DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 26 April 2018, 15:29 WIB

Kolom

Kepala Daerah Sadar Wisata

Dony Oskaria - detikNews
Kepala Daerah Sadar Wisata Sebuah lokasi wisata di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Bupati Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. Kami berbicara banyak dan bertukar pikiran tentang berbagai hal terkait sektor pariwisata. Beliau memaparkan visi pariwisatanya yang menurut saya cukup visioner.

Sang Bupati terbilang masih sangat muda. Jika saya tak salah, beliau masuk kategori milenial. Baru menjabat sekira dua tahun. Kami bertemu dalam rangka kunjungan kerja Kelompok Kerja Pariwisata Nasional Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), yang kebetulan Ketuanya adalah saya sendiri.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi kendala dan masalah daerah yang sedang berjuang ingin meningkatkan status kawasan pariwisata yang mereka miliki menjadi Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Pariwisata.

Dalam presentasinya, Sang Bupati memaparkan keinginannya untuk memperjuangkan salah satu kawasan di daerahnya menjadi Kawasan KEK Pariwisata. Memang menarik dan cukup menjanjikan kawasan yang beliau tawarkan. Pun lebih dari itu, yang membuat saya cukup kagum adalah insting konservasi Sang Bupati terhadap kawasan tersebut yang terbilang sangat tinggi.

Beliau menginginkan pengembangan kawasan yang sustainable, memperhatikan faktor lingkungan dengan sepenuhnya, tanpa kecuali. Jika pengembangan destinasi hanya untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, tanpa pertimbangan lingkungan dan sustainability-nya, sebagaimana yang beliau utarakan, maka beliau akan menolak dengan keras.

Setelah pertemuan itu, saya menyadari betapa pentingnya kesadaran wisata kepala daerah dalam membangun sektor pariwisata nasional. Masalah yang umum saya temui saat bertemu kepala daerah adalah kurang komprehensifnya pemahaman pariwisata yang dimiliki. Misalnya, sekalipun di tingkat nasional belum terdapat aturan khusus tentang proteksi destinasi pariwisata, kepala daerah bisa saja menggunakan diskresinya untuk mengeluarkan aturan yang melindungi destinasi wisata di daerahnya, seperti Perda atau Perbup.

Kemudian, kepala daerah bisa juga secara mandiri menetapkan suatu kawasan sebagai kawasan ekonomi khusus versi lokal dengan keringanan dan insentif pajak yang biasanya dipungut atas nama daerah agar investasi semakin mudah untuk masuk. Soal kawasan ekonomi khusus di tingkat lokal, kepala daerah bisa menyinergikan kebutuhan investasi pariwisata dengan berbagai kearifan lokal yang ada agar tidak saling menafikan, tapi saling mempromosikan.

Jadi saya kira, bupati-bupati yang bervisi wisata seperti inilah yang dibutuhkan saat ini untuk mengangkat pariwisata menjadi leading sector nasional. Improvisasi kebijakan dan inisiatif-inisiatif produktif dari para kepala daerah akan jauh lebih bermakna ketimbang menunggu terobosan dan uluran tangan dari pusat.

Pun sebagaimana diketahui selama ini, daerah menunggu uluran tangan dari Kementerian Pariwisata tak lebih dari urusan promosi dan branding. Karena dua ranah itu adalah ranah utama Kemenpar. Memang tak salah, promosi dan branding adalah dua hal yang sangat krusial dalam dunia pariwisata. Tapi infrastruktur, ketersediaan SDM yang memadai, dan perilaku yang berorientasi wisata dari masyarakat setempat pun juga tak kalah penting.

Untuk infrastruktur, selain menunggu uluran fiskal dari pusat, daerah sebenarnya dapat pula memprioritaskan alokasi fiskal untuk infrastruktur yang sinergis dengan kebutuhan pariwisata lokal. Ajuan proyek-proyek untuk anggaran alokasi khusus infrastruktur bisa diarahkan untuk lokasi-lokasi destinasi, mulai dari jalan umum yang bagus, pelabuhan, fasilitas publik, pun fasilitas-fasilitas khusus penunjang eksistensi destinasi.

Dalam konteks inilah sebenarnya kualitas pariwisata kepala daerah diuji. Bagi kepala daerah yang berkategori "business as usual", perkembangan pariwisata di daerahnya akan dianggap sebagai sesuatu yang tak perlu diotak-atik lagi karena destinasi diperlakukan sebagai "spot" perse alias variabel tersendiri yang terlepas dari banyak variabel lainya. Destinasi dianggap hanya sebagai penampakan fisik wilayah yang given.

Namun kepala daerah yang punya visi pariwisata, destinasi akan diperlakukan sebagai variabel yang bisa me-leverage banyak variabel lainya. Semakin banyak kunjungan, semakin banyak pendatang yang membelanjakan uangnya, semakin terbuka peluang-peluang baru bagi masyarakat lokal, semakin terpancing aneka rupa kreativitas untuk tumbuh, dan semakin dekat masyarakat daerahnya kepada kesejahteraan.

Pun dari sisi sustainability, kepala daerah yang sadar wisata akan sangat sensitif terhadap perlindungan lingkungan sekitar destinasi. Kawasan wisata tidak hanya diperlakukan sebagai faktor produksi yang bisa dieksploitasi sedemikian rupa, tanpa proteksi dan maintaning yang mumpuni, tapi destinasi dan kawasan wisata akan diperlakukan seperti piala bergilir yang akan diwariskan kepada anak cucu di kemudian hari.

Saya cukup yakin, olah laku, orientasi kebijakan, dan kualitas pariwisata kepala-kepala daerah semacam ini akan sangat menentukan masa depan pariwisata nasional. Di tangan mereka terletak mimpi-mimpi pariwisata yang mencerahkan bagi masyarakat daerahnya yang akan berbuah kesejahteraan di kemudian hari.

Dan, bagimanapun pemerintah pusat harus memfasilitasi pemimpin-pemimpin semacam ini, agar mendapatkan tempat yang layak dalam kebijakan nasional. Dan, memperoleh keberpihakan yang nyata, baik fiskal maupun kemudahan regulasi, untuk mereka berkreasi merealisasikan kesadaran pariwisatanya. Semoga!

Dony Oskaria Ketua Pokja Pariwisata KEIN RI dan Komisaris Garuda




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed