DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 24 April 2018, 15:40 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Menyiapkan Hati Kehilangan Facebook

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Menyiapkan Hati Kehilangan Facebook Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Jangan diblokir dong, Mas! Saya dapat pacar dari Facebook dan bisa ketemu dengan teman yang sudah hilang puluhan tahun!" Hahaha. Saya terpingkal membaca kalimat itu. Bukan semata karena muatan kata-katanya, namun lebih karena unggahan itu langsung ditempelkan secara mencolok oleh seseorang di dinding Facebook milik Mas T, salah satu sosok terpenting di inti kekuasaan dunia cyber Indonesia.

Begitu paniknya orang-orang mendengar bahwa pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk memblokir layanan media sosial Facebook. Pemerintah sontak terkesan gegabah, di saat masyarakat pengguna masih larut dalam candu Facebook yang melenakan.

Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu.

Bagi pemangku kekuasaan, aspek yang dipikirkan adalah kedaulatan. Facebook ini perusahaan asing, menjaring konsumen jutaan orang Indonesia, berjualan di Indonesia, meraup entah berapa miliar dolar dari segenap lapak iklannya di Indonesia, tapi tidak jelas sumbangsih ekonominya bagi negara. Dengan kenikmatan seperti itu, tentu menyebalkan sekali jika mereka tampak ogah-ogahan dalam menanggapi berbagai keresahan yang muncul terkait bolong-bolong pada sistemnya. Mulai kebocoran data-data personal, hingga kontrol yang lemah atas berita hoax dan ujaran kebencian.

Pendek kata, bagi negara, ada banyak persoalan yang tidak bisa diatasi oleh Facebook sebagai institusi.

Di sisi lain, Facebook seolah sudah jadi "realitas" itu sendiri bagi para penggunanya. Ia menjadi taman bermain tempat jutaan manusia Indonesia menggantungkan segenap dinamika dan romantika kehidupannya. Ingat, ada 130 juta akun Facebook di Indonesia. Angka itu menempatkan kita di rangking keempat pengguna Facebook terbesar sedunia, sekaligus jawara di tingkat Asia Tenggara.

Saya sendiri pengguna aktif platform medsos yang satu ini. Ah, istilah 'aktif' sepertinya kurang pas juga. Lebih tepatnya: saya pengguna hiperaktif.

Jika diakumulasi, entah sudah berapa puluh persen dari waktu-waktu dalam hidup saya (yang belum tentu panjang ini) yang telah saya haturkan ke hadirat Facebook. Saya memang mendapat berjibun berkah dari sana. Saya meluaskan cakupan pergaulan hingga pada titik yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya berlatih menulis di sana, gagasan-gagasan saya dibaca ribuan orang dari sana. Namun sumber daya waktu yang saya buang sia-sia untuk omong kosong penuh kemaksiatan di Facebook pun tak kalah bobotnya dengan berkah yang saya dapatkan. Kesadaran seperti itulah yang membuat saya tidak mengalami ketegangan tinggi mendengar isu akan diblokirnya medsos perampas kehidupan saya itu.

Di luar dugaan, ternyata banyak juga orang yang bersikap santai seperti saya, bahkan sampai pada taraf mendukung pemblokiran. "Iya Mas, blokir aja, sudah bosan dengan keributan di Facebook!'; "Halah isinya cuma orang berantem, blokir ya blokir aja!"; "Setuju pemblokiran FB, tapi Kominfo bikin medsos yang lebih hebat!".

Suara-suara seperti itu terdengar begitu lucu dan menyenangkan. Di sisi mereka, Facebook (yang sampai hari ini menciptakan kadar keriuhan lebih hebat ketimbang platform-platform media sosial lainnya) dipandang mengakibatkan rapuhnya kohesi sosial, tergerusnya kenyamanan dalam pertemanan, dan merajalelanya kepalsuan.

Iya, saya paham, hal-hal negatif tersebut tidak melekat pada Facebook. Sepanjang penggunanya bijak, bisa saja kita memilih untuk menjalani sisi positif belaka. Berteman, berdiskusi, berbisnis. Namun seberapa mampu kita mengajak jutaan manusia untuk sama-sama bijak? Ini dunia, Mbak, belum surga. Bangsa manusia bermacam-macam jenisnya, bermacam-macam tingkat pendidikannya, bermacam-macam level intelegensinya, dan karena itulah perkara kekuatan sistem menemukan relevansinya.

Maka, jika memang sistem Facebook tidak dapat diperbaiki, saya setuju: blokir ya blokir saja.

***

Hehehe, tenang, saya sebenarnya juga tidak santai-santai amat. Meski bibir ini bilang ikhlas, toh di lubuk hati masih tersisa secuil harapan agar jalan tengah tercapai, sehingga pemblokiran Facebook dibatalkan. Jalan tengah itu tentu saja berbentuk hal-hal yang dituntut pihak pemerintah, semacam sistem penyaringan berita hoax dan ujaran kebencian. Namun selain itu, ia harus muncul juga dalam perbaikan fitur-fitur kasat mata di Facebook, sehingga keresahan di tengah masyarakat pengguna dapat ditekan.

Dalam terawangan saya, ada satu fitur yang paling mendesak untuk ditata ulang, yaitu fitur blokir antarteman. Inilah satu-satunya sumbang saran saya kepada Facebook.

Begini. Soal blokir antarteman ini perkara yang sangat fundamental. Selama ini, kita bebas saja memblokir siapa pun yang ingin kita blokir. Sekilas tampaknya simpel dan sepele, namun diam-diam fitur itu membentuk cara kita dalam berinteraksi, membentuk cara kita berpikir, bahkan membentuk cara kita menjalani hidup sebagai manusia.

Percayalah, ini tidak se-lebay yang Anda kira. Coba, betapa di alam Facebook, kita selama ini tumbuh menjadi orang-orang yang tidak membiasakan diri dengan perbedaan pendapat. Okelah kalau Anda memblokir orang yang berkata kasar, jorok, rasis, atau bahkan melemparkan ancaman kekerasan. Namun toh kenyataannya begitu banyak orang yang asal main blokir saja hanya gara-gara perdebatan. Beda pendapat, ribut kecil, perbedaan pandangan itu memancing stigma, lalu blokir solusinya.

Padahal, apa yang didapatkan dari tindakan memblokir orang yang berlainan pandangan? Ya, yang terjadi adalah orang-orang semakin asyik berkumpul hanya dengan kelompoknya sendiri, hanya dengan pikiran-pikiran yang seragam dengan pikirannya sendiri, hanya dengan mereka yang satu sama lain saling melemparkan puja-puji. Mekanisme autokritik dalam satu kelompok yang sama tidak pernah terjadi, sementara kepada kelompok lain tidak akan pernah muncul apresiasi sama sekali. Dengan fitur blokir yang demikian mudah, manusia-manusia akan mengungkung diri dengan nyaman dalam cangkang pikiran mereka sendiri-sendiri.

Hasilnya adalah semakin kerasnya polarisasi. Kutub-kutub klaim kebenaran semakin memanas, dan potensi-potensi benturan akan semakin gampang muncul dengan beringas.

Pada titik inilah, omong kosong jika kita masih dengan gagah berbicara tentang keragaman. Keragaman di dunia ini bukan cuma keragaman warna kulit, etnis, dan agama. Namun juga keragaman pikiran. Dengan menutup akses atas pikiran-pikiran yang berbeda, kita sesungguhnya sedang memupuk sikap megalomania, memonopoli kebenaran, menolak kebhinnekaan, menyangkal realitas, dan menjalani aktivitas yang tak lebih dari (maaf) masturbasi intelektual. Tidak bakalan ada proses belajar yang kita jalani, selain hanya mencari afirmasi-afirmasi atas keyakinan dan pandangan yang sudah kadung kita pegang erat sedari dini.

Dalam polarisasi pergaulan seperti itu, jangan heran kalau yang terbangun adalah semangat untuk terus berkelahi, bukan rangsangan-rangsangan untuk bersinergi. Maka, yang paling menggelikan adalah kalimat, "Aku akan memblokir siapa saja yang tidak siap menerima perbedaan!" Lho lho lho, jadi yang tidak siap menerima perbedaan itu yang mana? Kalimat vonis tersebut saya rasa sangat cocok untuk dianugerahi penghargaan sebagai kalimat juara paradoks di era digital.

Nah, bayangan saya, yang harus ditempuh Facebook adalah bagaimana menjadikan produk mereka tidak mencerabut kita dari karakter pergaulan di dunia nyata. Di alam nyata, kita membangun persahabatan dalam rangkaian proses panjang, dan tidak bisa dengan begitu saja memecat teman-teman kita. Sebuah persahabatan bisa retak, namun ada mekanisme tidak gampang yang mesti dilalui terlebih dahulu sebelum kita bercerai total dengan sahabat-sahabat kita. Itulah yang mesti diterjemahkan oleh Facebook.

Jika langkah semacam itu tidak berhasil dijalankan oleh manajemen Mas Zuckerberg, memang lebih baik Kemenkominfo menutup Facebook secara permanen saja. Meski demikian, saya ingin mengajukan satu permohonan: tutuplah saja fitur unggahan barunya, sembari tetap mengizinkan kami untuk bisa membuka unggahan-unggahan lama. Sebab sebenarnya yang paling kami takutkan bukanlah sepinya masa depan, melainkan lenyapnya keping-keping kenangan. Itu.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed