DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 03 Mei 2018, 12:00 WIB

Kolom

Meneropong Pilpres 2019 dari Pilkada 2018 di Jawa

Oddi Arma - detikNews
Meneropong Pilpres 2019 dari Pilkada 2018 di Jawa Ilustrasi: ist.
Jakarta -
Populasi penduduk Pulau Jawa yang jauh lebih besar dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia menjadikan pulau seluas 126.700 Km2 ini kunci dalam setiap hajatan pemilu baik nasional (pemilu legislatif dan pemilu presiden) maupun pemilihan kepala daerah (pilkada).

Pada Pemilu Presiden 2014 lalu, total pemilih di seluruh Pulau Jawa mencapai 108.904.238 dengan rincian DKI Jakarta 7.096.168 pemilih, Jawa Barat 33.045.082 pemilih, Jawa Tengah 27.385.217 pemilih, D.I. Yogyakarta 2.752.275 pemilih, Jawa Timur 30.639.897 pemilih, dan Banten 7.985.599 pemilih; dari total keseluruhan pemilih di Indonesia (plus pemilih di luar negeri) 190.307.134. Ini artinya, sekitar 58 persen pemilih berada di Pulau Jawa.

Untuk pemilu legislatif, partai politik (parpol) yang meraih suara signifikan di Jawa dipastikan melenggang ke Senayan, walaupun di luar Jawa perolehan suaranya biasa-biasa saja. Begitu juga dengan pemilu presiden. Calon presiden yang mendapat suara terbesar di Pulau Jawa dapat dipastikan menjadi Presiden Indonesia berikutnya. Sementara, untuk pemilihan kepala daerah khususnya Pilkada 2018, Jawa adalah 'petunjuk penting' bagi parpol dan calon presiden tentang bagaimana nasib mereka pada Pemilu Nasional 2019.

Pada 2018 ini, tiga provinsi penyumbang pemilih terbanyak yaitu Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim) sedang menggelar pilkada. Hingga 23 Juni 2018 mendatang, delapan pasang calon gubernur/wakil gubernur (Jabar 4 pasang, Jateng 2 pasang, Jatim 2 pasang) yang berlaga di Jawa ini masih akan berkampanye menjual figur dan program kerja mereka masing-masing.

Jika ditotal jumlah pemilih di tiga provinsi tersebut berdasarkan daftar pemilih, jumlahnya mencapai 89.442.947 (Jabar 31.708.330 pemilih, Jateng 27.348.878 pemilih, Jatim 30.385.73 pemilih). Sebagai pembanding, pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi-JK yang ditetapkan sebagai pemenang hanya meraup 70.997.833 suara pemillih. Sementara, pasangan Probowo-Hatta Rajasa perolehan suaranya sebesar 62.576.444 pemilih. Bisa dibayangkan begitu penting dan strategisnya pertarungan pilkada di ketiga provinsi itu. Tidak hanya sebagai ajang pemanasan, hasil Pilkada 2018 di Jawa nantinya dapat dijadikan gambaran siapa pemenang Pilpres 2019.

Pada Pilkada 2018 di Jawa ini, konfigurasi dukungan parpol kepada para calon gubernur/wakil gubernur cukup 'cair'; di satu provinsi beberapa partai berkoalisi, tetapi di provinsi lain saling berhadap-hadapan karena mendukung calon yang berbeda.

Di Jabar konfigurasi dukungan parpol terpecah kepada empat pasangan calon yaitu Ridwal Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (PPP dengan 9 kursi, PKB dengan 7 kursi, Partai Nasdem dengan 5 kursi, Partai Hanura dengan 3 kursi), Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan (PDIP dengan 20 kursi), Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Partai Gerindra dengan 11 kursi, PKS dengan 12 kursi, dan PAN dengan 4 kursi), dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Partai Demokrat dengan 12 kursi, dan Partai Golkar dengan 17 kursi).

Di Jateng konfigurasi dukungan parpol terbagi kepada dua pasang calon yaitu Sudirman Said-Ida Fauziah (PKB dengan 13 kursi, Gerindra dengan 11 kursi, PKS dengan 10 kursi, dan PAN dengan 8 kursi), dan Ganjar Pranowo-Taj Yasin (PDIP dengan 27 kursi, Partai Nasdem dengan 4 kursi, PPP dengan 8 kursi, Demokrat dengan 9 kursi, dan Golkar dengan 10 kursi).

Sama seperti Jateng, dukungan parpol di Jatim juga pecah kepada dua kutub pasangan calon yaitu Khofifah-Emil Dardak (Partai Demokrat dengan 13 kursi, Golkar dengan 11 kursi, Nasdem dengan 4 kursi, PPP dengan 5 kursi, Hanura dengan 2 kursi, dan PAN dengan 7 kursi), dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri (PKB dengan 20 kursi, PDIP dengan 19 kursi, PKS dengan 6 kursi, dan Gerindra dengan 13 kursi).

Meneropong hasil Pilpres 2019 di Jawa berdasarkan konfigurasi dukungan parpol yang terjadi saat ini tentu sangat bisa diperdebatkan. Selain kita belum mengetahui siapa saja yang bakal menjadi penantang Jokowi, psikologi pemilih pilkada lebih kepada sosok calon gubernur/wakil gubernur dibanding parpol pengusungnya. Namun, jika kita asumsikan bahwa pada Pilpres 2019 nanti hanya ada Jokowi dan Prabowo, maka konfigurasi calon pada Pilkada 2018 di Jawa bisa menjadi acuan hasil Pilpres 2019 di Jawa.

Seperti yang kita ketahui bersama, terutama di Jabar dan Jateng para calon yang berlaga sudah mendaklarasi akan mendukung siapa pada Pilpres 2019 mendatang.

Jabar vs Jateng

Selain lumbung beras, Jabar adalah lumbung suara. Populasi pemilihnya membuat provinsi ini menjadi 'primadona' para calon presiden. Pada Pilpres 2014, Jokowi-JK kalah telak di provinsi yang dipimpin gubernur dari PKS ini. Selisih suaranya cukup besar yaitu mencapai 4.637.066 (Probowo-Hatta meraih 14.167.381 suara, Jokowi-JK 9.530.315). Jika saja pada Pilpres 2014 lalu Jokowi-JK tidak menang mutlak di Jateng dan di tiga provinsi lain yaitu Bali, Sulawesi Selatan, dan Papua hasil Pilpres 2014 akan berbeda.

Pastinya Jokowi tidak mau kalah lagi di Jabar. Selain giat membangun infrastruktur, dan berkali-kali mengunjungi berbagai kabupaten/kota di provinsi ini, lima dari delapan pasangan sudah mendeklarasikan diri mendukungnya pada Pilpres 2019 mendatang. Hanya ada satu pasang calon yang hampir pasti tidak mendukung Jokowi, yaitu Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan hanya satu calon gubernur yang belum jelas langkahnya pada pilpres mendatang yaitu Deddy Mizwar. Sisanya dipastikan mendukung Jokowi.

Berdasarkan beberapa survei, elektabilitas Sudrajat-Ahmad Syaikhu masih berkutat diposisi ketiga di bawah Emil-UU dan Deddy-Dedi. Dari hitung-hitungan sederhana, besar kemungkinan Prabowo akan kesulitan mengulang suksesnya pada Pilpres 2014, kecuali pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu bisa memenangi Pilkada Jabar 2018 ini.

Jika 'ramuan' Prabowo di Jabar ini bisa mengulangi sukses seperti di Jakarta, Jabar akan tetap digenggam Prabowo. Namun, jika kalah, pasangan yang diusung Gerindra dan PKS ini dipastikan bisa menjadi 'bencana' bagi Prabowo di Jabar karena Sudrajat adalah calon yang dipilih langsung Prabawo. Kekalahan pasangan yang diakronimkan dengan 'Asyik" ini akan menggerus ketokohan Prabowo di Jabar.

Konfigurasi paling menarik adalah di Jateng. Jika pasangan 'kuda hitam' Sudirman Said-Ida Fauziah berhasil menang di 'kandang banteng' akan menjadi 'peringatan keras' bagi Jokowi di Jateng. Seperti di DKI Jakarta dan Jabar, Sudirman Said adalah calon gubernur yang dipilih langsung Prabowo. Rakyat Jateng yang memilih Sudirman Said kemungkinan besar juga akan mencoblos Prabowo. Apalagi jika pada Pilpres 2019 mendatang PKB tidak ikut di gerbong Jokowi.

Kemenangan mutlak Jokowi di Jateng pada Pilpres 2014 dengan selisih suara hingga 6.473.820 (Prabowo-Hatta memperoleh 6.485.720 suara, Jokowi-JK 12.959.540) akan tergerus, dan ini berbahaya mengingat hasil Pilkada 2017 di Jawa yang lain yaitu Jakarta dan Banten, calon yang diusung PDIP —partai pengusung utama Jokowi— menelan kekalahan dramatis. Jika Sudirman Said menang, julukan Jateng sebagai 'kandang banteng' bisa jadi akan jadi kenangan saja.

Jawa Timur

Di Jatim, jika melihat konfigurasi dukungan parpol, sepertinya Jokowi tidak terkalahkan. Bahkan di provinsi ini disebut terjadi "All Jokowi Final" karena Gerindra, PAN, dan PKS gagal membentuk koalisi untuk membendung 'orang Jokowi' di Jatim. Baik pasangan Khofifah-Emil dan Saifullah-Puti sudah menyatakan mendukung Jokowi. Selain itu, berkaca dari Pilpres 2014, kemenangan Jokowi-JK di Jatim juga cukup signifikan dengan selisih hingga 1.392.225 (Prabawo-Hatta memperoleh 10.277.088 suara, Jokowi-JK 11.669.313).

Walaupun jalan politik menuju Pilpres 2019 akan sangat dinamis, tetapi Pilkada 2018 di Jawa sedikit-banyaknya akan menjadi teropong untuk menggambarkan seperti apa 'warna' dan hasil Pilpres 2019 mendatang. Apabila benar-benar terjadi 'de javu' antara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2019, hasil pilkada di Jawa yang akan kita ketahui setelah 27 Juni 2018 kemungkinan bergerak linear dengan perolehan suara Prabowo dan Jokowi pada 17 April 2019 nanti.

Oddi Arma media analis dan pemerhati pemilu


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed