DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 29 Mei 2018, 16:50 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

'Bumi Manusia' dan Congkaknya Kaum Tua

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Bumi Manusia dan Congkaknya Kaum Tua Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Saat masih menjalani profesi mulia sebagai sopir jasa pengiriman barang di Perth, saya punya banyak teman dari negeri-negeri chaos. Salah satunya bernama Hubert Zapata, orang Nicaragua. Umurnya sekitar 60-an, cukup ramah, dan senang bercerita.

Sudah hampir dua dekade Hubert bermigrasi ke Australia. Dia memboyong keluarganya demi keselamatan diri, saat situasi di negerinya membuat posisinya terjepit. Sebagai jurnalis kiri yang condong ke kelompok Sandinista, Hubert jadi incaran kekuatan yang berafiliasi ke Amerika.

Saya terpukau mendengar kisah hidup Hubert. Seorang wartawan idealis, cerdas, kritis, dan berani. Hanya karena situasi di negerinya tidak bisa menjamin keselamatan keluarganya sajalah maka dia memutuskan hengkang, hanya dengan uang 30 dolar di tangan.

Setiba di Australia, Hubert bekerja apa saja. Semuanya pekerjaan kerah biru. Tentu saja termasuk menjadi kurir di perusahaan kami itu, dengan bekal mobil van-nya yang sudah usang. Sepertinya dia akan menjalani pekerjaan itu hingga usia pensiunnya, tanpa sekali pun kembali menyentuh passion lamanya.

Hingga kemudian beberapa kawan bertanya kepadanya, "Kenapa kamu tidak menulis saja di Facebook? Tentang pengalaman-pengalaman hidupmu, atau kritik-kritikmu kepada penguasa Nicaragua, gitu?"

"Facebook? No! I'm a professional. Tidak mungkin aku menuliskan pengalamanku cuma di Facebook."

Oh, jadi ini tentang profesionalisme? Apakah lantas Hubert menuliskan semuanya di media lain? Buku autobiografi, misalnya? Tidak juga. Dia tidak lagi menjadi wartawan, tidak lagi menulis, dan ketika melihat fenomena media sosial, Hubert melihatnya sebagai sesuatu yang jauh dari profesional.

Bagi Hubert, profesionalisme adalah menulis di koran serius, syukur-syukur dalam format cetak. Namun, karena dia tidak memiliki kesempatan untuk itu, sekaligus karena tidak sudi melirik medsos sebagai alternatif jalan, maka hasil akhirnya sudah dapat ditebak: Hubert tidak menulis apa-apa.

***

Ada banyak Hubert Zapata di mana-mana. Sebuah generasi merasa bahwa apa yang menjadi milik zamannya sendiri merupakan hal yang paling dahsyat, paling berkelas, paling adiluhung. Maka ketika mereka melihat munculnya alternatif baru untuk melakukan sesuatu, yang baru-baru itu akan dianggap sebagai kebanalan yang terlalu menjijikkan untuk disentuh.

"Saya tetap lebih suka buku-buku lama, daripada yang baru." Bertahun silam, dengan penuh percaya diri seorang dosen saya mengucapkannya. Ia begitu membanggakan buku-bukunya yang terbitan tahun 70-an, atau bahkan lebih tua lagi.

Akibatnya, sebagai dosen sastra, perbincangannya hanya berhenti di Layar Terkembang-nya Sutan Takdir dan sebangsanya. Sangat membosankan. Padahal pada masa dia mengajar, sudah bermunculan karya-karya segar dari para penulis muda Angkatan 2000 yang tajir-tajir. Tapi, apa boleh buat, Pak Dosen masih terus meyakini bahwa buku-buku lama selalu lebih bagus. Akibatnya, para mahasiswanya jadi out of date, dan gagal membaca isu-isu kesusasteraan mutakhir. Semua karena pemujaan kepada buku-buku lama yang bak kitab suci itu.

Pola yang sama muncul lagi ketika monster digital sudah menguasai segenap relung kehidupan kita. Betapa banyak orang yang masih amat mengagungkan kertas-kertas, berhalusinasi bahwa pengetahuan baru akan mencapai kualitas sejatinya jika dituliskan di atas kertas-kertas. Ketika saya memutuskan membeli Kindle, dan membaca banyak file e-book dari sana, misalnya, entah sudah berapa orang yang berkomentar, "Ah, aku tetap lebih suka buku kertas. Baunya beda. Feel-nya lebih dapet. Membaca buku kertas tetap lebih romantis ketimbang membaca di tablet atau Kindle."

Oh, ternyata urusannya cuma romantis-romantisan to hehe. Barangkali mereka juga yakin bahwa transfer pengetahuan akan sangat ditentukan oleh romantisme, dan bau kertas-kertas yang menguning itu. Tapi, sampai kapan yang demikian bertahan, di saat pembalakan terus menghabiskan jutaan hektar hutan? Bagaimana glorifikasi atas cara-cara masa lalu tersebut akan berhasil mereka jalankan untuk transformasi peradaban kepada kaum muda, kaum digital native yang memang tak lagi akrab dengan kertas-kertas? Apakah kaum tua akan tetap memaksakannya, sembari mendoktrinkan lezatnya aroma-aroma? Oh....

***

Hari ini, muncul keributan tentang rencana pembuatan film Bumi Manusia. Kaum tua yang banyak bicara itu berkoar-koar lagi.

"Kenapa peran Minke diserahkan kepada Iqbaal Ramadhan, anak kemarin sore itu? Tugas yang pantas untuknya hanyalah bermain di film menye-menye semacam Dilan. Kenapa Minke, sosok pejuang pers legendaris dalam karya sastra sehebat Bumi Manusia, cuma diperankan oleh sosok abege nggak jelas? Kami tidak rela!"

Haha. Tidak rela. Hebat sekali. Bersama ungkapan-ungkapan ketidaksukaan, mereka bercerita tentang masa lalu mereka sendiri yang konon heroik itu.

"Dulu, kami membaca Bumi Manusia dengan sembunyi-sembunyi, dengan cara memfotokopi. Coba kalian bayangkan. Buku ini buku yang dilarang Kejaksaan Agung. Tentara mengawasi rakyatnya di mana-mana. Jadi, cuma untuk membaca sebuah buku saja, keselamatan kami taruhannya!"

Dengan bumbu-bumbu cerita seperti itu, Bumi Manusia sedang diangkat pelan-pelan menuju puncak kesakralannya. Ia bukan lagi sekadar sebuah karya sastra. Ia menjelma menjadi jimat bertuah, penanda kegarangan, dan heroisme kaum tua.

Sembari berkisah tentang masa lalu yang hebat-hebat itu, sambil menguap mereka mengunggah screenshot sebuah komentar lugu dari seorang remaja.

"Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal, kayaknya. Masih untung dijadiin film, dan si Iqbaal mau meranin karakternya, biar laku bukunya."

Tawa-tawa hahaha serempak membahana. Kaum tua yang ngeri-ngeri tadi menertawakan seorang anak ingusan yang tidak kenal siapa itu Pramoedya. Mereka terpingkal sambil memegangi perut mereka, mencibir dengan gagahnya.

Pramoedya Ananta Toer memang penulis hebat, untuk tidak mengatakan yang terhebat yang pernah dimiliki Indonesia. Tapi, anak muda tadi dosa apa? Apakah benar dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah mereka dikenalkan dengan nama Pramoedya? Kalau toh dikenalkan-tentu cuma dalam sebuah daftar panjang nama-nama-apakah gurunya juga mengajaknya untuk membaca karya-karya Pramoedya?

Jika tidak, lalu semua ini salah siapa? Salah Kementerian Pendidikan sebagai pengurus kurikulum? Salah masyarakat sastra yang hanya sibuk berkompetisi tapi lupa merengkuh publik pembaca seluas-luasnya? Atau, salah siapa? Betulkah ini salah si anak, padahal ia sungguh-sungguh tidak pernah mendengar nama Pramoedya?

Betapa repotnya menghadapi kaum tua yang terlalu bangga dengan diri mereka. Seorang anak yang tidak cukup mendapatkan akses pengetahuan malah dihina-hina. Ketika muncul kesempatan cara baru untuk memperkenalkan Pramoedya dan magnum opus-nya, yakni dengan kendaraan praktis berupa bintang muda yang sedang moncer-moncernya, jalan itu pun ditertawakan pula begitu rupa. Persis ketika Hubert menertawakan Facebook.

Padahal, coba bayangkan saja. Jika film AADC yang ngepop itu pada masanya berhasil membuat anak-anak remaja mendekat kepada puisi-puisi, kenapa untuk memperkenalkan Pramoedya harus dijalankan dengan jidat berkerut sebagaimana kemauan angkatan lama yang heroik-heroik itu? Wah.

Jadi, tolong sampaikan kepada mereka. Jujurlah, sebenarnya yang mereka inginkan itu memperkenalkan Bumi Manusia kepada khalayak seluas-luasnya, atau menggenggam kekuasaan atas tafsir, sekaligus memonopoli selera? Apakah benar mereka punya itikad untuk menjadikan sebuah puncak pencapaian karya sastra Indonesia sebagai milik semua? Atau, jangan-jangan... mereka sekadar ingin berasyik masyuk menikmati karya emas itu sendirian saja, menjauhkannya dari anak-anak muda yang belum tahu apa-apa, demi langgengnya mitos kesempurnaan kaum tua?

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed