DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 25 Mei 2018, 15:18 WIB

Kolom

Sisi Balik "Anarkisme" Mei 1998

Anicetus Windarto - detikNews
Sisi Balik Anarkisme Mei 1998 Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta -

Bukan kebetulan bahwa bulan Mei selalu dikenang sebagai bulan kekacauan (chaos) di Indonesia. Masalahnya, tepat duapuluh tahun silam telah terjadi aksi perusakan, pembakaran, dan penjarahan terhadap berbagai tempat yang dianggap mewakili penyebab dari "krismon" (krisis moneter) pada saat itu. Dari beragam aksi kekerasan, termasuk perkosaan yang menimbulkan ketakutan bahkan trauma tersebut, tidak keliru jika bulan Mei tercatat sebagai bulan paling anarkis.

Pertanyaannya, dari manakah asal-usul kata anarkis itu? Mengapa kata itu menjadi sedemikian mencemaskan, khususnya bagi pihak-pihak yang merasa sedang berkuasa? Bagaimana membaca dan memaknai anarkisme secara jeli dan waspada agar dapat melihat daya kuasa macam apa yang ada di sebalik kata dan bahasa tersebut?

Dalam bukunya berjudul Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial (Marjin Kiri, 2015) Benedict Anderson menunjukkan bahwa bahaya besar yang dipandang lebih mengancam bagi para penguasa masa kini adalah "kaum anarkis" daripada "orang-orang komunis" atau "fanatikus Muslim". Hal itu tercermin dari sebuah peristiwa yang dikenal sebagai kerusuhan Haymarket di Chicago, Amerika Serikat pada 4 Mei 1886. Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal dari Hari Buruh Internasional atau juga dikenal dengan sebutan May Day. Bahkan, untuk mengenang peristiwa tersebut dibangunlah sebuah monumen bagi "para martir Haymarket" (Haymarket Martyrs' Monument) yang terdiri dari delapan pimpinan buruh yang didakwa dan beberapa di antaranya dijatuhi hukuman mati.

Dari peristiwa itulah, kaum anarkis yang sebagian besar adalah sosialis dikenal sebagai para ekstremis atau radikalis yang antikolonial. Mereka bisa jadi terdiri dari kaum buruh, sastrawan, jurnalis, bahkan mahasiswa. Yang mereka hadapi dan lawan adalah berbagai praktik penjajahan (kolonialisme) yang membuat (kepentingan) rakyat menjadi terabaikan. Itulah mengapa aksi dan gerakan mereka bukanlah sekadar menjadi "pengemban amanat rakyat", tapi justru menemukan dan menyuarakan kepentingan orang-orang yang selalu dibuang dari pikiran, misalnya para penguasa lokal dan tradisional.

Maka, menjadi menarik bahwa mereka yang termasuk sebagai kaum anarkis sesungguhnya adalah, meminjam istilah Bung Karno, "penyambung lidah rakyat". Artinya, suara mereka memang didengarkan oleh orang-orang yang merasa, sesudahnya, bahwa kaum anarkis berbicara untuk kepentingan rakyat.

Dalam konteks Revolusi Indonesia (1945-1949), kaum muda, atau lebih dikenal sebagai pemoeda, adalah bagian penting dari aksi dan gerakan "anarkisme" kerakyatan. Mereka tanpa rasa takut maju ke medan pertempuran untuk menghadapi pasukan Sekutu yang bersenjata modern hanya dengan sebilah bambu runcing. Tak heran, pasukan Sekutu pun dibuat bengong dengan kenekadan para pemoeda saat itu yang sebagian besar jelas mati dalam pertempuran. Namun, jika tak ada "anarkisme" termaksud, bukankah Republik Indonesia (RI) juga mustahil dapat berdiri hingga saat ini?

Revolusi 17-8-45 adalah tonggak penting dari sejarah Republik ini dibangun. Tonggak itu dijaga dan dipertahankan lewat "anarkisme" angkat senjata dan/atau diplomasi revolusi antikolonial. Tapi, keduanya tak mungkin dapat berdaya kuasa melindungi dan memajukan RI tanpa dukungan dari bawah dalam wujud nasionalisme kosmopolitan. Yaitu, nasionalisme yang berakar dalam hati atau kebudayaan rakyat dan mampu membangkitkan kesadaran demokratisasi politis yang mandiri dan tanpa pamrih. Itulah sesungguhnya daya kuasa "anarkisme" dari Revolusi di Indonesia yang dikenal juga sebagai Revoloesi Pemoeda (Anderson, 2015).

Di sini menjadi jelas bahwa anarkisme tidak melulu berkait dengan soal kekacauan, bahkan kekerasan belaka. Tapi, hal itu ibarat orbit dari benda-benda di luar angkasa, seperti bintang-bintang, yang bergerak kalap terus-menerus dan tak jarang bertabrakan satu sama lain. Itulah arti anarkisme yang sesungguhnya dan tak kenal lelah, apalagi mudah menyerah. Tak heran jika kaum anarkis yang selalu bergerak dan segera beraksi pada saat dan tempat yang tepat dapat menjadi sedemikian ekstrem atau radikal, khususnya di zaman yang memerlukan "amok" atau "aksi daulat". Di zaman yang kerap dinamai sebagai "Zaman Edan" di mana "Ratu Adil", "Imam Mahdi", atau "Mesias" begitu didamba dan diimpikan, mereka dengan lantang dapat berpekik "Merdeka atau Mati" seperti dilakukan para pemuda pejuang semasa Revolusi 17-8-45.

Karena itulah, kaum ektremis, radikalis, atau anarkis yang sedang beraksi "amok" itu seringkali dipandang secara "hitam-putih" sebagai perusak, pembakar, penjarah, bahkan pembunuh yang biadab. Dalam peristiwa Mei duapuluh tahun yang lalu, tampak bahwa kacamata "amok" atau "anarkis" masih tetap laku dan bekerja secara efektif dan operatif. Sebab, hanya dengan cara demikian, anarkisme dapat dilestarikan dan dipelihara sebagai "anjing penjaga" kekuasaan yang mampu menunjukkan kehebatan nenek moyang di masa lalu. Hal itu sesungguhnya hanya bertujuan untuk menyembunyikan rasa kehilangan yang semakin nyata dan tak terperikan tentang bayang-bayang dari imajinasi masa lalu yang sempat menjadi kaya, jaya dan digdaya. Di sinilah anarkisme selalu ditafsirkan bukan sebagai gagasan dan/atau imajinasi yang inspiratif, melainkan justru diciptakan setara dengan ekstremisme atau radikalisme yang membahayakan.

Di Jakarta dan Solo misalnya, peristiwa Mei 1998 adalah ingatan bersejarah yang membuat kehidupan masyarakat menjadi hancur berantakan dan tak tertanggungkan. Meski sudah tidak terlalu diingat-ingat lagi, peristiwa itu telah memberi pelajaran berharga bahwa anarkisme tidak bisa dilepaskan dari kekacauan dan kekerasan. Padahal, meski anarkisme Mei sudah berlalu, namun toh sentimen diskriminasi, terutama terhadap warga Tionghoa, masih tetap tersembunyi dengan rapi. Bagaikan bara yang sewaktu-waktu bisa tersulut menjadi api, diskriminasi dan anarkisme "anti Tionghoa" pun adalah bagian dari politik beraroma SARA (Suku, Ras, Agama) yang seringkali dibebankan kepada pihak-pihak yang dipercaya mampu menyeragamkan soal-soal perbedaan dan kemajemukan. Jadi, meski ada tuduhan atau cap anarkis, tetaplah jeli dan waspada karena hal itu kerapkali bernada retoris daripada kritis.

A. Windarto peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed