Di masa lalu, peristiwa mudik terkesan sangat heroik dan sentimentil. Mudik, sebagai aktivitas migrasi terbesar manusia dari kota ke desa tidak hanya sesuatu yang berupa gerak tubuh. Lebih dari itu, mudik juga meliputi gerak perasaan, gerak pemerataan sosial ekonomi, dan gerak perekatan berbagai daya dukung sosial bermasyarakat dan berbangsa. Keseluruhan gerak itu, kini mungkin sebagian berkurang secara nuansa, tapi bagaimana pun manusia bukanlah seonggok daging dengan hasrat pemenuhan kebutuhan jasmani semata, melainkan juga meliputi jiwa. Manusia merasakan rindu dan senang untuk menuntaskannya. Ia pun perlu doa dan kasih sayang yang kadang-kadang harus didatangi lewat usapan tangan orangtua di kepala.
Dahulu, orang-orang jarang bertelepon. Aktivitas bersekolah atau bekerja di kota dijalani secara khusyuk dan serius agar hasilnya dapat dijadikan kebanggaan ketika pulang mudik. Kini, setiap hari manusia bertelepon. Anak yang sakit dapat langsung memotret kondisi jasmaninya untuk laporan ke orangtua. Setiap hari seorang anak mengirim video aktivitas bayinya untuk dikirim kepada kakek dan neneknya di kampung. Sebuah keluarga bahkan saling bercakap setiap detik lewat grup Whatsapp keluarga. Mereka saling menyukai dan mengomentari posting-an di Facebook dan Instagram. Orangtua dan anak melakukan panggilan video setiap sore. Teknologi hadir untuk melipat jarak, tapi apakah perjumpaan masih sakral?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mudik adalah juga tentang perekatan daya dukung sosial hidup bermasyarakat. Ketika Salat Id di lapangan desa, seseorang dapat menemukan berbagai fragmen masa kecil lewat teman lawas, penjual jajanan keliling, hingga guru-guru sekolah. Oleh sebab itu, mudik juga identik dengan reuni. Pada reuni lingkaran perkawanan, ada ikatan perkumpulan yang tidak dibentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan politik praktis, atau hasrat akumulasi kapital. Reuni perkawanan TK hingga universitas serupa praktik eskapis tanpa tujuan yang ribet, melainkan ingin sekadar ber-hahahihi bersama.
Tapi begini, beberapa hari lalu, saya mengamati dua tetangga di kampung saya sedang saling sindir dengan tulisan di media sosial. Satu keluarga adalah tipikal keluarga yang semakin tampak Islami dari hari ke hari. Keluarga semacam ini punya ciri khusus di media sosial, seperti menulis sendiri nasihat yang bersumber dari kitab suci dan hadis, atau membagikan tulisan orang lain, membagikan informasi kajian islami, bersolidaritas dengan komunitas islami lain, dan tentu saja gemar mengingatkan warganet yang belum islami lewat seruan yang berupa pengingat maupun ancaman berupa dosa dan neraka.
Lalu, satu keluarga lain tersinggung. Entah apa pasal, keluarga ini merasa terteror dengan aktivitas ceramah media sosial keluarga islami itu. Keluarga lain ini merasa menjadi objek semua nasihat mereka, mulai dari penghasilan dari bekerja di bank yang mereka haramkan, rezeki yang dicap tidak berkah, hingga sederet dosa dan ancaman neraka. Lalu, pembelaan diri di akun masing-masing pun dimulai. Satu keluarga mendaftar ayat-ayat, keluarga lain menghadirkan klaim pembelaan yang tak kalah komprehensif. Tapi, dialektika tetap berjarak sebab keduanya tidak saling berkomunikasi secara langsung. Suara saling bersahutan, tapi bergelombang di akun pribadi dengan masing-masing pendukung.
Manusia di media sosial adalah simulakra yang menampakkan sedikit bagian saja dari entitas kediriannya. Seseorang yang gemar mem-posting nasihat dan aktivitas islami akan punya identitas sebagai manusia islami. Seseorang yang gemar menginformasikan jadwal lembur akan tampak sebagai manusia pekerja keras. Seseorang yang rajin berdebat isu politik akan tampak sebagai pemerhati wacana politik. Seseorang yang militan dengan dukungan pada tokoh politik tertentu besar kemungkinan dicurigai sebagai buzzer. Warganet sering dikenali sebagai manusia dengan identitas tunggal, bukan identitas kompleks.
Saya deg-degan menantikan apakah dua orang tetangga ini akan saling melempar senyum dan bersalaman jika nanti berjumpa di lapangan desa ketika Salat Id di hari raya. Jika itu terjadi, saya pun deg-degan apakah pada hari berikutnya, hasrat menampilkan nasihat dan pembelaan masih akan terus dilanjutkan panggung edarnya.
Saya juga ingat peristiwa pada 2011 ketika tiba-tiba penentuan 1 Syawal diundur sehingga kuah opor yang sudah dimasak harus dipanasi untuk hari lusa. Ketika itu, warga Muhammadiyah tetap lebaran lebih dulu seperti biasa sehingga muncul humor, "tak perlu makan opor yang dihangatkan." Gegap gempita hari raya memang ada-ada saja.
Untung saja Islam menyajikan mekanisme zakat. Manusia yang berkelebihan bahan makanan dan harta menanggung kewajiban untuk menyalurkan derma kepada golongan yang berhak pada malam hari raya. Dalam skema itu, jarak yang timpang didekatkan, lintasan yang senjang sedikit dipertautkan. Dinding-dinding rumah yang biasa sunyi sebab menahan lapar boleh mendapat kelegaan sebab diketuk oleh beras dan sedikit santunan.
Apapun itu, mudik tak pernah kehabisan kuota. Setiap pribadi rindu pulang pada tempatnya lahir dan tumbuh, tanah yang menjadi cikal bakal semua berkah dan masalah dalam hari-hari dewasa dan tubuh tua yang sesak dan engap.
Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih
(mmu/mmu)











































