Analisis Zuhairi Misrawi

Ketangguhan Bashar al-Assad

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 19 Apr 2018 11:30 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Krisis politik di Suriah dengan segala duka yang menyelimutinya menyisakan sebuah kisah menarik, yaitu perihal ketangguhan Presiden Bashar al-Assad. Sosok ini terbilang unik, karena sejak digoyang pada musim semi tahun 2010 lalu hingga sekarang ini, ia masih bisa bertahan dari gempuran lawan-lawan politiknya, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Bahkan kalau dilihat dari musuh-musuh yang menyasarnya, hampir tak terbayangkan Bashar al-Assad bisa bertahan sampai sekarang ini. Sejak era Obama, Amerika Serikat terus menggempur Suriah yang di antara sasarannya bukan hanya pangkalan militer dan gudang persenjataan Suriah, melainkan juga tempat persembunyian Bashar al-Assad.

Apa yang dilakukan oleh Donald Trump dengan menuduh Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia dalam menghadapi oposisi di Douma, sebenarnya hanya dalih yang kerapkali diembuskan pihak Amerika Serikat untuk mengabsahkan penggunaan senjata gempur supercanggih untuk melumpuhkan kekuatan militer Bashar al-Assad, bahkan jiwa Bashar al-Assad sendiri. Namun, sekali lagi, Bashar al-Assad masih bisa mempertahankan kekuasaannya dari gempuran lawan-lawan politiknya. Kenapa hal tersebut terjadi?

Pertama, Bashar al-Assad merupakan sosok yang populer di seantero Suriah. Melanjutkan tampuk kekuasaannya melalui pemilu pada tahun 2000, ia melanjutkan Dinasti al-Assad yang punya tempat di hati warga Suriah. Dalam pemilu terakhir, 2014 lalu, ia masih memenangkan Pilpres di atas angka 90%. Ia tentu mempunyai lawan-lawan politik yang selama ini berada di kawasan Homs dan beberapa kota lainnya, tetapi juga tidak bisa dimungkiri ia masih menjadi primadona warga Suriah.

Kedua, tidak ada oposisi yang tangguh. Satu-satunya oposisi yang kuat sebenarnya Ikhwanul Muslimin yang sebagian besar berada di Homs. Mereka adalah pihak yang pertama kali mengobarkan api musim semi di Suriah. Sayangnya oposisi yang dimotori Ikhwanul Muslimin tidak mampu mengonsolidasikan kekuatannya dengan sayap oposisi lainnya. Kelompok oposisi mempunyai agenda sendiri-sendiri perihal masa depan Suriah pasca-Bashar al-Assad.

Ketiga, alih-alih ingin membentuk oposisi yang tangguh dengan perjuangan politik yang terukur, pihak oposisi akhirnya menjelma sebagai pemberontak yang menggunakan kekuatan militer untuk melawan rezim Bashar al-Assad. Akibatnya, musim semi yang awalnya damai menjadi pertarungan antara rezim yang berkuasa dengan pihak oposisi berubah menjadi perseteruan antara rezim yang berkuasa dengan pemberontak.

Ironisnya, pihak pemberontak mendapatkan amunisi dari Amerika Serikat, Arab Saudi, dan lain-lain. Tragisnya pula, mereka mendirikan ISIS yang berhasil menduduki Raqqa dan beberapa propinsi lainnya di Suriah.

Pihak oposisi kehilangan momentum untuk menjungkalkan rezim Bashar al-Assad karena mereka mempunyai agenda masing-masing, bahkan tidak sedikit yang ingin memecah belah kedaulatan Suriah. Tidak terkecuali agenda Amerika Serikat yang sangat kentara di dalam krisis politik di Suriah menyebabkan warga Suriah tidak melihat adanya harapan yang lebih baik di masa mendatang.

Keempat, tidak ada sosok yang menonjol yang bisa menjadi lawan tangguh Bashar al-Assad. Sebenarnya ada sosok Burhan Ghalyun yang pernah didaulat sebagai pimpinan oposisi. Tetapi akhirnya ia mundur dan memilih untuk tinggal di Prancis, karena ada persoalan akut di internal oposisi yang tidak mudah diselesaikan.

Pihak oposisi mempunyai kemufakatan untuk melengserkan Bashar al-Assad, tapi tidak ada strategi politik yang jitu untuk melengserkannya. Ada yang berpendapat dengan menggunakan perjuangan militer seperti membunuh Moammar Qaddafi di Libya atau menggunakan perjuangan politik melalui pemilu yang jujur, adil, dan terbuka seperti di Tunisia.

Rupanya pihak oposisi terjebak dalam lingkaran setan, karena dengan menggunakan perjuangan militer, maka pemerintahan Bashar al-Assad mempunyai argumen kuat untuk menumpas pemberontak dengan menggunakan senjata pula. Dan hampir bisa dipastikan, kalau jalur itu yang digunakan, maka jalan untuk melengserkan Bashar al-Assad akan semakin terjal.

Keempat, Bashar al-Assad mendapat sokongan yang kuat dari Iran dan Rusia. Dalam 60 tahun terakhir, Rusia sudah menjadi mitra strategis Suriah. Bahkan satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur-Tengah berada di Turtus. Persenjataan yang dimiliki Suriah sepenuhnya berasal dari Rusia, dan disokong sepenuhnya oleh Iran.

Maka dari itu, hingga saat ini harus diakui Bashar al-Assad masih dan semakin tangguh di Suriah. Perlawanan dengan menggunakan senjata hanya akan melemahkan oposisi. Begitu halnya ketika Amerika Serikat dan sekutunya menggunakan senjata dalam melumpuhkan rezim Bashar al-Assad, pada saat itu pula Bashar al-Assad akan semakin kuat, karena Amerika Serikat mempunyai citra yang sangat buruk di Timur-Tengah.

Warga Suriah memandang, bahwa intensifikasi serangan Amerika Serikat ke Suriah pada akhirnya bukan untuk memulihkan stabilitas politik di Suriah, melainkan hanya mengukuhkan kekuatan Israel di kawasan Timur-Tengah. Apa yang terjadi di Libya, Irak, dan Mesir memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa pasca-musim semi negara-negara tersebut makin terpuruk.

Sekali lagi, satu-satunya cara untuk melumpuhkan rezim Bashar al-Assad hanya dengan menggunakan perjuangan politik. Harus terbentuk oposisi yang tangguh yang dapat menanding kedigdayaan Partai Baats yang dikenal mempunyai agenda sosial dan perlindungan warga yang sangat bagus.

Di samping perlu sosok yang kuat untuk mengalahkan sosok Bashar al-Assad dalam Pemilu Presiden. Normalisasi partai-partai politik dan stabilitas keamanan mutlak diperlukan. Sebab jika tidak, Bashar al-Assad akan semakin tangguh dalam posisinya sebagai Presiden Suriah. Meskipun kondisi yang ada sekarang sama sekali tidak ideal, karena pertarungan antara rezim Bashar al-Assad dengan pihak pemberontak akan menelan korban yang sangat besar dan akan terus membawa Suriah pada ketidakpastian, bahkan konflik yang makin akut.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute

(mmu/mmu)