DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 16 Mei 2018, 15:02 WIB

Kolom

Puasa: Mengendalikan Diri dan Empati

Muhammad Afifuddin - detikNews
Puasa: Mengendalikan Diri dan Empati Infografis: Andhika Akbaryansyah
Jakarta - Bulan Ramadan sudah di pelupuk mata. Banyak dinamika umat Islam dalam menyambut bulan puasa ini. Ada yang gembira, ada yang susah. Ada yang datar saja: tidak sedih, tidak pula tampak wajah antusiasnya. Dinamika ragam umat Islam ini merupakan potret keimanan umat Islam kepada sang Khaliq-nya. Karena, iman itu fluktuatif; kadang naik, kadang turun. Atau, dalam bahasa agamanya diistilahkan dengan Al-Iman yazid wa yanqus.

Setiap orang Islam tentunya tidak ingin imannya semakin anjlok dan terpuruk. Mereka berharap imannya tetap terjaga, dan kalau bisa tentunya ingin naik dan bertambah. Tapi, iman adalah masalah rasa. Ia tidak bisa dipompa hanya dengan kata ingin, tapi tidak mau bergerak. Ini seolah seperti orang ingin kenyang, tapi tangannya tidak mau bergerak ambil nasi dan lauk, dan memasukkannya ke mulutnya.

Untuk memotivasi agar umat Islam antusias menyambut Ramadan, ada beberapa cara. Di antaranya dengan iming-iming pahala orang puasa. Bahwa, orang berpuasa nominal pahalanya luar biasa, dan tiada terhitung. Satu kebaikan saja dihargai Allah takaran minimalnya sepadan, atau 10 hingga 600 kali balasan kebaikan. Tidak seragamnya harga amal satu kebaikan karena ditimbang dengan neraca keikhlasan. Namun, harga pahala puasa lebih dari itu semua.

Allah sendiri telah berjanji dalam sebuah Hadis Qudsi yang berbunyi, "Semua amal kebaikan anak manusia akan dibalas dan kembali kepada dia kecuali pahala puasa. Karena aku sendiri yang akan membalasnya." HR. Abu Hurairah. Pertanyaan mungkin akan muncul dari hadis ini, "Lho, bukanya semua amal kebaikan anak manusia yang membalasnya adalah Allah sendiri? Lalu, apa bedanya amal puasa ini dengan amal kebajikan yang lain?"

Itulah uniknya amal puasa; Allah turun tangan sendiri memberi balasan langsung kepada orang yang mau berpuasa karena-Nya. Kenapa amal puasa ini berbeda dengan amalan kebajikan yang lain? Karena amalan puasa ini tidak ada gerakan tangan atau kaki yang bisa mendorong untuk pamer (riya), seperti halnya ibadah-ibadah yang lain dalam bentuk salat, zakat, dan haji. Yang tahu seseorang puasa atau tidak hanyalah dirinya sendiri dan Allah.

Pintu "curang" dalam ibadah puasa ini sangat terbuka. Oleh karena itulah, Allah sangat menghargai dan membanggakan kepada mereka yang sungguh-sungguh berkomitmen dalam berpuasa. Bahkan, bau busuk mulut orang berpuasa pun harum di mata Allah.

Ibadah Rahasia

Puasa adalah ibadah rahasia. Karena itulah puasa adalah ibadah yang mengajarkan kejujuran. Lalu pertanyaannya, bagaimana ibadah yang bersifat privat ini bisa membentuk kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial? Sejatinya puasa itu membentuk pribadi yang jujur dan peduli dengan sesamanya. Puasa mengajarkan empati penderitaan kaum dhuafa, betapa kaum ini sangat membutuhkan uluran tangan saudaranya yang punya materi berlebih.

Ketika manusia mau bersikap jujur dan peduli dengan sesamanya, maka sempurnalah hidup ini. Tidak perlu lagi ada yang namanya konflik dan kemiskinan. Karena semua telah berubah menjadi satu saudara yang saling membantu. Seperti bangsa semut yang bersatu padu, bergotong royong, dan saling tegur sapa ketika berjumpa. Alangkah indahnya hidup, jika manusia telah berubah menjadi satu ikatan saudara yang saling menyayangi, dan bukan saling menggunjing atau melukai.

Dengan hadirnya kejujuran dan saling membantu, maka muncullah rasa kepercayaan kepada sesama manusia. Adanya konflik seperti perang karena manusia tidak jujur dan tidak saling percaya. Manusia cenderung ingin menguasai dan mendominasi. Dan, berusaha merebut baju kekuasaan dan kesombongan milik Ilahi Rabbi dengan cara-cara keji. Inilah kepongahan manusia yang gila kehormatan dan ingin "disembah" bak sang Tuhan. Akhirnya timbullah perpecahan, dan kezaliman merajalela di mana-mana.

Manusia harus ingat sejarah konflik antara manusia dan Iblis. Sejarah bagaimana sang Iblis harus rela terusir dari surga karena kesombongannya yang merasa lebih hebat daripada manusia. Oleh karenanya, jika manusia mengikuti jejak sang Iblis dengan baju kesombongannya, maka nasibnya tidak akan jauh beda dengan apa yang menimpa Iblis yang jauh dari rahmat Ilahi.

Nah, di antara fungsi puasa adalah menurunkan ego status sosialnya agar menjadi manusia muttaqin. Kelompok manusia yang telah dijamin Allah akan mendapatkan jatah tiket masuk surga secara langsung, karena kemampuannya mengendalikan diri dan berempati kepada sesama. Dengan menghayati nilai-nilai dan makna puasa, maka seseorang akan menjadi sosok yang lemah lembut dan punya empati dengan orang lain, khususnya para kaum miskin.

Dengan berpuasa, emosi dan nafsu manusia akan terkendali. Inilah kehebatan madrasah puasa. Dalam masa waktu tidak lebih dari 30 hari, umat muslim telah dididik untuk memiliki perilaku jujur, sabar, dan empati kepada orang lain. Namun, ini semua tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh karakter dan niat yang kuat untuk mengarungi samudera puasa ini. Hakikat puasa bukan hanya sekadar mengosongkan perut, tapi semua anggota tubuhnya juga ikut berpuasa.

Mulut berpuasa untuk tidak menyakiti orang. Telinga berpuasa dengan tidak mendengar gosip, dan hal-hal yang memalingkan dari Allah. Mata berpuasa untuk tidak melihat hal-hal yang menimbulkan syahwat dan birahi atau emosi. Tangan berpuasa untuk tidak mengambil hak atau menyakiti orang lain. Kaki berpuasa untuk tidak diayunkan ke tempat-tempat maksiat. Hati berpuasa dengan tidak berburuk sangka, iri, dengki, dan sombong. Akal berpuasa dari sifat memanipulasi.

Ketika umat muslim mampu mempuasakan semua anggota tubuhnya, maka dia akan berubah menjadi sosok yang sopan, lemah lembut, menghargai, dan peduli kepada orang lain. Dengan demikian, ia layak memakai baju ketakwaannya dan mendapatkan reward berupa maghfirah dan kasih sayang Allah.

H. Muhammad Afifuddin, MA Ketua STITAF Siman Lamongan, Kandidat Doktor PBA UIN Maliki Malang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed