DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 28 Mei 2018, 11:16 WIB

Kolom Kang Hasan

Heboh Air Tinja

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Heboh Air Tinja Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Berita tentang Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang terharu dengan alat pengolah limbah yang katanya bisa mengolah air tinja menjadi air layak minum segera menimbulkan kehebohan, khususnya di media sosial. Kata kunci "tinja menjadi air minum" serta merta memicu reaksi negatif. Itu masih ditambah lagi dengan sisa-sisa pertarungan Pilkada DKI tahun lalu. Kontan banyak yang mencibir Sandi.

Hal pertama yang harus kita pahami soal ini adalah bahwa pengolahan air limbah (waste water treatment) adalah sesuatu yang mutlak harus ada di sebuah kota besar seperti Jakarta. Beberapa tahun yang lalu saya melakukan survei kecil di penggalan kali Ciliwung di sekitar kawasan Kuningan, Jakarta. Saya temukan kali itu berair sangat kotor dan berbau busuk. Air kotor dari berbagai sumber bila langsung dialirkan ke sungai akan berakibat tercemarnya sungai. Karena itu air limbah mesti diolah dulu, dipisahkan dari berbagai pengotor biologi maupun kimia sampai mencapai level tertentu, sebelum dialirkan kembali ke sungai. Parameternya biasa dinyatakan dalam Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD), serta sejumlah parameter lain.

Kalau kita amati berbagai aliran sungai maupun daerah muara sungai di Jakarta, kita akan temukan banyak sekali tempat-tempat yang kotor. Artinya, pengelolaan air limbah di Jakarta masih sangat buruk. Dalam konteks ini, usaha pemerintah DKI untuk mengelola air limbah patut dihargai.

Benarkah air tinja bisa diolah kembali sampai layak minum? Secara teknis bisa. Air limbah berat seperti air tinja dan comberan mula-mula harus dipisahkan dari kotoran padat yang dikandungnya dengan proses biologi dan kimia. Setelah itu air dilewatkan ke sistem penyaringan yang lebih halus seperti saringan pasir (sand filtration), atau memakai membran ultrafiltration (UF). Bila diinginkan hasil yang lebih baik, setelah itu bisa ditambahkan lagi membran reverse osmosis (RO) yang bisa membuat hampir semua jenis bakteri dan virus, serta ion-ion kimia terpisah dari air. Bila dianggap perlu air bisa disinari dengan ultraviolet untuk memastikan kuman-kuman di dalamnya mati. Air sekotor apapun bisa diolah menjadi layak minum dengan serangkaian proses tadi.

Hanya saja hal itu tidak jamak dilakukan. Di Singapura, melalui program NEWater telah dibangun berbagi instalasi pengolahan air limbah. Kalau kita berkunjung ke sana, kita akan disuguhi air dalam kemasan botol seperti air mineral yang dijual komersial. Itu adalah air limbah yang sudah diproses sampai layak minum. Namun, tetap saja air itu tidak disalurkan ke saluran distribusi domestik, melainkan dikembalikan dulu ke reservoir, disimpan bersama air cadangan dari sumber lain.

Yang umum diterapkan, misalnya di hotel-hotel, adalah air daur ulang tadi dipakai untuk hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan manusia, seperti untuk menyiram tanaman, pembilas WC, dan sebagainya. Air hasil daur ulang Jakarta pun menurut Presiden Direktur PD PAL Jaya juga akan dipakai untuk keperluan serupa. Soal "bisa untuk diminum" tadi, anggap saja semacam kekagetan dari orang yang tidak paham. Kalau orang Jawa bilang, gumunan.

Tapi, boleh jadi itu bukan gumunan, tapi pencitraan politik. Pasangan gubernur yang sekarang memimpin Jakarta sepertinya memang sedang kesulitan untuk menunjukkan kinerja mereka. Mesin pengolah air ini, dengan memakai teknologi buatan anak bangsa, katanya, bisa dijadikan ikon untuk unjuk prestasi. Makanya, meski cuma menyerap tenaga kerja 50 orang, Sandi menganggap perlu menekankan bahwa perusahaan ini membuka lapangan kerja.

Benarkah mesin ini adalah sebuah teknologi baru? Entahlah. Sejauh yang saya tahu tidak ada yang benar-benar baru dalam teknologi pengolahan limbah. Biasanya para engineer hanya mengkombinasikan sejumlah metode yang sudah ada, dan mengatur parameter operasi pada metode-metode itu. Ini pun sesuatu yang agak sering kita dengar. Kalau sudah pakai istilah "karya anak bangsa" begitu, biasanya yang skeptis terhadapnya akan mendapat cap tidak nasionalis.

Bagi saya, ketimbang ribut soal air tinja, kita sebenarnya bisa lebih kritis memandang persoalannya. Hal besar yang perlu kita dengar penjelasannya dari Gubernur DKI atau Wakil Gubernur adalah bagaimana road map pengelolaan air limbah di Jakarta. Berapa volume air limbah yang dihasilkan, berapa yang sudah bisa diolah dengan alat yang ada. Kalau belum cukup (pasti belum cukup), apa program Pemda untuk mencukupinya.

Dalam konteks itu, alat yang didemonstrasikan itu akan mencakup berapa persen dari kebutuhan seluruh DKI tadi. Apakah itu cukup, atau jauh dari cukup? Sesuaikah biaya yang dikeluarkan untuk membeli alat itu? Bagaimana kinerjanya? Berapa biaya pemrosesan airnya per meter kubik? Apakah lebih mahal atau lebih murah dari metode lain? Pertimbangan apa yang dipakai sehingga pilihan jatuh ke alat ini? Lebih penting lagi, pembeliannya melewati proses lelang atau penunjukan langsung? Hal-hal seperti ini memang jarang bisa ditanyakan oleh wartawan.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed