Analisis Zuhairi Misrawi

Konflik Suriah dan Perang Dunia Ketiga

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 26 Apr 2018 11:28 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Krisis politik di Suriah menyisakan persoalan yang tidak sederhana. Banyak pihak menengarai konflik politik yang berkepanjangan itu akan membawa dampak yang sangat luas, termasuk kemungkinan meletusnya perang dunia ketiga. Mungkinkah?

Suriah menjadi medan perebutan aktor-aktor utama geopolitik di Timur-Tengah. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Israel menjadikan Suriah sebagai negara yang menjadi pusat perhatian sekutu Israel di Timur-Tengah, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Apalagi sejak era Hafiz al-Assad hingga Bashar al-Assad, Suriah mengambil sikap berlawanan dengan Israel dan kepentingan Amerika Serikat di Timur-Tengah. Antara Suriah dan Israel terlibat perseteruan dalam isu dataran tinggi Golan.

Sejak lama Suriah telah menjadi markas kantor politik Hamas sebagai faksi perlawanan terhadap Israel. Suriah mendukung secara terang-terangan semua pihak yang menentang eksistensi Israel di Tanah Palestina. Dalam isu ini, Iran menjadi negara yang menyokong penuh perlawanan terhadap Israel. Karenanya pula antara Iran dan Suriah mempunyai musuh yang sama, yaitu Israel.

Belakangan sejak bergejolaknya "musim semi" Suriah, Hamas memilih untuk hijrah ke Qatar karena mereka bersimpati terhadap Ikhwanul Muslimin Suriah yang mengambil sikap oposisi terhadap rezim Bashar al-Assad.

Amerika Serikat memandang Suriah sebagai musuh utama di Timur-Tengah. Mengancam dan berseteru dengan Israel berarti menentang Amerika Serikat. Sebab itu pula, Amerika Serikat menyokong sepenuhnya pihak oposisi terhadap rezim Bashar al-Assad. Bahkan, Amerika Serikat mengaku ikut mempersenjatai ISIS dalam menggempur pasukan Bashar al-Assad, meski akhirnya Amerika Serikat bertaubat atas kesalahannya itu.

Di pihak lain, Suriah sejak 1944 mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Uni Soviet yang saat ini menjadi Rusia. Hubungan itu terus berlanjut hingga sekarang ini. Rusia menjadikan Suriah sebagai mitra strategisnya di Timur-Tengah. Rusia mempunyai pangkalan militer di Tartus dan Palmyra. Bahkan, seluruh persenjataan yang dimiliki Suriah pun dibeli dari Rusia, termasuk pasukan khusus Rusia menjaga sepenuhnya Bashar al-Assad dari kemungkinan rekayasa pembunuhan yang dilakukan oleh mata-mata Amerika Serikat dan Israel.

Bagi Rusia, menjaga sepenuhnya rezim Bashar al-Assad adalah upaya terakhir yang niscaya untuk memastikan Suriah tidak jatuh ke tangan Israel dan Amerika Serikat. Sebab jika itu terjadi, maka Rusia akan kehilangan mitra strategisnya di Timur-Tengah.

Alasan itu pula yang menyebabkan Bashar al-Assad bisa bertahan hingga sekarang ini dari gempuran oposisi yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, termasuk negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emarat Arab. Tanpa dukungan total dari Rusia sulit rasanya bagi Bashar al-Assad bisa mempertahankan kursinya hingga sekarang ini. Hampir 8 tahun digempur, tapi Bashar al-Assad masih bisa berdiri kokoh memimpin Suriah. Rusia bertahun-tahun terbukti menjadi sahabat setia Suriah.

Konteks geopolitik di atas menyebabkan banyak pihak khawatir dengan kemungkinan meletusnya Perang Dunia Ketiga. Yaitu perang antara dua kekuatan besar militer saat ini, Rusia dan Amerika Serikat. Jika ini terjadi, maka dunia akan melihat sebuah petaka mahabesar yang akan menjadi torehan sejarah kelabu bagi dunia.

Namun perang dunia ketiga sepertinya tidak akan benar-benar terjadi, karena baik Amerika Serikat maupun Rusia menyadari dampak buruk jika perang terbuka terjadi. Mereka sepertinya tidak ingin menjadikan Suriah sebagai pertarungan hidup-mati, karena belajar dari Libya, Yaman, dan Irak akan banyak kerugian daripada kemaslahatan.

Jika tidak hati-hati, tragedi ISIS akan terulang kembali. Instabilitas politik di Timur-Tengah akan dimanfaatkan sepenuhnya oleh sel-sel gerakan teroris. Apalagi al-Qaeda secara sembunyi-sembunyi sedang mengonsolidasikan gerakannya, yang dipimpin langsung oleh putera Osama bin Laden. Mereka bersiap-siap mengisi kekosongan setelah ambruknya ISIS.

Di samping itu, perang dan konflik yang berkepanjangan hanya akan menambah daftar korban kemanusiaan yang akan menyisakan luka dan dendam sesama anak bangsa. Ratusan ribu warga yang meninggal dan jutaan lainnya mengungsi ke wilayah terdekat, bahkan Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Asia.

Maka dari itu, serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis tidak menyentuh langsung pangkalan militer Rusia. Kelihatan sekali Amerika Serikat dan sekutunya sangat berhati-hati untuk tidak berhadap-hadapan langsung dengan Rusia.

Menurut Alexey Khlebnikov (2018), apa yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya di Suriah tidak dalam konteks untuk memenangkan pertarungan (no-win situation), melainkan hanya gertak sambal atas rezim Bashar al-Assad. Amerika Serikat dan sekutunya terlihat sangat hati-hati dengan tidak menyerang pangkalan militer Rusia, meski retorika yang digunakan Donald Trump sangat keras. Apa yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya telah membuat semua pihak senang.

Amerika Serikat senang karena seolah-olah terlihat serius menggempur pangkalan militer Suriah dengan meluncurkan 105 rudalnya. Itu artinya dapat menyenangkan pihak oposisi yang dalam beberapa bulan terakhir terpojok akibat gempuran pasukan Bashar al-Assad yang disokong oleh Rusia dan Iran.

Di sisi lain, pihak Rusia juga senang karena Amerika Serikat dan sekutunya tidak menggempur pangkalan militer Rusia. Itu artinya Amerika Serikat dan sekutunya tidak ingin berhadap-hadapan secara langsung dengan militer Rusia. Apalagi dikabarkan hampir tidak ada korban dan kerusakan yang berarti dari serangan Amerika Serikat dan sekutunya. Rusia berhasil menangkal sebagian besar rudal yang digunakan Amerika Serikat dan sekutunya.

Pada akhirnya akal sehat dan rasionalitas yang akan menjadi panglima, baik bagi Amerika Serikat maupun Rusia. Tidak ada gunanya menjadikan Suriah sebagai instrumen untuk menghancurkan dunia dengan memantik perang dunia ketiga. Apalagi, apa yang terjadi di Suriah sudah dimaklumi oleh masyarakat dunia sebagai konflik politik dalam negeri yang tidak perlu diseret-seret pada ranah geopolitik yang lebih besar.

Kunci penyelesaian konflik politik di Suriah sebenarnya ada pada Rusia dan Amerika Serikat. Andai kedua besar negara ini mau duduk bersama dan memberikan kedaulatan secara penuh terhadap rakyat Suriah untuk menentukan masa depan mereka, maka situasinya akan jauh lebih baik. Solusi politik merupakan satu-satunya solusi untuk menentukan siapa yang berhak memimpin Suriah, termasuk di dalamnya menjamin hak-hak warga negara yang setara, adil, dan damai.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute
(mmu/mmu)