DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 18 Mei 2018, 17:20 WIB

Kolom Kalis

Eksklusivisme Beragama, Satu Langkah Mendukung Aksi Teror

Kalis Mardiasih - detikNews
Eksklusivisme Beragama, Satu Langkah Mendukung Aksi Teror Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setelah serangkaian aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua-Depok, tiga gereja serta kantor Mapolresta Surabaya, publik menegaskan kembali perlawanan pada paham ekstremisme beragama. Selain hal-hal yang bersifat keamanan dan kebijakan negara, ada fakta tentang orang-orang yang tercuci otak oleh paham keagamaan yang ultra-sektarian sampai pada titik menghilangkan nyawa orang lain yang berbeda. Di grup-grup aplikasi pesan instan, mereka bahkan saling bertukar pengetahuan tentang cara-cara membuat bom dan saling memperkuat jaringan. Publik bertanya mengapa seseorang bisa berubah menjadi monster yang siap membunuhi orang lain.

Sebuah pertanyaan yang keliru, sebab bahkan para teroris itu sangat siap membunuh dirinya sendiri. Aksi teror di tiga gereja di Surabaya disebut sebagai aksi teror pertama oleh anggota keluarga, sekaligus melibatkan perempuan dan anak-anak. Publik kaget mengapa seorang ibu mengajak anak-anaknya untuk mati atas nama agama. Meskipun mengejutkan, nuansa banal itu sebetulnya sebuah konsekuensi logis dari jenis ideologi yang bersifat eksklusif dan ekstrem. Kita keliru memandang ideologi, bahwa ia memiliki gender tertentu. Selama ini ketika ada aksi teror atas nama agama, kita selalu beranggapan bahwa aksi teror adalah otoritas laki-laki.

Tanpa sadar, kita menerapkan pola pikir patriarkal. Padahal, perempuan-perempuan dengan doktrin agama kekerasan itu ternyata menganggap diri mereka sebagai manusia yang juga punya kemerdekaan penuh, termasuk dalam jihad yang mereka pahami. Mereka lelah dengan peran agen reproduksi yang hanya berperan melahirkan anak sebanyak-sebanyaknya, serta peran belakang panggung lainnya. Para perempuan pengabdi organisasi teror ingin mendapat surga yang sama dalam imajinasi mereka, seperti yang selama ini dapat ditebus oleh teroris laki-laki.

Pada awalnya, nalar sehat hilang ketika manusia kehilangan otoritas kediriannya. Ini sebuah hipotesis awal yang berusaha menjawab pertanyaan mengapa saya gagal paham pada orang-orang yang tetap percaya, bahkan sampai pada level mengimani seseorang yang pada tubuhnya berbalut simbol-simbol agama, dan mulutnya bertabur ayat-ayat Al Quran, tapi pada saat yang sama, ia melontarkan caci-maki kepada orang dan kelompok lain, mengutarakan kalimat berpretensi adu domba bahkan mengedarkan kabar palsu juga fitnah. Tokoh agama yang gemar memanaskan situasi itu tidak hanya menjadi seleb di media sosial dengan follower berjumlah ratusan ribu, tapi juga punya panggung di masjid dan perkantoran.

Seorang teman membagikan sebuah teori konspirasi ihwal bom Surabaya yang beredar di media sosial. Narasi itu mengatakan bahwa pelaku bom Surabaya adalah mantan Kristen yang menjadi mualaf. Mereka dijebak menjadi kurir barang ke gereja dengan diupah 10 juta rupiah. Tapi ternyata, barang yang mereka bawa adalah bom yang kemudian meledak. Narasi tersebut menyimpulkan sebuah upaya memojokkan umat Islam lewat fitnah agar umat Islam tidak mendapat kejayaannya. Sebuah narasi yang tampak berasal dari novel-novel fiksi, dan tentu saja mustahil dicari bukti kebenarannya sebab tentu saja tidak akan ada, tapi dipercaya oleh banyak orang yang telanjur mematikan sistem berpikir secara ilmiah.

Follower dan jamaah itu adalah orang-orang yang mapan secara pendidikan, ekonomi, dan pergaulan sosial. Mungkin Anda pernah juga melihat akun beridentitas Phd dari universitas ternama, tapi ikut menyebarkan berita palsu, bahkan menulis komentar yang begitu konspiratif atas sebuah fakta, yang saking konspiratifnya sampai-sampai kita takut ikut gila karena tidak bisa menalar metode dan perspektif berpikirnya yang terlampau kacau.

Berikutnya, ada banyak pengajian yang menempatkan para pemula dalam pengetahuan agama dalam posisi subordinat. Dalam banyak fenomena hijrah, misalnya, seseorang bisa berganti penampilan fisik secara drastis lalu meninggalkan hal-hal yang dianggap kemaksiatan sebab ia merasa penuh dosa. Perasaan penuh dengan dosa dapat dimanfaatkan oleh sebagian pendakwah untuk menguasai objek dakwah. Pendakwah tampak sebagai sosok yang suci dan selalu benar sebagai pusat pengetahuan agama, sedangkan objek dakwah adalah sosok yang penuh kesalahan dan tidak punya otoritas dalam agama.

Kesenjangan ini membuat objek dakwah rela melakukan apa saja yang diinginkan oleh pendakwah yang dalam keseharian tidak hanya berperan sebagai sumber pengetahuan, tapi sekaligus hakim yang menjustifikasi segala tindakan objek dakwah. Seorang kawan yang pernah bergabung dengan NII ketika di kampus bercerita bagaimana ia rela menyumbangkan harta yang ia miliki sebagai konsekuensi doktrin pendirian negara Islam oleh jamaah.

Guru spiritual yang benar tidak pernah mensubordinasi orang berdasarkan apapun. Iman adalah sesuatu yang dinamis untuk naik dan turun. Menganggap sesosok manusia selamanya benar dan manusia lain selamanya rendah dan bersalah terdengar seperti lelucon. Organisasi keagamaan yang sektarian biasanya sangat hierarkis. Ada satu sosok imam atau pimpinan yang diagungkan. Pimpinan organisasi tersebut seolah selalu benar. Semua instruksi yang bersumber dari pimpinan yang bersifat politik, ekonomi, maupun sosial wajib ditaati oleh seluruh pengikut tanpa perkecualian.

Pimpinan organisasi itu tentu tidak punya penguasaan keilmuan pada semua bidang, tapi pengikutnya menganggap segala titahnya wajib ditaati sebab sosok itu dianggap memiliki unsur magis, atau setidaknya paling fasih menghadirkan imajinasi surga kepada para pengikut. Sebuah kefasihan yang seolah empiris, seolah ia dapat memverifikasi kebenaran Tuhan.

Tidak semua organisasi yang bersifat sektarian mendukung aksi-aksi kekerasan dan teror. Tapi, budaya mematikan nalar pengikut adalah satu langkah lebih dekat sebagai pendukung aksi teror. Para pelaku teror adalah orang-orang yang belajar untuk menyalahkan gagasan lain di luar kelompoknya. Para pelaku teror adalah orang-orang yang secara sadar menganggap orang lain yang berbeda sebagai pihak yang layak mendapat label sesat. Para pelaku teror adalah orang-orang yang menganggap semua hal yang berbeda sebagai penjara untuk dirinya, sehingga ia layak dibenci, layak diserang, dan dalam tahap yang paling ekstrem layak dimatikan.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed