DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 25 April 2018, 14:16 WIB

Kolom

Pergeseran Budaya Masyarakat Agraris

Abdul Rahim - detikNews
Pergeseran Budaya Masyarakat Agraris Ilustrasi: Twitter Kementan
Jakarta - Siapa yang tidak rindu dengan hamparan hijau tertiup semerbak wangi khas dengan sejuknya udara, diselingi nyanyian alam antara burung-burung, dan daun kelapa yang bergesekan membentuk simponi nan indah membuai telinga? Tatkala sudah waktunya untuk menuai hasil, terlihat senyum-senyum bahagia merekah, tak jarang juga senyum kecewa mengingat perjuangan dari awal namun akhirnya, hasil tidak seperti yang diharapkan.

Begitulah kehidupan petani di kampung, tanpa mimpi-mimpi besar, hanya berharap setiap kali panen mendapatkan hasil yang cukup untuk kehidupan mereka empat bulan ke depan, sementara menunggu panen selanjutnya. Akan tetapi terkadang senyum pahit itu kerap menghampiri, modal pembiayaan jangka sekali tanam bisa saja tidak balik, lalu kerugian melemahkan semangat mereka apakah harus terus bergelut dengan tanah yang tak menguntungkan itu.

Bagi kami yang dulu waktu kecil sempat menikmati keseharian di sawah, walaupun sekedar mengikuti orangtua dan membantu semampu kami, hal itu sudah cukup melekatkan kenangan. Orangtua kami berpesan, tujuan mereka sering mengajak ke sawah supaya kami terbiasa dan tak melupakan tradisi turun-temurun bahwa bertani adalah sumber kehidupan, dan banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Maka tak heran hampir penuh waktu mereka dihabiskan untuk bergelut di sawah, kami berangkat sekolah bersamaan pula dengan mereka berangkat ke sawah, bahkan kami pulang sekolah kadang mereka belum juga pulang dari sawah.

Tak jarang selesai Salat Ashar mereka pun kembali lagi ke sawah walaupun sekedar jalan-jalan, mengamati pertumbuhan tanaman mereka. Memang profesi bertani ini membutuhkan ketekunan, ketelatenan serta kesabaran dalam menjalaninya, dan orang-orangtua kami dahulu sudah cukup menunjukkannya. Sedang kami waktu kecil dulu sekedar diminta untuk menemani mereka, merasa berat untuk menuruni lereng menuju sawah. Keikhlasan mereka mengelola sawah warisan turun-temurun tak cukup menggerakkan hati kami agar seperti mereka. Berbagai keluhan ketika kami berada di sawah sering terlontar, atau kami simpan dalam hati saja.

Namun di balik keluhan itu ada pula rasa nikmat ketika berada di sawah, semisal selepas penatnya bekerja, terpanggang terik matahari, diobati dengan sejuknya air kelapa muda yang dipetik untuk kami, tak jarang dibarengi dengan ubi bakar, jagung bakar, atau menikmati sejuknya aliran sungai yang jernih selepas berkotor-kotoran.

Sawah dahulu juga menjadi area bermain yang cukup sering kami kunjungi beramai-ramai, sebagai ajang pembelajaran kami untuk mandiri dalam bekerja dan bertanggung jawab, seperti ketika mencari rumput untuk ternak yang diamanahkan kepada kami untuk dipelihara. Kesemuanya merupakan proses alam yang pernah kami lewati semasa orang-orangtua kami masih memegang teguh keikhlasan dan ketekunan mengelola sawah mereka.

Kini ketika orang-orangtua kami telah tiada, sawah-sawah tersebut mulai kekurangan tangan-tangan terampil untuk mengolahnya. Pun begitu dengan kami yang tidak pernah tekun mengikuti pelajaran yang diberikan orangtua dahulu melalui sawah ini, tidak terbersit harapan agar meneruskan perjuangan mereka melalui sawah, lalu tanah-tanah itu pun sangat disayangkan jika dibiarkan hanya ditumbuhi rumput liar. Jadilah sepeninggal orang-orangtua kami, sawah tersebut dikerjakan oleh orang lain dengan sistem bagi hasil, atau sawah tersebut digadaikan untuk membuka usaha yang lain, karena sawah tersebut tidak lagi relevan sebagai mata pencaharian yang mencukupi, ada pula yang menjual sawah warisan tersebut, baik menjual secara keseluruhan atau dijual secara per tahunan.

Bertani dan Kesejahteraan

Maka tidak mengherankan generasi sekarang tidak lagi mengenal sawah sebagai media pembelajaran dari alam. Anak-anak desa tidak lagi mengecap ikon tentang sawah dan penggembala/peternak yang menjadi keseharian mereka, disebabkan orang-orangtua mereka yang sekarang daripada menggeluti sawah lebih menguntungkan mencari pekerjaan lain yang lebih mudah mendapatkan hasil. Salah satunya membuka usaha bata merah atau menjadi buruh pembuat bata merah, dan merelakan lahan persawahan mereka sebagai tempat produksinya.

Selain itu yang lebih cepat menghasilkan uang yaitu sebagai tenaga harian untuk bangunan. Ada juga yang lebih beruntung menjadi karyawan di perusahaan, dan itu lebih prestisius daripada bertani. Maka persis pekerjaan sebagai petani ini sudah mulai tergeser, dan dianggap rendah dan menurunkan gengsi. Padahal Jika kami telusuri kehidupan orang-orangtua kami dahulu, banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri, namun mereka tetap juga mengelola lahan mereka. Banyak pula yang menjadi guru, selepas mengajar di sekolah mereka menggeluti sawah mereka, karena memang mereka sangat memegang teguh tradisi nenek moyang yang menjadikan sawah sebagai sumber kehidupan.

Dalam agama Islam, nilai filosofis bekerja di sawah pernah disinggung dalam Hadits Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah yang menuntut dedikasi yang tinggi dan sikap tawakal penuh terhadap Tuhan. Bertani adalah salah satunya, atau penjelasan lainnya yang dikutip dalam sahih Muslim yang artinya, "Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya melainkan ia menjadi sedekah baginya." (HR. Muslim No. 2900).

Bertani adalah pekerjaan mulia yang benar-benar akan mendatangkan balasan yang baik, sejauh keyakinan atas usaha yang kita lakukan dengan mengharap ridha-Nya. Namun sangat disayangkan bagaimana masyarakat kita di kampung yang notabene rata-rata dilahirkan dari keluarga petani dan memiliki lahan, lebih memilih untuk mencari penghasilan pada sektor lain, sehingga melupakan pertanian sebagai budaya yang pernah eksis di masyarakat kita sejak dulu. Salah satunya disebabkan kurangnya perhatian pemerintah akan kesejahteraan petani kita.

Maka tidak bisa disalahkan jika banyak petani kita menjual sawah mereka untuk mencari penghasilan pada sektor lainnya, lalu lahan produktif tersebut banyak dijadikan hunian atau industri, pertokoan yang lebih menguntungkan bagi pemilik modal. Hal ini kerap terjadi di wilayah perkotaan, dan sekarang sudah mulai merambah juga ke wilayah perdesaan, di mana ketika masyarakat kita yang merantau ke luar negeri ketika kembali ke kampung halaman lebih memilih membangun rumah di areal persawahan warisan mereka, atau bagi yang tidak memiliki lahan pastinya akan membeli lahan persawahan untuk membangun rumah.

Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung petani kita terjadi juga pada pemenuhan kebutuhan pertanian, seperti bibit, obat-obatan, atau pupuk yang katanya tersubsidi namun tetap saja petani kita lebih dahulu meminjam uang untuk mendapatkannya. Karena, mau tidak mau sudah kepalang tanggung jika tidak dipupuk tanaman mereka akan menjadi lebih buruk lagi, maka jadilah pupuk ini membuat ketergantungan petani kita.

Belum lagi tidak ada regulasi tentang standar harga jual hasil panen petani, sehingga para pengumpul/tengkulak semena-mena mematok harga. Tak salah petani kita lebih memilih menjual hasil panen kepada para pengumpul yang lebih cepat untuk diuangkan daripada menunggu lama, dan ditakutkan hasil panen mereka akan rusak jika didiamkan lebih lama. Ini berdampak karena tidak adanya peran lembaga pemerintah untuk memberdayakan petani melalui hasil panen tersebut.

Mimpi Kedaulatan Pangan

Mimpi tentang kedaulatan pangan yang digaung-gaungkan pemerintah seolah hanyalah celoteh tak bermakna jika dikaitkan dengan minimnya kesejahteraan petani kita. Bagaimana bisa kita akan membangun kedaulatan pangan sementara lahan-lahan produktif lebih banyak diambil alih menjadi hunian atau areal pertokoan, sementara tenaga-tenaga produktif kita lebih memilih sektor lain untuk mencari penghasilan, seperti menjadi TKI atau buruh-buruh lainnya. Begitu juga petani kita tidak akan bertahan menggarap lahan mereka jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah minus, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sawah mereka.

Untuk mengatasi hal tersebut, dukungan dan pembinaan dari pemerintah sangat dibutuhkan jika memang visi untuk kedaulatan pangan itu masih segar di ingatan para pejabat pembuat kebijakan untuk mewujudkannya. Dukungan pemerintah bisa diberikan melalui pemenuhan kebutuhan petani kita seperti bibit unggul, obat-obatan yang memadai, pupuk yang benar-benar disubsidi dan tidak menyulitkan petani kita untuk mendapatkannya.

Dari segi pembinaan pemerintah kita bisa menerjunkan tenaga-tenaga ahli yang diwadahi oleh dinas pertanian masing-masing daerah bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi yang mencetak sarjana-sarjana pertanian agar mengamalkan ilmunya untuk ambil peran dalam membimbing petani kita. Itu juga salah satu jalan dalam memberdayakan sarjana-sarjana muda kita, agar tidak ada lagi yang mengeluh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di sektor pertanian dan tidak harus bekerja di perkantoran, sehingga banyak dari mereka yang berpotensi, malah lebih memilih sektor lain daripada bergelut di pertanian, semisal menjadi sales marketing, debt collector, atau karyawan pada perusahaan-perusahaan finance lainnya.

Lalu dari segi pemertahanan lahan produktif, jika tidak memungkinkan untuk membuka lahan pertanian baru, maka dimungkinkan pula untuk mengeluarkan regulasi agar tidak semena-menanya pemilik modal dalam mengambil alih lahan produktif untuk dijadikan bisnis properti, atau menganjurkan para pemilik lahan diberikan insentif/bantuan yang memadai untuk mengelola lahan pertanian mereka demi meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen petani kita.

Sedangkan dari segi pengelolaan hasil panen, pihak pemerintah melalui Bulog juga harus berperan aktif dalam mengatur pengelolaan hasil panen petani kita. Mulai dari pembelian dengan harga standar, distribusi yang tepat pada pengolah hasil panen. Dengan begitu diharapkan kemandirian pangan negara akan tercipta dengan diberdayakannya petani kita secara memadai, terutama perhatian atas kesejahteraan mereka. Maka kedaulatan pangan yang digadang-gadangkan bisa terwujud secara masif, di samping mengukuhkan negara kita berdaulat di sektor agraris.

Tidak menutup kemungkinan jika negara kita surplus pangan, ekspor untuk negara-negara tetangga memberikan dampak positif bahwa negara kita selangkah lebih meningkat dalam memberdayakan sumber daya alam kita khususnya di sektor agraris. Jika hal itu bisa terwujud, tidak menutup kemungkinan slogan "Back to Nature" bukan hanya sekedar jargon tak bermakna, tetapi benar-benar sebagai langkah awal untuk me-review bagaimana bahagianya dahulu ketika alam kita masih segar, dan menjadi media pembelajaran yang cukup baik, khususnya dalam pemberdayaan sumber daya alam yang produktif sebagai bekal untuk kelangsungan hidup masyarakat kita.

Pemberdayaan lahan pertanian dan yang bergelut di dalamnya sepertinya cukup efektif untuk terwujudnya masyarakat agraris, sehingga angka penurunan jumlah petani kita tidak lagi signifikan, bahkan dimungkinkan untuk bertambah jumlah.

Abdul Rahim mahasiswa Pascasarjana Departemen Media & Cultural Studies UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed