu saja imajinasi saya hebat-hebat.

Pernah ada masanya ketika seorang perempuan aktivis khilafah rajin sekali berkomentar keras dan pedas di dinding Facebook saya. Dalam menanggapi berbagai tulisan pendek saya tentang isu-isu keberagaman, juga kritik-kritik saya atas perilaku umat Islam Indonesia dalam menjunjung religiositasnya, sang aktivis khilafah tersebut nyaris selalu template dalam melontarkan protesnya: "Halah, orang kafir kamu bela teruuus! Saudara-saudara sendiri sesama muslim malah dijelek-jelekiiin!!!"

Kadang saya terpancing emosi saat membacanya. Kadang juga bergidik ngeri. Nih anak galak banget, pasti dia jenis orang yang meledak-ledak dan mustahil diajak bercanda. Begitu batin saya.

Hingga kemudian muncul suatu kesempatan lucu. Ceritanya, ada seorang sahabat, dia perempuan juga, ingin berkunjung ke rumah saya. Kebetulan rute perjalanan dia melalui daerah kediaman Si Mbak Khilafah. Iseng-iseng saya bilang saja, "Eh, mbak yang itu diajak sekalianlah!"

Tanpa saya duga, ternyata dua orang itu benar-benar muncul di depan pintu. Jeng jeeeng! Akhirnya saya berjumpa pula dengan tokoh antagonis yang selama ini meneror dinding Facebook saya!

Lalu apa yang terjadi, Sodara? Apakah lantas Mbak Khilafah duduk dengan wajah dingin, sembari bersiap menggelar debat terbuka dalam soal-soal yang selama ini memang telanjur kerap kami perdebatkan? Atau, dia membuka satu kitab tebal kemudian menyajikan monolog tentang apa yang boleh dan apa yang tak boleh dilakukan seorang muslim, tentu saja tetap dalam derajat keseriusan paripurna yang terpancar istikamah pada sorot matanya?

Sayang sekali, ternyata tidak. Ini bikin kecewa. Mbak Khilafah itu ternyata seorang gadis berhijab yang anggun, manis, dan malu-malu. Dia datang dengan senyum kikuk, wajah sedikit salah tingkah, dan ketika mulai saya ajak bercanda toh ikut ketawa-ketawa juga. Sampai-sampai saya tercenung dan berpikir keras, sebenarnya yang palsu itu akunnya dia, atau orangnya? Haha.

"Bukan. Yang palsu itu segala hal di sekitar kita, sebab semuanya tak lebih dari program semata. Daging yang kugigit ini, misalnya, ia tidak ada. Tapi Matrix mengatakan kepada otakku bahwa ia ada dan lezat tak terkira." Kira-kira demikian jawabannya kalau kita bertanya kepada Neo dalam The Matrix besutan Wachowski Brothers.

Namun, ini bukan film. Bukan juga perkara ideologi. Soal ideologi Si Mbak Khilafah, terserah saja apa yang bisa bikin dia bahagia. Lagi pula, topik ideologi tidak cukup asyik untuk dibicarakan saat Idul Fitri sudah H minus tiga. Saya cuma ingin mengajak sampean semua untuk turut mengakui bahwa kepalsuan-kepalsuan itu bertebaran di sekitar kita, dengan begitu riuhnya.

Bukan, ini bukan jenis kepalsuan yang sama dengan yang disajikan oleh baliho-baliho penyambut 2019. Yang di baliho itu palsunya terlalu telanjang, dan justru membuat kita malas berpikir ulang. Lihat saja. Lelaki berwajah licin yang biasanya brutal dalam permainan politik tiba-tiba di baliho jadi tampak teduh menenteramkan, dengan jidat agak gelap dan baju koko putih berkilat. Yang biasanya di televisi berkata-kata asbun dan kondang serakah soal uang tiba-tiba menawarkan diri sebagai sosok santun, amanah, dan berjanji membawa segenap rakyat menuju masa depan yang terang-benderang.

Bukan yang macam itu. Hiperrealitas yang terjadi dalam dimensi kehidupan media sosial tampaknya tidak sesederhana itu. Benar bahwa aksi-aksi pencitraan dalam kerangka kesengajaan berjalan juga di wilayah ini. Namun, acapkali yang terjadi adalah proses-proses bawah sadar yang menyeret kita untuk menampilkan diri bukan dalam kerangka memoles citra, melainkan dalam format keterusterangan yang melampaui batasan.

Hasilnya, situasi dunia yang sekilas kita anggap maya itu menimbulkan kelengahan yang keterlaluan. Kita seolah lupa bahwa dunia maya digerakkan pula oleh aktor-aktor nyata. Kita seakan tak lagi ingat bahwa akun-akun medsos yang berinteraksi dengan kita juga dioperasikan oleh manusia. Kita mendadak kehilangan kesadaran bahwa selalu ada konsekuensi-konsekuensi sosial konkret di alam nyata, jika kita bersikap dan berkata-kata yang tidak mengikuti kesepakatan norma-norma. Walhasil, kita pun memuntahkan segala hal yang di alam nyata mustahil kita ekspresikan sesuai karakter riil personal kita!

Apakah Anda merasakan pula iklim psikologis seperti itu? Saya sangat merasakannya. Itulah kenapa saya tidak kaget-kaget amat saat melihat kasus-kasus akun yang saat di medsos ganasnya minta ampun, eh ternyata begitu pemiliknya terciduk karena melanggar ini-itu dia mewek-mewek memohon ampun. Oooh, ternyata tampilan orangnya beda dengan akunnya yang gagah perkasa!

Jadi, meskipun di ranah hukum mereka berposisi sebagai tersangka, saya tetap melihat pada hakikatnya mereka hanyalah korban. Korban dari ketidaksadaran-digital yang tak terkontrol, sehingga merabunkan pandangan atas lingkungan dan audiens yang mereka hadapi. Juga korban dari imajinasi atas kekuatan diri yang sayang sekali sebenarnya tidak pernah mereka miliki.

Pada titik yang semakin mengkhawatirkan ini, tidak bisa tidak, kita mesti mengambil jeda. Harus ada time out, harus ada waktu-waktu tuma'ninah. Dari situ kita akan kembali mengingat fakta sederhana: bahwa kaki kita masih menapak di tanah, dan orang-orang yang kita hadapi di media sosial adalah manusia-manusia dengan daging dan darah. Maka, meskipun sekejap, semestinya kita berjuang untuk kembali menjadi manusia.

Lebaran adalah momen yang sangat strategis untuk tujuan-tujuan pemulihan kemanusiaan kita. Spirit Lebaran bukanlah sekadar perayaan hari besar keagamaan, melainkan juga spirit perjumpaan. Pada hari-hari ini jutaan orang menyulap kota-kota besar menjadi kampung-kampung mati, berbondong-bondong mudik, bertempur dengan jalanan, bertaruh dengan nyawa dan keselamatan, semua itu untuk apa? Untuk berjumpa!

Ya, segenap prosesi ini mengusung spirit perjumpaan. Kita adalah sesama manusia, maka kita harus berjumpa. Itulah semangat Lebaran yang nyata.

Jadi, kenapa kita tidak memperluas perjumpaan, sehingga tidak berhenti sekadar di cipika-cipiki dengan ayah ibu bibi dan paman? Ada banyak kesempatan untuk bersama kembali memanusiakan diri. Jumpai orang-orang yang selama ini bertempur tanpa henti dengan Anda hingga saling blokir di Twitter, dalam medan kubu-kubuan yang kian memuakkan. Jumpai juga sepupu jauh yang sering mengacaukan grup Whatsapp keluarga besar dengan tautan-tautan kabar cetar yang akurasinya ada pada level wallahualam. Percayalah, Anda tak lagi hanya akan menemukan akun medsos, tapi Anda akan berjumpa dengan manusia.

Hari ini tanggal 12 Juni 2018. Barangkali Donald Trump dan Kim Jong Un pun menyambut Lebaran dengan salah satu perjumpaan terpenting dalam sejarah peradaban. Mau jadi apa hasilnya? Entahlah. Yang jelas untuk sampean semua saya cuma ingin mengucapkan selamat berlebaran, dan mari menikmati perjumpaan-perjumpaan!

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed