DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 30 Mei 2018, 12:08 WIB

Kolom

Falcon Pictures, Iqbaal Ramadhan, dan 'Bumi Manusia'

Ade Irwansyah - detikNews
Falcon Pictures, Iqbaal Ramadhan, dan Bumi Manusia Foto: Instagram film 'Bumi Manusia'
Jakarta - "Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan."
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Iqbaal Ramadhan, personel CJR itu, didapuk memerankan Minke, tokoh utama novel Bumi Manusia karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang akan difilmkan Hanung Bramantyo di bawah bendera Falcon Pictures. Dunia maya lantas heboh. Frasa "Bumi Manusia" langsung jadi trending di Twitter wilayah Indonesia. Mayoritas komentar yang terpantau di dunia maya bernada "nyinyir". Ada yang bertanya apa Bumi Manusia versi film bakal jadi "Minke 1880", memplesetkan film Iqbaal yang sukses sebelumnya Dilan 1990?

Tak kurang ahli sosiologi Indonesia Prof. Ariel Heryanto dari Monash University, Australia turut berkomentar di media sosialnya. Kata Prof. Ariel, "Karena ini film komersial, pemilihan (Iqbaal) itu tidak lepas dari pertimbangan komersial. Beda/berlawanan dari penulisan novelnya. Saya harus belajar bersiap kecewa." Hmmm, Anda sudah siap kecewa juga?

Sebelum berkomentar nyinyir sebaiknya kita pahami dulu duduk persoalan. Mari coba pahami kenapa sampai Iqbaal yang akhirnya dipilih jadi Minke.

Bumi Manusia, bagian pertama Tetralogi Buru (lainnya adalah Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) menempuh perjalanan panjang untuk sampai difilmkan. Embrio novel ini telah ada di benak Pramoedya sejak akhir 1950-an, namun baru ditulis dua belas tahun kemudian ketika Pram dibui di Pulau Buru oleh Orde Baru Soeharto pasca-gejolak politik 1965. Novelnya terbit pada 1980, tapi lalu dilarang edar oleh Kejaksaan Agung. Usai Reformasi 1998 baru novel ini (dan novel Pram lainnya) bebas dijual di toko buku, meski larangannya tak pernah dicabut.

Pernah tersiar pula sekian tahun silam novel ini dipinang sutradara Hollywood, Oliver Stone untuk difilmkan, namun Pram tak berkenan lantaran ingin karyanya dibuat orang Indonesia. Riri Riza pernah hendak menggarapnya, namun urung. Hanung juga pernah ditawari sebelumnya, tapi tak berlanjut. Ia lalu menggarap film epik lain Sang Pencerah (2010) hingga Kartini (2017). Tapi, namanya jodoh, ia akhirnya yang dipilih Falcon Pictures menyutradarai film Bumi Manusia.

Tentang Falcon Pictures

Menarik menelisik kenapa akhirnya Falcon Pictures yang memfilmkan Bumi Manusia. Dalam catatan laman filmindonesia.or.id, Falcon telah memproduksi 30 film sejak didirikan pada 2010 oleh HB Naveen. Film pertama Falcon adalah Dawai 2 Asmara (2010) yang menandai comeback Rhoma Irama ke layar lebar. Ia bermain bareng putranya yang naik daun kala itu, Ridho Rhoma. Filmnya flop. Penggemar Rhoma ogah ke bioskop nonton sang raja dan anaknya.

Falcon rumah produksi (production house, PH) yang unik. Falcon memiliki ambisi estetis sekaligus komersil di film-filmnya. Rumah produksi ini rela menggelontorkan uang miliaran untuk sebuah film demi mengejar production value di atas rata-rata film kita. Yang saya maksud rata-rata ukurannya adalah film-film keluaran Starvision milik Chand Parwez. Bila diperhatikan, film rilisan Parwez punya bahasa gambar seragam dan standar production value setara dari satu film ke film lain. Saban tahun Starvision merilis 10-12 film dengan bujet produksi masing-masing Rp 3-Rp5 miliar. Dari sepuluhan film itu, Starvision berharap ada yang box office untuk menutupi yang flop. Tapi, risiko kerugian diukur dengan tak jor-joran bikin film kelewat mahal.

Falcon beda. Hanya tiga tahun usai berdiri, PH ini menggarap Laskar Pelangi 2: Edensor (2013), lanjutan kisah Laskar Pelangi. Kita tahu Laskar Pelangi sebuah IP (intellectual property) yang sangat bernilai. Novelnya laris, dan versi filmnya digarap Riri Riza pada 2008 juga jadi film terlaris. Sayang, penggarapan Falcon tak mengena di hati pembaca setia novelnya maupun penikmat film. Ambisi komersil yang terlalu tampak membuat ruh novelnya tak muncul walau sudah syuting hingga Eropa.

Syahdan, Falcon meraih titik baliknya di Comic 8 (2014). Film tersebut jadi yang terlaris pada 2014, mengumpulkan 1,6 juta penonton. Formulanya sederhana saja: mengumpulkan pelawak stand-up comedy yang naik daun main film bareng, berpolah konyol, plus production value di atas rata-rata film Indonesia. Formula ini lalu dipakai di film-film Falcon berikutnya, tak terkecuali sekuel Comic 8 dan Warkop DKI Reborn. Di Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos - Part 1 (2016), Falcon dapat jackpot 6,8 juta penonton --terlaris sepanjang masa hingga kini.

Lantaran sukses beruntun itu pula, HB Naveen pemilik Falcon dapat reputasi "produser pedagang" film bersama geng produser Multivision, Rapi Film, Starvision, dan MD Pictures. Meski ia juga membuat My Stupid Boss (2016) yang sukses komersil dan estetis, orang tetap menganggapnya bukan sineas "idealis" kelompok Mira Lesmana, Nia Dinata dkk. Mungkin ada sentimen etnis juga yang berlaku di situ, sebagaimana pada 1920-an dan 1950-an generasi Misbach Yusa Biran dan Salim Said menyalahkan produser etnis Tionghoa biang kebobrokan film nasional.

Sentimen rasial ini lantas membuat kita lupa bahwa Get Married (2007) diproduksi Starvision, Sang Pencerah, Soekarno (2013) dan Mencari Hilal (2015) dibikin Multivision; Pengabdi Setan-nya Joko Anwar didanai Rapi Film; Habibie-Ainun (2012) dibuat MD Pictures.

Sampai di sini sebetulnya kita harus paham, tak selamanya produser yang kita cap "pedagang" film itu hanya membikin film-film "sampah". Falcon mendapat hak memfilmkan novel itu sejak 2014 bersama novel Pram lain, Perburuan. Artinya, bertepatan dengan sukses Comic 8 dan formulanya, ketika formula itu jadi penanda PH tersebut hingga ke Benyamin Biang Kerok (2018) yang diprotes komunitas Betawi. Memang, kepentingan komersil kian tampak dari film-film Falcon pascasukses Comic 8. Yang menjadi pertanya sekarang, lalu, apa kepentingan komersil yang lebih terlihat di film Bumi Manusia?

Tentang Iqbaal Jadi Minke

Lewat penunjukan Iqbaal, publik rasanya melihat demikian. Iqbaal menggaet banyak penonton di Dilan 1990 (2018), produksi Max Pictures yang juga dimiliki Falcon. Penontonnya sampai 6,3 juta yang berarti ia mampu menggaet tak hanya remaja pengagum ketampanannya, tapi juga mereka yang di luar pangsa pasarnya. Masalahnya, cocokkah Iqbaal jadi Minke?

Di novelnya, Minke dikisahkan sebagai murid Hogare Burgerlijke School atau HBS, sekolah setingkat SMP dan SMA dengan masa pendidikan lima tahun. Sebelum menempuh HBS, golongan ningrat Hindia Belanda mendapat pendidikan dasar selama tujuh tahun di ELS (Europesche Lager School). Orang masa itu mulai sekolah di umur 6 tahun. Maka hitung saja, bila sekolah di ELS selama 7 tahun tambah HBS 5 tahun, umur siswa HBS tingkat akhir adalah 18 tahun. Persis usia Iqbaal saat ini yang kelahiran Surabaya, 28 Desember 1999.

Hmmm, memangnya sebuah karakter harus dimainkan aktor dengan umur sepantaran dengan perannya? Well, asal tahu saja, tidak ada yang protes waktu Tobey Maguire jadi remaja Peter Parker alias Spider-man di versi Sam Raimi pada 2002. Padahal, waktu itu umurnya 27 tahun. Atau, juga Lea Michelle memerankan gadis SMA Rachel Berry di serial Glee meski ia berumur 23 tahun saat serialnya mulai tayang pada 2009. Michelle jadi Rachel selama enam tahun sampai Glee tamat pada 2015.

Kita berhak berburuk sangka, pendekatan komersil bakal lebih kentara di versi film Bumi Manusia. Sebagaimana pula kita boleh berbaik sangka, karya sastra kelas dunia itu diperlakukan dengan penuh takzim sekelas sineas Hollywood menggarap film epik novel-novel besar. Namun, sebagai penggemar karya Pram, kita sepatutnya juga menganut prinsip yang ia kemukakan di novelnya: berlaku adil sejak dalam pikiran. Adilkah menghakimi sebuah film yang belum dibuat?

Ade Irwansyah wartawan, menulis buku Seandainya Saya Kritikus Film (2009). Ketika adiknya menikah, minta pelangkah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed