DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 April 2018, 17:29 WIB

Kolom Kalis

Memparadekan Pikiran Kartini

Kalis Mardiasih - detikNews
Memparadekan Pikiran Kartini Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Penelitian-penelitian terbaru mengenai Kartini mengungkap bahwa sosok perempuan yang menghidupkan semangat perlawanan awal abad ke-20 ini tidak sekadar kanonisasi narasi yang menempatkan sosoknya sebagai simbol perlawanan pada budaya feodal dan patriarki. Banyak surat-surat Kartini yang tidak terangkum dalam Door Duisternis tot Licht yang mendorong terbitnya karya lain berjudul Kartini: The Complete Writings 1898-1904 pada 2014. Rumah Kartini, sebuah komunitas sosial yang meneliti arsip sejarah dan seni di Jepara, terus menelusuri surat-surat Kartini kepada Rosa Abendanon yang hilang.Terungkap, Kartini adalah seorang pemikir kemanusiaan, pendidik, seniman, pengusaha, penggerak dan makelar kriya Jawa ke pasar Eropa sekaligus diplomator ulung.

Sementara itu, di tempat mangkal tukang sayur keliling, serombongan ibu-ibu saling bertukar informasi harga sewa kebaya termurah. Seorang ibu mengeluh karena tiga anaknya adalah perempuan seluruhnya, yang itu artinya, selain harus menyewa tiga kebaya untuk perayaan hari Kartini di sekolah, ia juga harus membayar biaya berdandan di salon untuk sejumlah tiga anak. Seorang ibu lain bersyukur karena anaknya laki-laki. Anak laki-laki tidak perlu berdandan dengan menggunakan kosmetik di salon, bahkan banyak yang tidak menyewa pakaian adat sebab penampilan bocah laki-laki bisa diakali cukup dengan baju koko, sarung dan peci.

Setelah dua dekade, perayaan Kartinian dengan berdandan mengenakan kostum adat ternyata belum berubah. Momentum ini mengesankan bagi saya, sebab masa kecil dulu, saya pernah tidak berani pergi ke sekolah sebab Ibu tak cukup mampu untuk menyewa kostum dan mengantar saya ke salon. Saya datang ke sekolah esok harinya setelah parade berkostum usai. Pada perayaan Kartini hari selanjutnya, kakak kelas mementaskan drama yang menarasikan cerita Kartini, Roekmini, dan Kardinah yang cerdas namun terkungkung adat pingitan keluarga bangsawan Jawa ketika menjelang remaja. Dari lakon sederhana itu, saya mengingat Kartini bersama dua saudara perempuannya yang lain sebagai bocah yang memiliki hobi membaca hingga mampu mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di pesisir utara Jawa.

Di Instagram hari ini, pencarian terkait kata kunci Kartini pun menghasilkan glorifikasi Kartini dalam parade berbusana. Kita akan menemukan kata kunci lain seperti "kartini day", "kartini masa kini", "kartinian", dan "baju kartini" yang merujuk pada ratusan ribu gambar unggahan. Kata kunci itu akan membawa kita pada foto anak-anak sekolah dari PAUD, TK, dan SD yang berakting penuh gaya, atau foto para pegawai negeri dan pegawai perkantoran swasta yang juga berdandan anggun disanggul dan berkebaya warna-warni lengkap dengan kain jariknya.

Kata kunci "lomba kartini" akan membawa kita pada potret anak-anak TK yang sedang berlomba berjalan di atas panggung bak model, dan lomba mewarnai wajah Kartini, wajah bulat lugu yang telah sangat kita kenal itu. Seusai mewarnai, mungkin anak-anak itu akan mulai bertanya siapa gerangan perempuan berwajah sendu yang baru saja mereka gambari, mengapa perempuan dengan tampilan masa lalu itu disebut pendekar bangsa dan pendekar kaumnya untuk merdeka dalam lagu karangan WR Supratman. Wajah yang menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja adalah wajah separuh jelata dan separuh bangsawan, sebab hidung Kartini yang tidak mancung, tidak tinggi dan tidak tipis bukanlah warisan khas Sosroningrat, ayahnya yang bangsawan, tetapi lebih mirip hidung Ngasirah, ibunya, seorang buruh pabrik gula Mayong Jepara yang diangkat selir Asisten Wedana.

Kata kunci referensi kebaya akan memperlihatkan akun-akun toko kain yang menjual kebaya berbagai model. Sejarah kebaya pada abad ke-16 terkait dengan Islamisasi yang masuk pada akhir kekuasaan Majapahit. Kebaya mengekspresikan status sosial, model lengan panjang disebut-sebut menggantikan kemben yang terlalu terbuka pada bagian dada yang menurut syariat Islam harus ditutup. Kini, kebaya bukan lagi jenis pakaian tradisional yang hanya layak digunakan oleh keluarga kerajaan atau perempuan aristokrat keturunan bangsawan. Kebaya telah bebas nilai dan menjadi bagian dari budaya pop berpakaian yang dikenakan perempuan di acara kondangan pernikahan, hajat keluarga atau reuni sekolah. Dan terakhir, kata kunci promo Kartini akan menuntun kita pada brosur-brosur diskon perawatan kecantikan dan produk pakaian di toko online.

Begitulah Kartini dikenang dan diparadekan. Anak-anak mengenangnya lewat lagu dan cerita tentang pahlawan nasional. Para perempuan bekerja menganggap diri mereka adalah produk emansipasi dunia modern yang ada berkat pikiran Kartini. Industri menangkap momen Kartinian tetap sebagai pasar, layaknya momen peringatan hari apa pun.

Tetapi, tak dipungkiri, mengenang Kartini selamanya adalah membicarakan adat perempuan serta bagaimana perempuan dibicarakan dalam sebuah zaman. Meski dikritik dengan tuduhan glorifikasi Jawa-sentris dan etalase bagi feminisme ala Barat, saya pikir tuduhan itu tak cukup kuat. Batin Kartini adalah debur ombak kemanusiaan yang ingin menenggelamkan segala bentuk penindasan. Dalam roman Gadis Pantai, novel yang ber-setting awal abad ke-20, sezaman dengan masa Kartini hidup, Pramoedya Ananta Toer menyajikan sebuah babak dialog antara tokoh Gadis Pantai dan Mardinah. Mardinah menertawakan Gadis Pantai yang menjadi seorang selir Bendoro, tetapi wujud identitas aslinya adalah orang kampung, sebangsa kuli, anak seorang nelayan miskin dan tidak bisa baca tulis.

"Sahaya bisa baca tulis, Mas Nganten bisa?" begitu Mardinah meremehkan Gadis Pantai.

Baca tulis sejak dulu ternyata serupa gengsi. Perkara pekerjaan yang berhubungan dengan alam seperti meladang dan melaut, dianggap tidak lebih tinggi derajatnya ketika ada profesi bernama juru tulis yang faktanya adalah buruh pemerintah kolonial. Hingga hari ini, pendidikan masih berada pada posisi serupa ironi. Tidak semua yang punya status sosial dan bergelar dapat mengubah nasib buruk orang lain. Toh, Kartini tetap percaya pada pendidikan. Pendidikan yang serupa ruh.

Kartini, selamanya jelas bukan tentang busana dan parade. Kartini adalah kisah perempuan remaja yang berpikir melampaui dinding bangunan yang mengungkungnya. Pendidikan bagi Kartini adalah pencair kebekuan nalar agar mampu mengajukan pertanyaan hingga terbentuk kesadaran untuk mengubah nasib. Manusia-manusia yang mampu menemukan hikmah berpikir yang tidak sesuai semangat zamannya selalu tercatat sebagai pahlawan.

Kartini menulis, "Pendidikan ialah mendidik budi dan jiwa, kewajiban seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya baru mencerdaskan pikiran saja; bahwa tahu adat dan bahasa serta cerdas pikiran belumlah lagi jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti..."

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed