detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 03 Mei 2018, 16:00 WIB

Kolom

Makna Strategis Reindustrialisasi

Zulkifli Hasan - detikNews
Makna Strategis Reindustrialisasi Zulkifli Hasan
Jakarta -

Deindustrialisasi sudah menjebak Indonesia sepanjang 15 tahun terakhir. Kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus merosot, dari 28,34% pada 2004, pada 2014 menjadi 21,01%, dan terus turun --2015 (20,99%), 2016 (20,51%), 2017 (20,16%). Industri manufaktur adalah proses produksi via mekanisasi (menggunakan mesin) untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai jual dalam skala besar atau produksi massal. Kelebihannya, industri manufaktur andalan akan mampu menyerap tenaga kerja yang besar dengan kapasitas produksi yang diutamakan adalah untuk ekspor.

Namun, dengan sejarah industri manufaktur Indonesia yang berangkat sebagai substitusi impor, faktanya kemudian porsinya ternyata lebih besar untuk pasar domestik. Tercatat kapasitas ekspornya hingga kini hanya sekitar 40%. Lebih kecil dibanding ekspor produksi manufaktur Malaysia (62%), India (55%), serta Thailand dan Vietnam (73%). Masalah lain, sektor manufaktur hanya mampu menorehkan tingkat pertumbuhan yang selalu di bawah PDB.

Lihat saja, sepanjang 2011—2017 rata-rata pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,82%, sedangkan pertumbuhan PDB rata-rata 5,39%. Namun, sumbangan industri manufaktur yang seperlima PDB tersebut masih terbilang sebagai kontribusi terbesar, dibanding sektor pertanian dan perdagangan yang masing-masing hanya 13%. Meskipun disayangkan, dalam hal penyerapan tenaga kerja, manufaktur di posisi keempat setelah pertanian, perdagangan, dan sektor jasa kemasyarakatan.

Padahal, di era 1990-an industri manufaktur Indonesia masih berjaya dengan pertumbuhan 11 persen per tahun, dan menguasai 4,6 persen industri manufaktur dunia. Tetapi kejayaan tersebut kian surut, dan saat ini industri manufaktur Indonesia hanya mampu tumbuh sekitar 4-5 persen per tahun. Otomatis, Indonesia sebagai negara terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN belum dapat menguasai perdagangan kawasan. Indonesia hanya dijadikan pasar oleh negara tetangga, terutama dari produk-produk manufaktur. Akibatnya neraca perdagangan Indonesia seringkali defisit.

Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi sektor industri manufaktur sangat berat. Apabila perhatian kebijakan terhadap sektor ini tidak ditingkatkan, dikhawatirkan gejala deindustrialisasi yang belakangan sudah mulai berlangsung lambat laun akan semakin menjadi kenyataan. Kekhawatiran terhadap rendahnya daya saing industri manufaktur bukan saja berdampak pada perdagangan. Lebih dari itu, pelemahan kinerja manufaktur juga berdampak pada perekonomian. Struktur ekonomi menjadi kian rapuh karena hanya didukung oleh perkembangan sektor yang kurang menyerap tenaga kerja formal, dan cenderung menyerap pekerja informal.

Saya berpendapat, Indonesia akan sulit maju jika sektor informal terlalu besar karena produktivitas ekonomi sulit berkembang. Jadi, pemerintah harus benar-benar fokus memikirkan langkah-langkah untuk melakukan reindustrialisasi, termasuk aneka rupa insentif, apa pun bentuknya. Karena insentif akan menjadi motor yang bisa menggerakkan investasi, terutama insentif untuk sektor manufaktur yang akan menghangatkan kembali mesin-mesin sektor industri kita. Jika tidak, peningkatan konsumsi dalam negeri, misalnya, hanya akan diisi oleh produk-produk impor yang akan mempertebal kocek negara importir sebagaimana biasanya terjadi selama ini.

Imbasnya sampai hari ini tentu sudah kita lihat dan rasakan. Dari sisi ekspor, misalnya. Meskipun ekspor Indonesia yang terbesar ditujukan ke negara-negara anggota ASEAN, total neraca perdagangan non migas Indonesia dengan negara-negara sekawasan ternyata selalu mencatatkan defisit, atau dengan kata lain nilai impornya jauh lebih besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam sejarah 15 tahun (2000-2015) Indonesia pernah mencapai surplus neraca perdagangan hanya pada 2011. Setelah itu defisit neraca perdagangan cenderung semakin melebar dari tahun ke tahun. Dari sembilan negara ASEAN, perdagangan Indonesia hanya surplus terhadap Filipina, Myanmar, Kamboja, dan Laos.

Kemudian, secara keseluruhan kinerja total ekspor Indonesia baik migas maupun nonmigas dalam enam tahun (2011-2016) memang mengalami penurunan drastis yakni dari US$ 203.495,6 juta menjadi sekitar US$ 144.433,5 juta, atau turun sebesar 29,02%. Sementara itu, dalam periode yang sama impor juga mengalami penurunan dari US$ 177.435,6 juta menjadi US$ 135.650,7 juta, atau turun sebesar 23,5%. Nah, penurunan laju ekspor yang lebih besar dari laju impor menyebabkan surplus neraca perdagangan Indonesia turun dari US$ 26.061,1 juta menjadi US$ 8.782,8 juta. Di sisi lain, ekspor nonmigas di periode sama turun 18,9% dari US$ 162.019 juta menjadi US$ 131.346,5 juta.

Sedangkan impor non migas hanya turun 14,5% atau turun dari US$ 136.734 juta menjadi US$ 116.925,9 juta. Akibatnya surplus neraca perdagangan non migas turun dari US$ 25.283,5 juta pada 2011 menjadi US$ 14.420,6 juta pada 2016. Data menunjukkan, tujuan ekspor non migas Indonesia didominasi negara-negara ASEAN, yakni mencapai 22,3% pada 2015. Pangsa ekspor non migas ke negara-negara ASEAN mengalami peningkatan dibandingkan 2011 yang hanya mencapai 20,7%. Namun, nilai ekspornya mengalami penurunan sebesar 20,2%, atau turun dari sekitar US$ 42.098,9 juta (2011) menjadi US$ 33.577 juta (2015).

Perkembangan serupa terlihat pada dua bulan berturut-turut sejak awal tahun, bahkan sejak Desember 2017. BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 670 juta pada Januari 2018. Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara antara lain China, Thailand. Secara umum memang ada surplus US$ 182 juta di sektor non migas pada Januari. Kendati demikian, impor pun naik sehingga tercatat defisit neraca perdagangan US$ 670 juta pada Januari 2018. Adapun untuk nonmigas, surplusnya tercatat US$ 182 juta yang kemudian terkoreksi dengan adanya defisit migas.

Sebenarnya, neraca perdagangan Indonesia sudah mengalami defisit sejak Desember 2017. Pada Desember 2017, Indonesia tercatat defisit US$ 0,27 miliar yang dipicu defisit sektor migas US$ 1,04 miliar. Namun, ketika itu neraca perdagangan sektor nonmigas surplus US$ 0,77 miliar sehingga secara keseluruhan masih tercatat surplus. Kondisi pada Februari pun ternyata masih tetap sama. BPS merilis hasil neraca perdagangan per Februari 2018 yang mengalami defisit sebesar 0,12 miliar dolar AS.

Melalui hasil ini, neraca perdagangan Indonesia sudah tiga kali mengalami defisit secara berturut-turut sejak akhir 2017 lalu. Berdasarkan catatan BPS, defisit neraca perdagangan Indonesia per Februari 2018 dipicu oleh defisit sektor migas sebesar 0,87 miliar dolar AS walaupun neraca perdagangan sektor nonmigas surplus 0,75 dolar AS. Cilakanya lagi, nilai ekspor Februari 2018 yang mencapai 14,10 dolar AS terbilang turun 3,14 persen dibanding Januari 2018. Komponen nilai ekspor Februari dari sektor migas sebesar 1,39 dolar AS, masih naik 5,08 persen dibanding nilai ekspor migas Januari 2018 sebesar 1,32 miliar dolar AS.

Sementara, untuk sektor nonmigas terjadi penurunan nilai ekspor 3,96 persen, dari 13,23 miliar dolar AS pada Januari 2018 menjadi 12,71 miliar dolar AS untuk Februari 2018. Sedangkan rincian nilai impor Februari 2018 tercatat sebesar 14,21 miliar dolar AS, yang secara umum turun 7,16 persen dibanding Januari 2018. Bila dibagi per sektor, terjadi kenaikan tipis untuk nilai impor barang migas sebesar 0,06 persen dengan nilai yang kurang lebih sama untuk Januari dan Februari, yakni 2,26 miliar dolar AS. Kondisi neraca perdagangan seperti ini membuat Indonesia mencatatkan net international investment position negatif lebih dari USD 400 miliar, alias mempunyai net external liabilities, atau benar-benar negara dengan neraca sebagai negara debitor.

Apa artinya? Artinya, kapasitas bayar utang Indonesia akan semakin melemah, mengingat di satu sisi tax ratio Indonesia yang sangat rendah dan sulit bertumbuh, di sisi lain kekuatan ekspor internasional Indonesia pun kurang menjanjikan dan semakin keropos (akibat deindustrialisasi) untuk mendapatkan devisa yang berlipat. Itulah sebabnya, banyak pihak berpendapat bahwa utang Indonesia berada di atas fondasi ekonomi yang semakin keropos. Untuk itu, tidak bisa tidak, pemerintah harus melakukan langkah-langkah yang sangat strategis untuk membangun ulang sektor industri kita (reindustrialisasi), dan secara perlahan melakukan pembenahan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa dinikmati secara adil dan merasa oleh masyarakat. Semoga!

Zulkifli Hasan Ketua Umum Partai Amanat Nasional dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed