Para Penggembira Politik, Kalemlah!
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Kang Hasan

Para Penggembira Politik, Kalemlah!

Senin, 30 Apr 2018 11:06 WIB
Hasanudin Abdurakhman
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Para Penggembira Politik, Kalemlah!
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Anda ingin ganti presiden? Boleh. Hak untuk mengganti presiden ada di tangan Anda. Anda tidak ingin ganti presiden? Boleh juga. Hak untuk tidak ganti presiden ada di tangan Anda. Anda cukup pergi ke bilik pemungutan suara tahun depan, di situ hak Anda ditunaikan.

Urusan ganti atau tidak ganti presiden hanya sesederhana itu. Anda boleh saja beli kaos, berkumpul ramai-ramai sampai ribuan orang, kemudian yakin kehendak Anda akan menang. Penentu sebenarnya bukan kumpulan itu, tapi di tempat sepi, dalam bilik pemungutan suara.

Anda boleh sangat yakin dengan pilihan Anda, lengkap dengan data, argumen politik, sampai ayat-ayat suci yang dipakai untuk membenarkannya. Anda yakin bahwa pilihan Anda benar. Bahkan bukan hanya benar. Anda yakin bahwa pilihan Anda sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi sekali lagi, penentu ganti atau tidak, ada di tangan setiap orang di bilik suara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap orang punya pilihan dan alasannya. Persis sama seperti Anda. Mereka juga sangat yakin bahwa pilihan mereka benar. Karena itu, saat Anda sangat yakin, sesekali sadarilah bahwa ada orang lain di pihak sana, yang posisi psikologisnya persis sama dengan Anda. Hanya posisi keberpihakan mereka saja yang berbeda. Sadarilah bahwa hak Anda dan hak mereka sama-sama dilindungi konstitusi.

Lebih dari itu semua, sadarilah bahwa Anda hanya pengembira. Sekali lagi, penggembira. Anda merasa puas karena berhasil mengumpulkan orang, atau lebih tepat lagi, ikut berkumpul bersama banyak orang. Anda merasa puas karena meme yang Anda sebar bisa memukul lawan dengan telak. Anda tertawa puas. Tapi itu tidak mengubah status Anda tadi, Anda penggembira.

Ketika semua ini usai, Anda mungkin akan bersorak gembira karena calon yang Anda dukung menang. Atau, Anda akan dongkol berkepanjangan, karena calon dukungan Anda kalah. Kedua keadaan itu lagi-lagi tidak mengubah status Anda sebagai penggembira. Presiden berganti. Ada orang jadi menteri, staf khusus, atau anggota dewan. Ada juga yang terlempar dari pusaran kekuasaan. Tapi, Anda tetap di situ, sebagai penggembira.

Politik itu sungguh encer. Hari ini Anda sangat getol mengumbar kebencian Anda pada X, dan sangat memuja Y. Suatu hari kelak, X dan Y ternyata malah berkoalisi. Anda begitu yakin Partai A memperjuangkan aspirasi Anda, bahkan akan menjamin tempat Anda di surga. Sedangkan Partai B adalah musuh Tuhan yang harus Anda hancurkan. Tapi, coba lihat di daerah sana, keduanya berkoalisi untuk merebut jabatan.

Politikus bebas berloncatan membentuk kubu, melakukan manuver sesuai kepentingan mereka. Anda bersorak mendukung, atau menyumpah kecewa. Apakah mereka peduli pada Anda? Tidak. Kalau mereka menang, mereka dapat jabatan, atau jatah proyek. Anda dapat apa? Kosong.

Anda mengira akan masuk surga dari politik? Anda mengira kehidupan akan lebih sesuai dengan agama yang Anda anut kalau A atau B berkuasa? Itu ilusi yang ditanamkan oleh para politikus ke benak Anda. Tidakkah Anda sadar bahwa perilaku para politikus itu sering berbeda dari nilai yang Anda sangka mereka perjuangkan?

Satu hal lagi, kalau Anda terlalu bersemangat, bisa jadi Anda akan terjerat masalah hukum. Banyak lubang hukum yang menganga, yang membuat ada bisa terperosok. Terlalu bersemangat mengajak orang, bisa membuat Anda terseret mengintimidasi orang lain. Itu ada sanksi pidananya. Kalau Anda tertangkap dan dipenjara, politikus yang Anda dukung tidak akan peduli.

Jadi, kalau ada orang di sebelah Anda sangat bersemangat berkampanye untuk calon mereka, senyumin saja. Dalam pesta politik ini Anda cuma penggembira. Anda bukan pemain.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads