Kolom

Jasa Orang-Orang Bandel

Irfan Fauzi - detikNews
Rabu, 02 Mei 2018 15:08 WIB
Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

Pada 1998 , Bank Indonesia (BI) menafsir semboyan pendidikan nasional meski agak wagu. BI mengeluarkan uang edisi pendidikan bernominal dua puluh ribu rupiah. Di salah satu lembar terpacak gambar Ki Hajar Dewantara sesahaja biasanya. Pada lembar sebaliknya, tergambar "kegiatan belajar" dari tafsir Tut Wuri Handayani. "Kegiatan belajar" bergambar ruang kelas dengan raut wajah siswa-siswi kelewat serius.

Tak ada percakapan di sana. Dan di antara banjar baris meja yang begitu teratur, seorang guru mengamati pekerjaan mereka dari belakang. Tut Wuri Handayani, di belakang muridnya, guru itu merasa memberi dorongan. Kendati sebenarnya lebih mirip tafsir Orde Baru pada Tut Wuri Handayani yang dialihkan sebagai dasar politik nasional mereka: "ada mata yang menghukum, yang mengawasi anak-anak warga dari belakang." (Shiraishi, 2009).

Ki Hajar Dewantara selalu (dan apesnya juga hanya!) Tut Wuri Handayani. Padahal ia punya sederet kata (yang jelas-jelas ampuh) membasmi keadaan tak asyik laiknya ruang kelas ala lembaran uang dua puluh ribu itu, misalnya: Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel!

Darsiti Soeratman dalam Ki Hajar Dewantara (1985) secara berturut mengartikan kata-kata itu sebagai percaya pada kekuasaan Tuhan dan diri, berani (kuat jiwanya), kuat menderita, dan kuat raganya. Bagi Ki Hajar Dewantara, jika kita yakin benar, mestilah kita berani dan kuat menderita, dan dengan sendirinya, raga kita turut menguat. Ki Hajar Dewantara bukanlah tukang kibul. Ia telah mempraktikkan kata-kata itu dalam peristiwa-peristiwa hidupnya. Misalnya kala pemerintahan kolonial berencana memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia-Belanda, ia menyiarkan esai cergas nan tajam, Seandainya Saya Seorang Belanda.

Pemerintahan kolonial geram. Mereka mendatangi Komite Bumiputera yang berencana memboikot perayaan kemerdekaan itu. Bukannya gentar, Ki Hajar Dewantara (yang kala itu masih bernama Suwardi Surjaningrat), bersama Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker merespons tindakan represif pemerintah dengan tulisan-tulisan yang dimuat Harian De Expres. Akibatnya, mereka disepak dari pulau Jawa.

Namun apa lacur, Suwardi dan kawan-kawannya ini sungguh bandel! Bayangkan saja, di pembuangan, Suwardi masih sanggup mengirim surat kepada Dekker: Tanah air meminta korban dan di sinilah kita, siap sedia memberi korban sesuci-sucinya [...] seluruh penjara menjunjung tinggi dan mencintai kita sebagai pembela bangsa. Sakit keras yang menghantam Suwardi tak merobohkan perjuangannya. Pada surat lain, Suwardi dengan garang menulis: Kita tak akan mundur setapak pun. Dan seorang ksatria hanya berbicara satu kali.

Tak lama di pembuangan, mereka bertiga diasingkan ke negeri Belanda. Dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, alih-alih pasrah, Suwardi kembali menulis surat tajam untuk memperingatkan teman-teman seperjuangannya di Tanah Air: janganlah kamu sekalian suka diludahi mukamu.

Pasca pengasingan, Suwardi masih saja bandel. Pada 5 Juni dan 24 Agustus 1920 ia kembali ditahan berkat buah pikirnya. Ketika pihak kolonial tahu bahwa Suwardi berasal dari keluarga bangsawan dan hendak diperlakukan istimewa, Suwardi malah menolak!

Setelah bebas, Suwardi tak merasa perlu menunggu lama untuk bikin gara-gara lagi. Suwardi, yang pada era kini kerap digambarkan sebagai sosok tua yang penuh sahaja itu, terkena delik pers (lagi). Pada November itu, ia dituduh menghina Ratu Wilhemina, menghina badan pengadilan, menghina Pangreh Praja, dan menghasut untuk merobohkan pemerintahan. Berkat pikirannya yang kerap bikin gerah pemerintahan kolonial, ia "mendapat kehormatan" menjadi wartawan Hindia-Belanda (Indonesia) pertama yang kena delik pers. Dan, tak lama pasca-mentas dari kurungan, lagi-lagi Suwardi dikurung berkat pidatonya. Bandel betul!

Setelah memilih fokus pada jalur pendidikan pun Ki Hajar Dewantara masih konsisten dengan kebandelannya yang begitu sangat. Ia, misalnya, menolak tunduk pada Undang-Undang (UU) Sekolah Liar. Telegramnya yang ditujukan pada Gubernur Jenderal Buittenzorg sebagai respons atas UU Sekolah Liar bahkan bernada mengancam (sungguh kendel!): saya memperingatkan, bahwa walaupun makhluk tak berdaya mempunyai rasa asali (insting) untuk menangkis bahaya guna menjaga diri dan demikianlah juga boleh jadi kami karena terpaksa akan mengadakan perlawanan sekuat-kuatnya dan selama-lamanya...

Jika Ki Hajar Dewantara manut pada segala yang diinginkan pemerintahan kolonial, kita mungkin tak bakal mengenal Ki Hajar Dewantara dengan konsep Taman Siswa-nya yang menawan itu. Kata "bandel" agaknya juga dapat diartikan sebagai "perlawanan" pula, selain "kuat menderita". Bandel acap kali antonimkan dengan manut—orang yang menurut saja apa kata bos. Dan, sejarah pendidikan modern Indonesia memang banyak berutang pada orang-orang bandel macam Suwardi ini.

Beberapa tahun sebelum Ki Hajar Dewantara, misalnya, kita mengenal Dewi Sartika. Kita tak tahu apa yang Uwi (sapaan bocah Dewi Sartika) pikirkan tatkala ayahnya dituduh terlibat dalam peristiwa pemasangan dinamit pada pertengahan Juli 1893 di lapangan pacuan kuda Tegallega. Yang kita tahu, keluarganya jadi berantakan. Ibunda Uwi tak kuasa mempertahankan keluarga. Masa itu, menurut Rochiati Wiriatmadja dalam Dewi Sartika (1986), istri bangsawan hanya berguna untuk "menyemarakkan kehidupan aristokrat di lingkungan yang terbatas, dan bukan untuk menyingsingkan lengan baju." Dalam kalimat lain, perempuan sekadar hiasan yang ditentukan oleh "adat, kepercayaan, kaidah-kaidah sosial". Dan, di tengah kehidupan kolot inilah, Uwi membandel.

Setelah ayahnya dibuang ke Ternate, Uwi dititipkan pada Raden Demang Suria Kartahadiningrat, atau yang akrab disebut Raden Aria Cicalengka. Ia adalah tokoh amtenar yang dihormati. Banyak putri dari pejabat daerah sekitar dititipkan padanya untuk dididik sopan santun, kecapakan kewanitaan, dan pergaulan.

Proses pendidikan dalam keluarga Raden Aria Cicalengka dikungkung kehidupan feodal yang kaku nan sempit. Ia meneruskan saja apa yang dilakukan nenek moyang. Di tengah kehidupan macam itulah, para remaja putri tak punya percakapan apapun kecuali ihwal perkawinan. Mereka pikir, perkawinan merupakan pembebasan. Padahal, perkawinan "merupakan bentuk lain dari dunia keterbatasan wanita zaman itu."

Dalam penitipan di rumah Patih Aria Cicalengka, Uwi menjadi aib sebab nasib ayahnya. Uwi sial tiga kali. Keluarganya hancur, tak dipedulikan di rumah Patih Aria Cicalengka, dan percakapan ihwal perkawinan yang membikinnya sumpek. Hiburan dari kehidupan yang membosankan itu datang dari surat-surat yang dialamatkan pada gadis dari calon suami mereka. Tak ada yang cakap membaca kecuali Uwi. Dan, saat itulah ia mengerjai mereka. Mengubah surat penuh bunga menjadi ratapan patah hati gadis dan jengkel calon suami.

Keusilan itu jadi dalih Uwi agar para gadis belajar membaca dan menulis. Menurutnya "yang paling perlu untuk diperbaiki, yaitu kecakapan membaca dan menulis." Namun rumah Patih Aria Cicalengka bukanlah tempat yang tepat untuk mewujudkan cita-cita. Maka, pada 1902, dengan kendel Uwi meninggalkan Cicalengka menuju Bandung.

Di Bandung, setelah melihat kondisi keluarganya yang makin kacau, terutama ibunya, Uwi berkata pada dirinya, "Ari jadi awewe kudu segala bisa, ambeh bisa hirup!" (Menjadi perempuan harus mempunyai banyak kecakapan agar mampu hidup). Dipicu kondisi itu, berangkatlah gadis dari keluarga yang dikucilkan para bangsawan ini menghadap Bupati Bandung, R.A.A Martanegara (1893-1918).

Meski termasuk pejabat yang progresif untuk zamannya, Bupati Martanegara mulanya enggan mengabulkan permintaan Uwi. "Jangan, perempuan tidak usah sekolah! Asal bisa menanak nasi, bisa menjahit, bisa mengabdi pada suami, sudah lebih dari cukup, pahalanya surga," tolak bupati. Walau pun berjasa pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Bandung karena progresifitasnya, Bupati Martanegara rupanya masih tabu membayangkan perempuan-perempuan mencecap pendidikan.

Namun Uwi adalah perempuan bandel (tentu juga ngandel dan kendel dan kandel). Berkali ditolak, berkali pula ia memohon, hingga akhirnya bupati luluh. "Ya Uwi, apabila Uwi sudah bulat keinginan, mudah-mudahan dimakbulkan oleh Allah yang menguasai seluruh alam, kita coba mendirikan sekolah sebagaimana yang dikehendaki oleh Uwi."

Maka, perempuan bandel itu menorehkan sejarah. Pada 16 Januari 1904, bertempat di Paseban Kabupaten Bandung, gadis dua puluh tahun itu menjadi perempuan pertama yang mendirikan sekolah khusus perempuan di Hindia-Belanda! Murid-murid pertama Sekolah Istri berasal dari kalangan keluarga biasa (bukan kalangan bangsawan, sebagaimana lazimnya!). Para bangsawan malah menyambutnya dengan dingin, kalau tidak menentang.

Meski Mr. J.H. Abendanon yang kala itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan Agama dan Kerajinan dalam Pameran Wanita mengatakan bahwa "hal itu (Sekolah Istri) telah merupakan suatu langkah kemajuan yang penting," namun pihak pemerintah, entah karena alasan birokratis atau politis, seakan menghambat perkembangan ini.

Kendati tanpa bantuan pemerintahan kolonial, gadis bandel ini berhasil "menyingsingkan lengan baju". Ia bersama pengurus Kautamaan Istri mampu memantik semangat belajar bagi kaum wanita. Pada 1913 Sekolah Kautamaan Istri II berdiri di Bandung. Hingga 1926, mereka telah membuka sedikitnya 13 sekolah baru.

Merayakan hari pendidikan berarti merayakan ingatan pada jasa orang-orang bandel. Pendidik era kini mestinya tak mengekor pada tafsir Tut Wuri Handayani ala Orde Baru, melainkan Bupati Martanegara yang mendorong pembebasan manusia (peserta didik) dari belenggu-belenggu kolot. Laiknya upaya Ki Hajar Dewantara dan Dewi Sartika, untuk sebuah pembebasan, ada harga yang perlu dibayar —dan kita tak akan mundur setapak pun, seorang ksatria hanya berbicara satu kali.

(mmu/mmu)