DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 18 Mei 2018, 14:18 WIB

Kolom

Melahirkan (Kembali) Kedamaian

Muhammad Husein Heikal - detikNews
Melahirkan (Kembali) Kedamaian Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Ada sebuah zaman yang disebut sebagai Convivencia --secara harfiah berarti "hidup bersama" (istilah Catalan). Alkisah, Abd al-Rahman III mengangkat dirinya sebagai khalifah sejak tahun 929 dan berkuasa hingga 961. Dalam periode kekuasaannya itu, terbangun kehidupan harmonis di masyarakat multikultural: Muslim, Yahudi, dan Kristen. Mereka hidup rukun dan damai, saling menghormati, saling menghargai, tanpa ada kecurigaan, tak saling mencurigai (Yong, 2012).

Zaman Convivencia ini berlangsung lebih dari 400 tahun (Thomas, 2013), atau bila menghitung sejak berkuasanya Abd al-Rahman III maka lebih dari 500 tahun. Sebab tepatnya pada 1492 zaman "yang indah dan di dambakan" ini usai. Koeksistensi damai antara tiga umat agama Samawi itu berakhir di Andalusia. Ketika itu penguasa Granda, Muhammad XII menyerah pada Raja Ferdinand II dari Aragon, dan Isabella I dari Castile.

Trias Kuncahyono mencatat dalam kredensial-nya, bahwa peristiwa ini merusak harmonisme yang ada, kala Ferdinand dan Isabella mengeluarkan Dekrit Alhambra, yang berisi pengusiran semua orang Yahudi dari Spanyol --kecuali hendak pindah agama jadi Katolik. Hampir sebanyak 300.000 orang Yahudi meninggalkan negeri itu, meski kemudian banyak yang kembali. Konon peristiwa ini juga menandai berakhirnya 780 tahun kekuasaan kerajaan Islam atas Andalusia.

Sedemikian itulah peliknya kompleksitas merawat keberagaman. Sebuah zaman yang "diidealkan" nyatanya hanya mampu bertahan beberapa abad belaka. Convivencia runtuh, keharmonisan berserak, kerukunan tercerai-berai, dan pada akhirnya menciptakan permusuhan yang tak pelak berujung perang.

Kedamaian adalah tujuan. Kedamaian menciptakan rasa tenang dan aman dalam kehidupan. Banyak kebaikan yang dibawa hal baik --kedamaian. Saling sapa, saling menolong, bekerja sama, berbagi ilmu pengetahuan, memahami ajaran, yang semuanya itu mendulang kemajuan bersama. Alangkah indah bila itu terjadi. Berbagai agama, suku, dan bangsa hidup dalam tujuan itu, membangun peradaban dengan corak masing-masing.

Alangkah indah dunia dengan ragam corak itu dalam sebuah konsep kedamaian. Namun, alangkah menyedihkannya keinginan damai (universal atau mayoritas belaka?) yang ingin kita raih itu. Lihatlah, tataplah sekeliling Anda, apakah Anda menemukan apa yang disebut sebagai kedamaian itu? Lihatlah tetangga-tetangga Anda, apakah Anda saling menghormati tanpa ada rasa kecurigaan secuil pun? Lihatlah televisi Anda, apakah layarnya menampilkan hal-hal sesuai azas atau kerangka atas kedamaian?

Tampaknya belum --meski, bukannya tidak. Saat ini, Anda dan saya hidup dalam suatu kehidupan yang memiliki keinginan untuk tujuan damai. Namun, keinginan itu kita jadikan sebagai utopisme yang terasa terlalu berat untuk diwujudkan. Sebab jumlah kita yang hidup di dunia ini begitu banyak, bermiliar, sehingga kompleksitas atas keinginan ini menjadi semakin rumit untuk diwujudkan secara bersama. Konon pula, ada pihak yang tidak sesuai dengan keinginan atau tujuan kedamaian ini.

Ada pihak yang berusaha menciptakan kondisi perpecahan, sekadar keuntungan ekonomi belaka. Ada pihak yang memberontak atas nama hak. Ada pihak yang menjadi produsen senjata. Ada pihak yang sengaja menciptakan skema agar perpecahan terus berlangsung, sepanjang hayat manusia. Hari demi hari kita dilanda kebencian yang berlarut-larut. Berbagai konflik dan perang yang terjadi melahirkan dua persepsi, dua kubu yang berbeda: pro dan kontra.

Ketika beberapa waktu lalu Amerika Serikat meluncurkan rudal ke Damaskus, Suriah (14/4) sontak kebencian saya langsung bergejolak. Lansiran sebuah media cetak nasional menuliskan: Bersama Prancis dan Inggris, AS menyerang sejumlah lokasi di Suriah yang ditengarai menjadi tempat pengembangan senjata kimia.

Coba kita cermati kata "ditengarai" ini. Menurut KBBI "tengara" berarti tanda atau firasat. Ini mengisyaratkan bahwa mereka hanya baru berfirasat Suriah mengembangkan senjata kimia. Betapa keji kita sebagai manusia. Firasat pun kita percayai sebagai suatu kepastian (sementara anehnya ada yang tidak percaya mukjizat). Tak lain, ini terjadi karena nurani kemanusiaan yang telah buta. Membunuh satu orang tak lagi beda dengan membantai ribuan atau jutaan orang. Nyawa manusia kehilangan arti.

Segala kekejian berhasil kita sucikan dengan kekejian yang lebih baru, yang lebih dahsyat dampaknya. Alhasil, sifat kita yang pelupa berkorelasi dengan sifat kebencian yang semakin menggelembung, bak bola salju. Kebencian bergumpal-gumpal dalam benak kita. Dunia terpecah oleh rasa itu; rasa yang hampir dimiliki oleh seluruh manusia. Alhasil, dunia menjadi arena bagi segala ajang dan perang. Hampir setiap hari berita pertumpahan darah kita saksikan, baik langsung maupun dari layar televisi.

Malangnya, dari semua peristiwa itu, kita tak mampu (bukannya tak mau) berbuat apapun. Kita hanya terdiam, memandang, dan akhirnya menganggap hal-hal seperti itu sebagai santapan harian yang hambar. Walau masih ada dari kita nuraninya masih bekerja, dan meledak melihat kekejian-kekejian yang berlangsung. Namun, tak cukup lama rasa ledak atau amarah itu bertransformasi menjadi kutukan atau makian yang diujarkan, untuk kemudian dilupakan, dan kembali seperti biasa seolah tak terjadi apa.

Ini merupakan bentuk kronik peradaban kemanusiaan. Saya tak sepakat bila ini disebut sebagai suatu "kekuatan mental" menghadapi keadaan. Nurani diciptakan Tuhan untuk mengajarkan manusia agar "punya hati" yang baik, bersih, dan terjaga. Nurani bukan sekadar rongga imajiner yang hanya menampung dan mengeluarkan kembali.

Lebih dari itu, nurani harus mampu menyerap, meresapi, dan memaknai setiap peristiwa yang dialami maupun disaksikannya. Lewat nurani kita bergerak. Bila nurani kita berontak atas satu keadaan, maka semestinya kita harus melawan keadaan itu, setidak-tidaknya lewat doa. Walau tak selalu benar, justru nurani mesti dijadikan acuan atau pemandu dalam bertindak untuk mengambil keputusan dari segi moral. Parahnya ialah nurani kebanyakan dari kita telah buta.

Segala bentuk pemuas dunia menyilaukan tak hanya mata, juga nurani kita. Demi itu meraih itu semua, nurani dibutakan secara sengaja, agar nurani tak lagi bisa melihat segala bentuk kekejian yang kita lakukan. Secara sengaja kita menutup dialog diri, dialog pada batin kita. Seolah kita tak ingin siapa pun tahu apa rencana dan yang kita lakukan. Bahkan pada diri sendiri pun kita telah curiga! Begitu kehidupan kita yang terjadi saat ini. Setiap manusia hidup dalam jalur yang dibuatnya sendiri.

Secara tidak disadari, jalur-jalur itu membentuk sebuah labirin ketidakpedulian. Kita sama sekali tidak (mau) mengenal orang lain, berbeda suku, agama, dan bangsa. Setiap dari kita ingin mencalonkan diri menjadi eksistensi tunggal. Eksistensi yang tak tergugat, tanpa cela, seolah bersih dari segala bentuk kedurjanaan. Alangkah pongah kita sebagai manusia. Teramat banyak dari kita tak lagi sempat untuk bersapa dengan Sang Pencipta, konon pula dengan sesamanya.

Ketidakpedulian ini tercipta dari berbagai kekejian-kekejian yang berlangsung, bersamaan dengan kelahiran atas kebencian. Sudah semestinya kita mengakhiri duistere era (masa kegelapan) secara sepenuhnya, dan bersama-sama. Selama surya masih bersinar, waktu untuk mencipta jalan benar dan bersinar itu masih ada.

Mari kita berkaca pada diri, mengikis kerak-kerak yang menutupi nurani, kembali membaca ayat-ayat-Nya, dan menyadarkan kekerdilan diri sebagai manusia. Dengan demikian kita membuang segala ketidakpedulian, kebencian, dan kekejian yang melanda selama ini. Kita kenali Sang Pencipta, diri sendiri, dan orang lain. Sebab dengan mengenal, kita memahami. Dengan memahami kita menerima. Dengan menerima inilah gerbang kedamaian terbuka.

Muhammad Husein Heikal kolumnis, analis Economic Action (EconAct) Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed