DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 11 Juni 2018, 10:43 WIB

Kolom Kang Hasan

Belajar untuk Tidak Pasrah

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Belajar untuk Tidak Pasrah Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kata "menanggar" dengan kata dasar "tanggar" adalah kosa kata yang asing bagi orang Indonesia, khususnya yang bukan penutur bahasa Melayu. Tanggar artinya sanggup melakukan sesuatu. Lalu, apa bedanya dengan "sanggup"? Tanggar lebih cenderung bermakna sanggup menahan sesuatu yang tidak disukai, bersikap pasif, tidak berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Misalnya, seseorang yang diam saja saat dipukuli. Dalam bahasa tidak formal kata "menanggar" biasa disingkat menjadi "nanggar".

Bulan lalu selama 3 minggu saya berkunjung ke Tokyo untuk urusan pekerjaan. Selama 3 minggu itu saya menikmati hidup di sebuah kota besar dengan cara yang normal. Tokyo adalah kota raksasa, luasnya 2200 km persegi, berpenduduk sekitar 9 juta jiwa (Jakarta sekitar 700 km persegi, penduduk juga hampir 9 juta jiwa.) Tapi, Tokyo dalam kesehariannya jauh lebih besar dari itu. Wilayah urban Tokyo luasnya 13.500 km persegi, dihuni oleh 38 juta penduduk. Wilayah urban ini mirip dengan Jabodetabek kalau di Jakarta.

Selama 3 minggu itu saya banyak bertemu teman, baik orang Indonesia yang tinggal di Tokyo, maupun orang-orang Jepang. Untuk bertemu itu saya harus bergerak ke berbagai tempat di tengah maupun pinggir kota. Saya baru menyadari bahwa jarak terjauh di dalam kota Tokyo bisa saya tempuh dalam waktu 30-40 menit. Bahkan ke tempat-tempat di pinggir kota seperti Urawa dan Yokohama bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dengan kereta.

Saya merasakan hidup di dunia yang berbeda. Di Indonesia saya setiap hari melakukan perjalanan dari Cikarang ke Jakarta, jaraknya hanya 40 km, saya tempuh dalam waktu rata-rata 2 jam. Kalau sedang apes kena macet parah, jarak itu harus saya tempuh dalam waktu 4 jam. Untuk bergerak dalam jarak 4-5 km di dalam kota Jakarta dalam waktu tertentu kita memerlukan waktu 1 jam lebih. Perjalanan pulang saya dari dekat kawasan SCBD kadang-kadang menghabiskan waktu 1 jam untuk tiba di Jembatan Semanggi.

Kenapa begitu? Kita semua tahu jawabannya: macet. Kenapa macet? Karena, kita tidak punya infrastruktur yang layak. Jakarta adalah kota ajaib, dengan 9 juta penduduk (mungkin mencapai 15 juta di siang hari), tapi minim sarana angkutan massal, yaitu kereta. Mobil menjadi sarana angkutan utama. Luas ruas jalan minim. Karena itu hampir di setiap ruas jalan didera kemacetan parah, hampir sepanjang hari.

Apa yang kita lakukan selama ini? Nanggar. Kita semua bertahan, menerima kenyataan bahwa Jakarta macet parah. Kemacetan sebenarnya sudah dirasakan sejak 20 tahun yang lalu, tapi tidak ada langkah memadai untuk mengatasinya. Kuala Lumpur tetangga kita sudah membangun sistem transportasi massal 22 tahun yang lalu, saat penduduknya masih sekitar 5 juta orang. Pemerintah, baik pusat maupun Pemda DKI mengambil posisi nanggar. Rakyat pun dibiasakan untuk nanggar.

Jalan tol Jakarta-Cikampek sudah padat sejak menjelang tahun 2010. Lewat krisis Lehman, di mana Indonesia terbukti mampu menjaga stabilitas ekonomi, terjadi lonjakan aktivitas industri di wilayah timur Jakarta. Investor berdatangan memborong lahan di kawasan industri, dari Bekasi sampai Purwakarta. Sayangnya, jalan tidak ditambah secara memadai. Akibatnya seperti sekarang. Untuk bergerak dari Cikarang ke Jakarta di siang hingga petang hari diperlukan waktu 3-4 jam. Pemerintah ketika itu nanggar. Pasrah menerima keadaan tanpa berusaha mengubahnya.

Jalan tol kita sampai 2014 mentok, dari Jakarta ke timur sampai Cikampek, di tambah ke selatan sampai Cileunyi. Ke arah selatan mentok di Ciawi, ke barat mentok di Merak. Tahun 1996 saya tinggal di Kuala Lumpur, kawasan semenanjung sudah terhubung oleh lebuh raya, dari Trengganu-Pahang-Kuala Lumpur untuk wilayah timur, dan dari Kedah hingga Singapura di wilayah barat.

Setiap hari berbagai jenis angkutan kita tumpah ruah berdesakan di jalur Pantura, jalan peninggalan kolonial Belanda. Saat mudik Lebaran, ketika penduduk kawasan urban Jakarta serentak bergerak ke kampung masing-masing di Jawa, kemacetan Jakarta dipindah ke jalur Pantura. Kita menyaksikan drama tahunan, macet parah. Untuk sampai ke Semarang dari Jakarta diperlukan waktu 2 hari. Sebuah perjalanan yang tidak masuk akal.

Pernah ada seorang teman yang mencoba membangun "narasi suci" tentang perjalanan mudik itu. Ia menulis tentang beratnya perjalanan mudik dengan mengandaikannya dengan ikan salmon yang harus menerjang arus sungai untuk tiba ke hulu, meletakkan telur di tempat ia lahir. Perjalanan berat menuju kampung halaman itu dianggap perjalanan suci.

Waktu itu saya tanggapi tulisan kawan tadi dengan pernyataan, "Kamu itu manusia, bukan ikan salmon. Kamu bisa membangun infrastruktur, dan manajemen transportasi. Itu tidak bisa dilakukan ikan salmon." Teman saya tadi sedang membangun narasi nanggar, menerima kenyataan, seolah ini adalah takdir alam yang tidak bisa ia ubah.

Kenapa tak membangun infrastruktur? Alasan klisenya, karena tidak ada uang. Pada saat yang sama kita menyaksikan uang dihambur-hamburkan untuk keperluan yang entah apa manfaatnya. Pada suatu masa di zaman pemerintahan Presiden SBY sebuah kementerian menganggarkan kegiatan perjalanan dinas dan rapat-rapat hingga menghabiskan dana dalam skala triliun. Pada masa itu pula kita menyaksikan proyek Hambalang yang dianggarkan dengan dana Rp 2,5 T, lalu mangkrak.

Itu bukan cerita baru. Sejak zaman Soeharto sudah beredar cerita bahwa tingkat kebocoran anggaran proyek mencapai 30%. Demikian pula dengan berbagai kebocoran lain. Belum lagi soal kebocoran yang tidak dianggap bocor, seperti subsidi salah sasaran yang menghabiskan dana entah berapa triliun.

Kita terbiasa nanggar dengan minimnya infrastruktur, dan pada saat yang sama uang kita dihambur-hamburkan.

Untungnya sekarang sedikit berubah. Pemerintah mulai membangun MRT, yang mudah-mudahan bisa dipakai tahun depan. Demikian pula LRT. Jalan tol Jakarta-Cikampek sedang ditambah dengan elevated system. Jalan tol akan segera menghubungkan Pulau Jawa, dari Merak sampai Banyuwangi. Meski sebagian belum resmi dibuka, efek jalan tol itu sudah mulai terasa saat mudik ini. Kita tak lagi menyaksikan drama kemacetan berhari-hari. Tahun depan akan lebih baik, saat semua ruas jalan tol itu sudah terhubung sempurna.

Sumatra juga akan terhubung dengan jalan tol, sehingga Pekanbaru-Padang yang kini ditempuh selama 9 jam, nanti bisa ditempuh selama 3 jam saja. Papua juga kebagian. Di tengah ancaman bahaya separatis OPM, para pionir sedang membangun jalan lintas Papua, yang menghubungkan berbagai kabupaten di Papua dengan jalan raya. Selama ini kota-kota di Papua tidak terhubung satu sama lain.

Perlahan kita diajari untuk tidak nanggar. Kita bisa punya infrastruktur yang lebih baik, dan hidup dengan kualitas yang lebih baik. Kunci pentingnya, kita harus punya pemimpin yang punya visi dan amanah, bukan pemimpin korup yang menyuruh kita nanggar saja.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed