DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 Juni 2018, 14:48 WIB

Mimbar Mahasiswa

Saatnya Ulama Aktif Bermedia Sosial

Muhammad Arsyad - detikNews
Saatnya Ulama Aktif Bermedia Sosial Foto: GettyImages
Jakarta - Sudah cukup peristiwa seperti bom di Surabaya dan tragedi Mako Brimob itu terjadi. Kita semua geram dan mengutuk segala bentuk kekerasan dan aksi terorisme. Pemerintah pun sudah mengoptimalkan segala cara untuk membendung tindakan representatif dari pemahaman radikal yang cenderung merujuk pada aksi teror dan pengeboman. Terorisme seringnya terjadi akibat kedangkalan berpikir para pelaku. Dorongan untuk meningkatkan spiritualitas di tengah kehidupan yang materialistik juga menjadi faktor munculnya bibit-bibit radikalisme.

Salah seorang teroris perempuan yang juga pelaku tragedi Mako Brimob, saat diinterogasi media juga mengaku hanya mempelajari agama melalui internet dan media sosial. Ini berbahaya, mengingat Islamic State of Irak and Syiria (ISIS) yang notabene sebagai organisasi yang didapuk sebagai aktor utama di balik aksi terorisme justru memanfaatkan internet dan media sosial sebagai lahan mereka menyebarkan paham, merekrut anggota, bahkan melancarkan serangan.

ISIS memanfaatkan media sosial terutama Twitter secara masif, dan hampir sulit dikendalikan. Peneliti dari Universitas California Selatan, Majid Alfifi dan rekannya menemukan fakta mengejutkan bahwa ada 17 juta tweet yang berhubungan langsung dengan ISIS.

Beberapa tahun terakhir media sosial menjelma sebagai alat paling efektif dalam menanamkan dogma-dogma secara intensif. Berbagai studi menunjukkan bagaimana ISIS memanfaatkan platfrom Twitter, tapi sedikit yang melakukan pengukuran terhadap jangkauan mereka serta dampak yang dihasilkannya. Meskipun Twitter berkomitmen menangguhkan akun yang tidak memenuhi persyaratan layanan, ISIS masih saja lolos melancarkan aksinya. Tweet dari akun ISIS berhasil tinggal lebih lama dalam layanan posting-an sebelum akhirnya ditangguhkan oleh pihak Twitter.

Dalam penelitian itu juga terungkap bahwa akun ISIS telah menyebar lebih banyak konten sebelum ditangguhkan oleh Twitter. Hal ini menunjukkan hasil yang lebih komprehensif, apalagi ada sekitar 24.000 pengguna ISIS yang terlacak dalam dataset yang disusun Majid Alfifi dan rekannya pada 2018. Sedangkan menurut laporan Crowdsourced pada 2015, sebanyak 25.000 akun Twitter berhasil diidentifikasi sebagai simpatisan dan pendukung ISIS.

Tweet dan interaksi mereka dengan komunitas di Twitter ternyata lebih besar. Ini terjadi karena keterbatasan dari pihak Twitter yang hanya bisa menangguhkan 10 persennya saja seperti dilaporkan Proyek Truthy di Indiana University.

Masifnya serangan ISIS di media sosial membuat kita harus berhati-hati. Apalagi dalam berselancar di dunia maya kita perlu memilah-milah mana kiranya akun-akun yang selalu menyebarkan paham radikalisme. Deradikalisasi adalah cara mutlak yang harus ditempuh setiap komponen masyarakat, termasuk para ulama. Upaya deradikalisasi yang tepat sasaran adalah mulai bergeraknya masyarakat dalam meng-counter arus persebaran paham radikalisme yang dilakukan ISIS, dan kelompok-kelompok radikal lainnya.

Selain masyarakat yang harus bersifat proaktif dalam upaya deradikalisasi, ulama juga perlu masuk di dalamnya. Peran ulama sangat dibutuhkan di sini. Masyarakat yang dituntut menjadi aktor dalam upaya deradikalisasi kadangkala bisa terperosok menjadi korban pemahaman radikal itu sendiri. Ini disebabkan masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman tentang agama yang minim, dan riskan terdoktrin dengan dogma-dogma yang terus disuntikkan setiap saat. Karena itu masyarakat membutuhkan sosok yang bisa dipercaya dalam hal pemahaman agama seperti ulama.

Ulama dituntut untuk bisa mengayomi masyarakat, bahkan bisa menjadi fasilitator untuk memberikan pemahaman agama yang tidak bersimpangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara. Namun, itu tidak mudah. Gencarnya kelompok-kelompok radikal seperti ISIS yang memanfaatkan internet dan media sosial sebagai wadah menyebarkan paham juga menjadi momok tersendiri. Apalagi statistik penggunaan internet di Indonesia meningkat secara signifikan.

Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017, penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia sebanyak 262 juta orang. Angka ini meningkat sebanyak 10,56 juta dari 2016 yang hanya mencapai 132,7 juta jiwa. Masih dari survei yang dilakukan APJII pada tahun yang sama, banyak penduduk Indonesia memanfaatkan internet untuk penggunaan media sosial yaitu mencapai angka 87,13 persen.

Melihat data tersebut sudah cukup menjadi alasan kuat untuk mendorong ulama cermat dalam memanfaatkan momentum berdakwah melalui media sosial, sekaligus melancarkan tindakan deradikalisasi. Peran ulama tidak cukup berpidato di mimbar-mimbar masjid, karena dakwah di media sosial untuk saat ini bukan lagi bersifat opsional, tapi wajib. Proses deradikalisasi yang dilakukan ulama lewat media sosial akan lebih efektif dan tepat sasaran, mengingat pemakai media sosial di Indonesia (berdasarkan survei APJII pada 2017) sebagian besar berusia 13-18 tahun, yaitu sebanyak 75,50 persen. Dengan begitu bibit-bibit radikalisme bisa dicegah sejak dini.

Ulama mau tidak mau harus meningkatkan kompetensi dan kemampuannya dalam bidang keilmuan agama sekaligus dalam ranah teknologi dan informasi. Mereka sudah tidak perlu lagi "mengharamkan" media sosial, tapi harus ikut menjadi pengguna yang aktif karena arus menyebarnya paham radikal sangat rawan terjadi setiap hari. ISIS dalam kasus yang saya contohkan di atas memanfaatkan Twitter untuk menyebarkan pahamnya sekaligus menarik simpatisan.

Jadi, ulama harus mampu menggunakan media sosial, paling tidak dalam platfrom Twitter. Dengan menjadi pengguna aktif di media sosial, ulama akan jauh lebih dekat dengan mad'u-nya. Terlebih pada remaja yang gandrung sekali menggunakan media sosial. Apalagi intensitas menggunakan media sosial (data APJII 2017) berlangsung sekitar 1-3 jam per hari. Waktu tersebut jauh lebih lama dibandingkan waktu setiap orang dalam mendengarkan kotbah atau ceramah.

Bayangkan, jika ulama sudah beralih untuk berdakwah di media sosial, tentu itu akan jauh lebih intensif tanpa mengabaikan sedikit pun kotbah atau ceramah di masjid. Yang jelas dengan menggunakan media sosial hubungan antara ulama dan warga akan jauh lebih dekat, paham-paham radikalisme dapat diminimalisasi, serta dengan tetap berharap upaya deradikalisasi yang digencarkan ulama pada kaum-kaum yang akan mengarah ke paham radikal cenderung berhasil.

Muhammad Arsyad mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Pekalongan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed