detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 31 Mei 2018, 12:32 WIB

Kolom: Hari Tanpa Tembakau

Melindungi Anak dari Orang Tua Perokok

Reza Indragiri Amriel - detikNews
Melindungi Anak dari Orang Tua Perokok Kampanye antirokok (Foto: Yakup Mulyono)
Jakarta - Angka kasus perceraian terus mendaki. Perceraian membuka lembaran persoalan baru bagi anak, yaitu perebutan kuasa (hak) asuh di antara kedua orang tua. Masalah kuasa asuh ini tak jarang jauh lebih pelik ketimbang masalah perceraian itu sendiri. Agar dapat menangani lalu membuat putusan atas masalah rumit itu, hakim dituntut untuk mengevaluasi rinci kesiapan (kompetensi) masing-masing pihak --ayah dan bunda-- yang memperebutkan kuasa asuh atas anak mereka.

Satu unsur yang kerap masih luput dari perhatian hakim ketika menyidangkan perkara perebutan kuasa asuh anak adalah kepedulian nyata para orang tua terhadap kesehatan anak-anak mereka. Kepedulian itu seyogianya tidak melulu ditakar berdasarkan bukti finansial, semisal asuransi kesehatan anak. Satu hal yang sangat dekat mewarnai relasi orang tua dan anak, namun masih terabaikan karena dipandang tidak esensial adalah kebiasaan merokok ayah dan bunda.

Dalam jangka pendek, ayah-bunda yang merokok di dekat anak (second hand smoke) tentu akan membahayakan kesehatan darah daging mereka itu. Lebih buruk lagi, seperti tampak pada foto dan videonya yang sempat viral belum lama ini, ketika orang tua memperkenalkan anak mereka pada kebiasaan merokok. Dengan dalih senda gurau belaka, di video itu sang ayah menyelipkan sebatang rokok ke bibir anak balitanya. Jelas, sama sekali tidak ada yang jenaka ketika orang tua mendidik anak mereka untuk mencicipi benda yang sekujurnya dipenuhi racun itu.

Dewasa ini merokok di dekat anak-anak sepatutnya tidak lagi sebatas dinilai membahayakan. Perlu dikaji bahwa menjadikan anak sebagai perokok pasif merupakan bentuk kekerasan terhadap anak. Residu rokok (third hand smoke) yang tertinggal di karpet, sofa, dan perabotan rumah lainnya juga diketahui berdampak amat buruk bagi kesehatan anak. Residu toksik itu menumpuk akibat ulah perokok, membuat lingkungan rumah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan anak-anak.

Sedangkan dalam jangka panjang, ketidakmampuan orang tua melepas diri dari kecanduan merokok, apalagi manakala dari hari ke hari jumlah rokok yang dikonsumsi terus bertambah banyak, akan berdampak terhadap kondisi keuangan keluarga. Kian mengenaskan, pada saat anggaran keluarga terasa begitu mencekik karena dikuras oleh perilaku kecanduan rokok, anggaran untuk memenuhi kebutuhan anak sangat mungkin menjadi pos yang dipangkas bahkan ditiadakan oleh orang tua. Orang tua sekaligus perokok semacam itu mempertontonkan secara nyata buruknya kesadaran akan mutlaknya pemenuhan kepentingan terbaik anak.

Perilaku merokok dalam konteks penentuan kuasa asuh orang tua atas anak semakin relevan, jika anak diketahui menderita penyakit yang sangat erat kaitannya dengan rokok, asap, dan komponen-komponen rokok lainnya. Apalagi, merujuk banyak hasil penelitian, menjadi perokok pasif jauh lebih berbahaya daripada perokok aktif. Orang tua yang tahu akan buruknya kondisi kesehatan anak namun tetap saja merokok di dekatnya, bahkan bisa membuka peluang bagi dijalankannya proses pidana.

Gambaran efek rokok baik jangka pendek maupun jangka panjang, sebagaimana tertulis di atas, sepatutnya memunculkan keinsafan para hakim akan pentingnya mengkaji perilaku ayah dan bunda yang tengah berkompetisi memperebutkan kuasa asuh atas anak mereka. Benda berukuran sekitar sepuluh sentimeter itu ternyata tidak layak dipandang sepele. Ia bisa dijadikan sebagai indikator psikologis tentang kompetensi pengasuhan orang tua atas buah hati mereka.

Perhatian hakim pada kebiasaan merokok ayah dan bunda terkait pengasuhan anak sesungguhnya sudah ada presedennya. Doktrin yang mendasarinya adalah parens patriae. Arti doktrin tersebut adalah negara (dalam hal ini hakim) melindungi kesejahteraan individu-individu yang dianggap ringkih, termasuk anak-anak, yang tidak mampu memajukan serta melindungi kepentingan-kepentingannya sendiri. Tercatat, persidangan pertama di mana masalah rokok masuk dalam pertimbangan hakim adalah perceraian antara Tuan dan Nyonya Satalino pada 1990. Hakim eksplisit menyetarakan orang tua yang merokok dengan orang tua yang mengkonsumsi alkohol dan menyalahgunakan narkoba, sebagai dasar penentuan orang tua yang akan memegang kuasa asuh anak.

Di sejumlah ruang sidang di Amerika Serikat tidak sedikit ibu yang kalah dalam perebutan kuasa asuh akibat kebiasaannya merokok disebut hakim sebagai faktor yang paling menghambatnya menjalankan pengasuhan. Ada pula ibu yang terpaksa menelan pil pahit karena hakim tingkat banding mengalihkan kuasa asuh dari dirinya ke pihak mantan suami. Pertimbangan hakim tingkat banding, ayah dan istri barunya bersih dari rokok, sementara ibu dan tunangannya hidup laksana lokomotif berbahan bakar batu bara. Ayah dan istri barunya itu, dengan demikian, dinilai hakim bukan merupakan second hand smoke serta tidak akan menciptakan tempat tinggal yang disesaki oleh berbagai racun dari rokok (third hand smoke).

Dalam persidangan lain, mengetahui bahwa kedua orangtua si anak adalah perokok berat, hakim memutuskan untuk menyerahkan kuasa asuh atas anak itu ke pihak selain ayah dan ibunya. Di Ohio, ada hakim yang menetapkan syarat bahwa orang tua boleh mengajak anaknya berjalan-jalan hanya apabila mereka sanggup melarang siapa pun merokok di hadapan anaknya itu.

Lebih progresif lagi, memanfaatkan hak konstitusionalnya untuk didengar pendapatnya, anak dari pasangan bernama David dan Johnita meminta perlindungan kepada hakim dari ancaman kesehatan yang bisa ia derita akibat terpapar asap rokok ibunya. Hakim Pengadilan New York mengabulkan permintaan anak tersebut. Mengutip sekian banyak hasil penelitian tentang pengaruh negatif rokok terhadap kesehatan, hakim memerintahkan Johnita untuk sama sekali tidak merokok paling sedikit selama dua puluh empat jam sebelum ia mengunjungi anaknya itu.

Demi melindungi anak-anak kita dari barang mudarat bernama rokok, sudah saatnya hukum dipersilakan masuk lebih dalam lagi guna membentengi kehidupan generasi belia Indonesia.

Reza Indragiri Amriel Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed