DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 23 April 2018, 15:18 WIB

Kolom

Skandal Facebook dan Data Kita

Ruby Alamsyah - detikNews
Skandal Facebook dan Data Kita Ilustrasi: Reuters
Jakarta - Pertengahan Maret lalu, publik di dunia dihebohkan dengan pemberitaan media The Guardian dan The New York Times mengenai penyalahgunaan data pengguna Facebook. Hal ini seakan melengkapi kejadian sebelumnya di Tanah Air, terkait dengan penyalahgunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang digunakan untuk registrasi kartu prabayar. Keduanya memiliki cara dan pola perbedaan, namun mempunyai irisan elemen yang sama, yakni data di era teknologi informasi merupakan komoditas yang sangat bernilai harganya.

Adalah Cystopher Wylie, mantan Kepala Riset Cambridge Analytica (CA), yang pertama kali menguak skandal yang melibatkan perusahaan raksasa Facebook yang kini memiliki pengguna lebih dari 2,17 miliar di berbagai belahan dunia. Sebagai gambaran, CA merupakan perusahaan penambangan data asal Inggris dan bertindak sebagai konsultan tim kampanye pemenangan Presiden Donald Trump saat berlaga melawan Hillary pada 2016 lalu.

Wylie yang bertindak sebagai whistleblower mengungkapkan bahwa CA tak ubahnya mesin dengan layanan yang mengedepankan propaganda. Kru CA terbilang lengkap mulai dari pengumpul data personal, tim kreatif, desainer, videographic, photographic, content creator, dan lain-lain. Lantas bagaimana cara kerja CA, sehingga membuat perusahaan besar sekelas Facebook kebobolan data penggunanya?

Cara Kerja CA

Awal mulanya, CA menunjuk seorang peneliti, Aleksandr Kogan untuk melakukan sebuah riset/survei dengan target mendapatkan profil pengguna Facebook untuk kepentingan CA. Selanjutnya, Kogan mengajukan permohonan ke Facebook untuk melakukan semacam survei terkait kepribadian dengan menggunakan aplikasi bertajuk "This is Your Digital Live" yang dikembangkan oleh Global Science Research (GSR). Usai mengantongi izin dari Facebook, Kogan menyasar ke sekitar 200 ribu pengguna guna mengumpulkan profil mereka. Setiap orang yang bersedia mengisi survei dibayar sekitar US $3 hingga $4. Dikabarkan, CA menggelontorkan dana sekitar $800,000 kepada Kogan untuk mendapatkan data akun Facebook.

Rupanya, aplikasi tersebut tidak hanya mampu mengambil informasi dari pengguna dan mengizinkan aplikasi tersebut untuk mengakses akun mereka, lebih dari itu termasuk data dari "friend" atau teman-teman mereka. Dari sinilah, celah penyalahgunaan data terbuka. Sebagaimana diungkapkan Wylie, CA menggunakan data yang mereka dapat dengan cara yang ilegal melalui tools tersebut.

Sebagai konsultan politik, CA percaya dengan paham Brietbart Doctrine, yaitu "If you want chance politics, first chance the culture (cause politics from culture)." Untuk itulah CA menggunakan data personal sebagai "senjata perang" memenangkan kandidat yang mereka usung, dalam hal ini Trump. CA mensuplai para pemilik akun dengan konten kampanye politik yang telah disiapkan, guna mengubah cara pandang mereka terkait kepentingan politik, hingga tanpa disadari masuk ke "rabbit hole".

CA memainkan strategi micro-targeting dan psikografis (kelas sosial, personalitas, gaya hidup) dengan cara big data dianalisis sehingga bisa terlihat karakteristik-karakteristik objek kampanye yang disasar. Sebagaimana diketahui, big data biasa digunakan untuk menjelaskan penerapan teknik-teknik analisis untuk mencari, mengumpulkan, dan merujukkan secara silang kumpulan data dalam jumlah besar untuk mengembangkan intelijen dan wawasan.

Sebagaimana rujukan para ahli, big data didefinisikan sebagai munculnya kumpulan data baru dengan volume besar yang berubah dengan cepat, sangat kompleks, dan melampaui jangkauan kemampuan analisis lingkungan perangkat keras dan perangkat lunak yang umum digunakan untuk pengelolaan data. Tidak dapat dihindari bahwa revolusi data telah melapangkan jalan bagi generasi baru teknologi informasi yang dirancang untuk menyediakan kecepatan pemprosesan, menganalisis, dan mengekstrak nilai dari kumpulan data yang besar, dengan menggunakan perangkat lunak khusus.

Disinyalir bahwa CA menyasar para swing voter yang belum menetapkan pilihannya, seperti para pemilih pemula, mereka yang masih ragu, dan pemilih yang masih minim informasi terkait calon kandidat dan lain-lain. Dalam hal ini, profil pengguna dimanfaatkan untuk menyusun strategi pemenangan Trump, dengan cara dijadikan sebagai target konten kampanye politik guna mempengaruhi emosi personal serta sudut pandang terhadap Trump.

Jumlah Penyalahgunaan Data

Awalnya jumlah penyalahgunaan data pengguna Facebook disebutkan mencapai sekitar 50 juta data. Dalam perkembangannya, melalui blog perusahaan, Facebook mengklaim bahwa terdapat sekitar 87 juta akun yang telah disalahgunakan. Adapun perincian urutan lima besar teratas sebagai berikut: 70,63 juta data merupakan pemilik akun dari Amerika, 1,17 juta data milik akun dari Philipina, 1,09 juta data pemilik akun dari Indonesia, 1,07 juta data dari pemilik akun dari Inggris, dan 780 ribu data pemilik akun dari Meksiko. Sementara itu, CA mengklaim melalui akun Twitter-nya bahwa hanya 30 juta data pribadi yang mereka gunakan, dan didapat dari Kogan.

Di luar jumlah, Facebook mengaku tidak mengetahui secara tepat data apa saja yang dibocorkan ke CA oleh pihak ketiga. Yang jelas, skandal ini menjadi ujian berat bagi perjalanan Facebook yang sudah eksis selama 14 tahun. Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg telah menyampaikan permohonan maaf, dan mengakui kelalaiannya. Selanjutnya, Facebook memblokir pengembang aplikasi yang menyalahgunakan data penggunanya. Berikutnya, Facebook telah memutuskan untuk membuka akses bagi para pengguna untuk mengetahui apakah data mereka digunakan CA.

Pengguna Sebagai Kendali

Belum lama ini, Mark telah memberikan penjelasan di depan Parlemen Amerika Serikat. Dari pertemuan selama kurang lebih 5 jam, terdapat sejumlah poin penting yang disampaikan Mark. Antara lain; pertama, bahwa pengguna Facebook memiliki kontrol penuh sehingga mereka mengatur apa yang bisa diakses atau tidak dapat diakses oleh Facebook. Kedua, melalui Facebook, pengguna berbagi berbagai hal, mulai dari informasi, data hingga foto dan serta merta publik akan melihatnya, termasuk terekam di sistem big data Facebook. Ketiga, dari big data tersebut, Facebook melakukan monetizing untuk mendapatkan uang dari iklan dan semacamnya.

Menyimak penjelasan pembuat Facebook tersebut, maka dapat digarisbawahi sejumlah hal sebagai berikut bahwa; pertama, perlu dipahami, dalam Facebook terdapat dua kategori konten. Satu, konten di mana pengguna dapat memutuskan untuk meng-share dalam konteks berinteraksi di Facebook, dan pengguna memiliki kontrol penuh terhadap konten tersebut. Dalam hal ini, pengguna bisa mem-posting, dan menghapus konten kapan pun pengguna mau.

Dua, spesifik data yang dikumpulkan Facebook dari para penggunanya untuk keperluan iklan. Terkait hal ini, terdapat dua fungsi utama yakni agar pengguna dapat mendapatkan iklan yang relevan dengan minat, gaya hidup, dan perilaku kesehariannya sebagaimana di-posting di Facebook, serta agar para pengiklan mendapatkan target audience yang lebih tepat sesuai dengan market produk mereka.

Di data jenis kedua tersebut, pengguna juga memilliki kontrol penuh. Untuk itu perhatikan fitur yang ada dengan teliti dan bila terdapat aktivitas akun yang tidak disukai atau tidak diperlukan, pengguna bisa menonaktifikan fitur-fitur tersebut pada akun Facebook-nya. Semisal terkait dengan informasi iklan, by default pengguna akan menerima iklan secara umum yang relevan dengan minat, perilaku dan gaya hidupnya.

Sebaliknya, bila pengguna menonaktifkan fitur iklan yang dapat menganalisis profil pengguna, maka praktis yang bersangkutan akan memperoleh iklan yang tidak relevan dengan profil akun Facebook-nya. Sehingga dapat dimaklumi bila sebagian besar pengguna Facebook tidak menonaktifkan fitur ini mengingat pengguna juga memerlukan informasi iklan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter profil pengguna.

Ranah Publik

Kedua, sebagai kilas balik, awal dibuat pada 2004, Facebook hanya ditujukan untuk kalangan mahasiswa Universitas Harvard. Menginjak 2005, Facebook membuka keanggotaan untuk kalangan anak sekolah. Berselang satu tahun, tepatnya di 2006, Facebook membuka keanggotaan secara universal kepada siapa saja di belahan bumi ini. Sebagai situs jejaring sosial, Facebook dan berbagai platform Over The Top (OTT) di jagat maya, secara fundamental bersifat publik. Untuk itu, apa yang sudah di-posting adalah milik publik, sehingga tidak ada lagi kategori data atau konten pribadi bahkan untuk data identitas diri sekalipun.

Ketika Facebook menanyakan apakah diizinkan untuk mengakses dan mengelola identitas diri tersebut, dan pengguna mengklik "yes", maka data seperti nama, tempat tanggal lahir, domisili, nomor telepon seluler, jenis kelamin dan lain-lain kendalinya juga ada di tangan Facebook. Dalam kasus CA, pengguna yang memang menjadi bagian target riset telah mengizinkan konten profilnya untuk dianalisis seperti personalitas, gaya hidup, dan aktivitas kesehariannya. Dalam hal ini, melalui big data, profil pengguna inilah, khususnya yang terkait dengan pandangan dan perilaku politik, yang dimanfaatkan Kogan dan diberikan kepada CA untuk kepentingan politiknya.

Lantas bagaimana dengan data profil para pengguna Facebook yang di luar target penelitian, dan diklaim sebagai kebocoran dan penyalahgunaan data oleh CA? Sejatinya bila merujuk pada penjelasan Mark bahwa melalui Facebook, pengguna dapat berbagi konten mulai dari informasi hingga foto, dan serta merta publik akan melihatnya, maka siapapun termasuk Kogan atau CA dapat menggunakan dan menganalisis data profil tersebut termasuk pandangan politiknya.

Sesungguhnya, teknik analisis yang digunakan oleh Kogan bukan hal yang baru dalam ranah big data dan intelijen. Sebelumnya dikenal Advance OSINT (Open source intelligence). Dalam komunitas intelijen, OSINT merupakan teknik pengumpulan data yang diambil dari sumber umum guna melengkapi sumber data yang bersifat rahasia.

Adapun kategori sumber umum antara lain media (koran, majalah, radio, televisi), internet (website, blog, media sosial, Youtube, informasi dalam bentuk digital), data-data publik dari pemerintah/lembaga resmi (laporan tahunan, pidato, publikasi, dan semacamnya), publikasi profesional dan akademik (informasi yang diperoleh dari jurnal, konferensi, simposium, makalah akademis, disertasi, tesis), data komersil (pencitraan komersial, penilaian keuangan dan industri, basis data), serta data literatur lainnya (laporan teknis, kertas kerja, dokumen bisnis, karya yang tidak dipublikasikan, buletin, dan lain-lain).

Untuk diketahui, OSINT digunakan dalam konteks penyelidikan guna mempertajam analisis, khususnya berkaitan dengan keamanan nasional, penegakan hukum, dan fungsi intelijen. OSINT menggunakan proses kecerdasan guna menghasilkan analisis untuk tujuan dan kepentingan tertentu dengan menggunakan database publik yang terdapat di internet secara umum dan platform media sosial pada khususnya.

Secara kinerja, tools yang digunakan Kogan lebih cepat cara kerjanya karena menggunakan kamuflase sebagai survei psikologis terhadap pengguna Facebook, serta menggunakan celah keamanan yang ada pada API (Application Programming Interface) Facebook sehingga bisa mendapatkan data dalam jumlah lebih besar dan cepat.

Monetizing Melalui Iklan

Ketiga, di era teknologi informasi, data adalah komoditas yang memiliki nilai tambah luar biasa. Data yang di-input oleh pengguna saat mendaftar akun (nama, tanggal lahir, domisili, nomor seluler, email, ketertarikan, hingga fanpage yang disukai) adalah data-data bernilai yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan termasuk iklan.

Melalui cara kerja big data akan terlihat jelas personalitas, gaya hidup, dan perilaku penggunanya. Hal inilah yang membuat perusahaan sekelas Facebook dan platform OTT lainnya kebanjiran pundi-pundi uang melalui iklan. There's no free lunch, inilah model bisnis baru di era big data yang memberikan keuntungan luar biasa. Tidak mengherankan bila Mark dan penggagas platform OTT lainnya menjadi miliader muda di era digital ini.

Cerdas Mengunakan Medsos

Sejauh ini, skandal Facebook belum memberikan dampak yang begitu signifikan meski sempat muncul gerakan #DeleteFacebook di media sosial, dan anjloknya saham Facebook. Untuk ruang lingkup Indonesia, juga belum terlihat nyata imbasnya, apalagi tingkat security awareness di Indonesia ini masih rendah. Biasanya efek kejadian akan terasa jika sudah mengarah ke tindakan kriminal. Meski demikian, mengingat kontrol terhadap keamanan data ada di tangan pengguna, masyarakat pengguna Facebook dan media sosial lainnya harus bersikap cerdas.

Kecerdasan dapat kita implementasikan dalam berbagai sikap, antara lain: selektif saat mengisi data yang bersifat identitas pribadi saat mendaftar akun, hati-hati dalam memberikan izin atas data kita dengan membaca term and condition secara saksama, selektif dalam memilah mana yang konten yang perlu di-share dan mana yang tidak, hingga menghindari atau menimimalkan posting informasi, data, hingga foto yang bersifat pribadi. Sebagai langkah awal, akan lebih baik bila pengguna mampu mengklasifikasikan konten yang bersifat pribadi yang tidak perlu disebar kepada publik, dan konten umum yang bisa diakses oleh siapa saja.

Langkah antisipasi lainnya adalah dengan mempergunakan fitur yang disediakan oleh Facebook atau media sosial lainnya untuk menonaktifikan berbagai akses maupun informasi yang disajikan oleh pihak pengiklan. Dalam hal ini, pengguna dapat membatasi diri untuk mendapatkan informasi iklan, dan begitu juga sebaliknya. Segala sesuatu yang berlabel iklan memiliki maksud persuatif untuk mempengaruhi penerimanya, termasuk iklan politik.

Pada akhirnya, privasi adalah hak fundamental penting yang memungkinkan kita untuk membuat pembatasan, dan mengelolanya untuk melindungi diri dari gangguan yang tidak diinginkan, serta menempatkan diri kita untuk mampu berinteraksi dengan baik, serta aman dengan orang-orang di sekitar kita. Pendeknya, privasi membangun batasan tentang siapa yang memiliki akses terhadap diri kita, termasuk data kita. Dan, eksistensi pengguna di jejaring sosial adalah ranah publik. Karenanya, tidak ada lagi data atau konten bersifat pribadi, dan sangat bijak untuk selalu bersikap waspada.

Ruby Alamsyah, MTI Chief Digital Forensic Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed