DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Juni 2018, 14:38 WIB

Kolom

Meneruskan Semangat Kewirausahaan Ramadan

Ririn Handayani - detikNews
Meneruskan Semangat Kewirausahaan Ramadan Foto: Teammineko/d'Traveler
Jakarta - Ramadan akan segera berakhir. Banyak hal baik yang perlu kita teruskan meski Ramadan telah pergi. Salah satu yang bersemai baik dan memberi berkah pada banyak orang saat Ramadan adalah berseminya semangat kewirausahaan terutama di kalangan generasi muda dan usaha kecil menengah (UKM), terutama yang digerakkan oleh kaum perempuan.

Momen menyemai benih kewirausahaan adalah momen yang sangat berharga. Pada beberapa orang, memulai bisnis terasa sangat sulit dan menakutkan. Di bulan Ramadan, di mana seakan apa saja laku dijual, tembok besar penghalang itu pun runtuh. Para pedagang dadakan muncul hampir di sepanjang jalan dan titik. Kreativitas menyeruak.

Banyak hal baru yang muncul dan bisa dijual sepanjang bulan Ramadan. Beberapa pedagang meraup keuntungan besar. Omset pedagang khususnya yang bergerak di bidang kuliner dan fashion diperkirakan mengalami lonjakan hingga 200-300 persen. Sedang bagi pedagang baru atau dadakan, meski tidak sefantantis pedagang lama dan besar, kerap juga mendapat keuntungan yang signifikan.

Ramadan sebagai Permulaan

Momen Ramadan tidak hanya membuat pelaku usaha yang sudah memiliki usaha dengan mapan semakin terdongkrak omsetnya, namun juga memberi peluang bagi munculnya usaha baru dan pelaku ekonomi baru yang masih malu-malu. Ibarat naik sepeda, kayuhan pertama sudah dimulai. Langkah selanjutnya semestinya lebih mudah. Ada kontinuitas, bukan bersifat musiman.

Bibit kewirausahaan sudah disemai dan mulai bertunas. Tinggal kita rawat agar terus berkembang dan besar sehingga pelaku usaha yang pada Ramadan tahun ini berstatus sebagai newbie, tahun depan bisa memainkan peran yang lebih besar. Tentu dengan harapan memperoleh omset yang juga lebih besar. Lalu bisa menciptakan lapangan kerja bagi yang lain. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Agar kontinuitas usaha pasca-Ramadan bisa terus berjalan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, menjaga semangat berwirausaha terus menyala. Jangan boleh meredup apalagi sampai padam. Semangat berwirausaha (menciptakan lapangan kerja sendiri) perlu dikobarkan terutama di kalangan generasi muda karena tidak mungkin bergantung sepenuhnya pada pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja. Persaingan semakin ketat sedang lapangan kerja semakin sedikit.

Berwirausaha juga memungkinkan kontribusi masyarakat terhadap kemajuan bangsa semakin besar karena tersentuhnya bidang-bidang yang mungkin tak sepenuhnya bisa dijangkau oleh program pemerintah. Misal terkait dengan pengembangan sektor ekonomi kreatif.

Kedua, perekonomian dan daya beli masyarakat mungkin akan sedikit melandai pasca-Ramadan setelah sebelumnya mengalami kenaikan antara 30-40 persen dari bulan-bulan biasanya. Apalagi bersamaan waktunya dengan tahun ajaran baru sekolah. Pengeluaran konsumsi akan semakin direm. Jangan patah semangat. Sama halnya dengan konsumen, pelaku usaha juga perlu berjeda. Ini momentum untuk me-refresh dan membaca peluang serta menyiapkan langkah-langkah selanjutnya.

'Baca' kembali kebutuhan masyarakat pasca-Ramadan yang sifatnya tidak musiman seperti saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Kemampuan membaca peluang pasar ini merupakan salah satu ciri dan karakteristik seorang pengusaha yang sudah kita mulai saat Ramadan. Hadirnya para pelaku usaha dadakan atau musiman salah satunya karena melihat potensi pasar yang besar seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat terutama terkait dengan kuliner dan fashion.

Ketiga, jika ingin berinovasi, maka berkreasilah menciptakan sesuatu yang baru namun bernilai jual tinggi di masyarakat. Kembangkan kreativitas dan inovasi sebagai tren ekonomi yang saat ini sedang booming, yakni ekonomi kreatif. Tak hanya kuliner dan fashion yang bisa dibidik meski keduanya adalah sektor usaha yang utama. Masih ada yang lain seperti kerajinan, pasar barang seni, desain dan arsitektur, riset dan pengembangan, penerbitan, periklanan, layanan komputer dan peranti lunak, televisi dan radio, musik, video, film, dan fotografi.

Keempat, bergabung dengan komunitas bisnis. Salah satu tren di era milenial sekarang adalah menjamurnya komunitas-komunitas di berbagai bidang termasuk dalam bidang usaha. Komunitas bisa menjadi media yang penting untuk menjaga semangat, berbagi informasi dan ilmu, juga bisa sebagai sarana untuk membuka akses terhadap berbagai keperluan seperti jaringan dan modal. Banyak usaha di masa sekarang yang keberhasilannya sangat bertumpu pada seberapa jauh pelaku usaha memiliki koneksi dan jaringan yang luas.

Kelima, mengoptimalkan perangkat teknologi dan media sosial. Bisnis online kini kian menjamur dan bisa menjadi pilihan yang prospektif. Ini memberi peluang besar bagi pelaku usaha pemula untuk memulai dan mengembangkan usahanya dengan lebih mudah dan murah. Kuncinya memanfaatkan dengan optimal kehadiran perangkat teknologi khususnya internet sebagai media partner yang utama. Internet dan media sosial membuat sebuah usaha tidak lagi terhalang dengan dimensi jarak dan waktu. Lebih efisien dan mobile.

Akhir kata, mari kita teruskan semangat berwirausaha yang telah tersemai saat Ramadan. Mari bercita-cita menjadi pengusaha yang mandiri, dan bisa memberi kontribusi lebih besar bagi masyarakat dan negara.

Ririn Handayani peminat masalah sosial


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed