DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 08 Mei 2018, 11:07 WIB

Mimbar Mahasiswa

Tenaga Kerja Asing dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Abdul Hamid Mansur - detikNews
Tenaga Kerja Asing dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Ilustrasi: Fuad Hasim/detikcom
Jakarta -

Pada 26 Maret 2018 Presiden Joko widodo telah resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA), dan telah berhasil diundangkan sejak 29 Maret 2018.

Dua bulan setelah itu, Perpres tersebut akan berlaku. Pertimbangan Perpres tersebut adalah untuk mendukung perekonomian nasional dan perluasan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi. Pada pemerintahan sebelumnya telah diundangkan Perpres nomor 72 tahun 2014 tentang Penggunaan TKA dengan pertimbangan yang sama. Dengan begitu Perpres yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dicabut, dan tidak berlaku lagi setelah diundangkannya Perpres Nomor 20 Tahun 2018.

Perpres ini merupakan sebuah keniscayaan. Kalau kita melihat kaca spion sejarah, pada 1994 Indonesia telah mengikatkan diri sebagai anggota World Trade Organization (WTO). Aturan mainnya adalah General Agreement on Trade in Services (GATS) sebagai pembukaan akses pasar antarnegara anggota WTO serta Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. Namun, masalah tenaga kerja asing ini selalu mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Mari kita lihat Perpres tersebut sesuai dengan pertimbangannya, yaitu pertumbuhan ekonomi nasional dan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi.

Pada dasarnya semakin tinggi perkembangan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara, semakin banyak pula peluang kesempatan kerja yang tersedia bagi para pekerja baik Tenaga Kerja Lokal (TKL) maupun TKA. Pendapat ini umumnya disandarkan pada Hukum Say yang menyatakan bahwa penawaran akan selalu menciptakan permintaan (supply create it's own demand).

Greenwood dan Mcdowell berpendapat bahwa masuknya TKA dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan masyarakat terhadap barang-barang dan jasa yang dihasilkan serta pembentukan modal yang terjadi di negara bersangkutan. Sedangkan Jodge dan Mancurz berpendapat sebaliknya bahwa masuknya TKA membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan tingkat upah untuk TKL. Kesempatan kerja dan upah akan mempengaruhi daya beli masyarakat; apabila daya beli masyarakat menurun akan mengakibatkan tidak bertumbuhnya perekonomian nasional.

Di sisi lain, Orman dan Meikle percaya bahwa bentuk hubungan saling melengkapi antara TKA dengan TKL telah memberikan manfaat yang cukup besar dalam mendorong peningkatan laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut sebagaimana Perpres Pasal 26 dan 27 tentang pendidikan dan pelatihan sebagai proses peralihan teknologi dan keahlian. Berbeda dengan Alfitra Salam, masuknya TKA seperti ini hanya akan menimbulkan berbagai persoalan di bidang sosial, ekonomi, dan politik di negara penerima TKA tersebut karena banyak di antara mereka yang masuk secara illegal.

Dari sisi kesempatan kerja TKA tidak akan mengurangi peluang kesempatan kerja bagi pekerja lokal karena mereka merupakan pelengkap dalam proses produksi. Tetapi dari beberapa riset di Amerika Serikat dan Austria justru ditemukan lebih banyak membawa negatifnya akibat masuknya TKA ke dalam pasar tenaga kerja suatu negara terhadap peluang kesempatan kerja untuk pekerja lokal.

Kajian yang dilakukan oleh Lalonde & Topel (1991) dan Altonji & Card (1991) dengan menggunakan data hasil sensus penduduk di Amerika Serikat menemukan bahwa pengaruh TKA terhadap peluang pekerjaan untuk pekerja lokal adalah negatif, yaitu dengan koefisien elastisitas berkisar antara -0.038 hingga -0.062. Artinya, setiap kenaikan I% tenaga kerja asing akan menurunkan peluang pekerjaan untuk pekerja lokal antara 0,038% hingga 0,062%. Hasil-hasil temuan ini menunjukkan bahwa masuknya TKA ke dalam pasar tenaga kerja Amerika Serikat telah menyebabkan berkurangnya peluang kesempatan kerja untuk tenaga kerja lokal di negara tersebut.

Di Austria, kajian yang dilakukan oleh Winter dan Zweimuller (1999) tidak jauh berbeda dengan kajian yang dilakukan oleh ahli-ahli sebelumnya. Dengan mengunakan data pekerja usia muda di bawah 35 tahun selama periode 1988-1991 ditemukan hubungan yang relatif besar dan negatif antara masuknya TKA dengan peluang kesempatan kerja untuk pekerja lokal dalam kelompok umur yang sama. Ditemukan setiap 1% peningkatan masuknya TKA akan meningkatkan pengangguran pekerja lokal usia muda sebesar 5%.

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah TKA sejak tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada 2015 jumlah TKA mencapai 69.025 orang, meningkat 7,5% menjadi 74.183 orang pada 2016. Sedangkan pada 2017 meningkat 15,9% menjadi 85.947 orang. Setelah masuknya TKA ke Indonesia jumlah pengangguran pada 2017 terjadi kenaikan 0,14% yakni sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang.

Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 128,06 juta orang. Jumlah tersebut naik 2,9% yaitu 2,62 juta dibanding Agustus 2016 yang sebanyak 125,44 juta orang. Artinya 15,9% peningkatan masuknya TKA ke Indonesia membuat tingkat pengangguran di Indonesia menjadi 0,14%.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan para ahli dan analisis penulis di atas bahwa masuknya TKA lebih banyak negatifnya terhadap suatu negara. Kalau kita kembali pada apa yang menjadi pertimbangan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 adalah sebuah harapan semu belaka rezim Jokowi, karena yang terjadi adalah sebaliknya.

Peningkatan investasi harus berbanding lurus dengan berkurangnya tingkat pengangguran, bukan meningkatkan TKA ke Indonesia. Dalam hal ini seharusnya pemerintah memanfaatkan jumlah angkatan kerja yang terus meningkat dengan memberikan kesempatan kerja semaksimal mungkin. Dengan berkurangnya tingkat pengangguran, daya beli masyarakat akan meningkat yang pada akhirnya mendukung perekonomian nasional.

Abdul Hamid Al-Mansury mahasiswa STEI Tazkia Sentul City Bogor, Kabid PA HMI Cabang Bogor




Saksikan video terkait di 20detik:


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed