DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 18 April 2018, 14:00 WIB

Kolom

Digital Paradoks di Dunia Kerja

Jusman Dalle - detikNews
Digital Paradoks di Dunia Kerja Foto: istimewa
Jakarta -

Anda mungkin pernah mendengar cerita, seorang desainer grafis kondang yang bekerja dari rumah dan melayani klien-klien internasional pernah dicurigai memelihara tuyul. Sebabnya, sehari-hari ia terlihat hanya di rumah saja, sementara pundi-pundinya terus terisi.

Kekonyolan seperti ini banyak terjadi. Kita orang Indonesia terkooptasi oleh mindset, bekerja adalah masuk kantor. Mereka yang bekerja berarti pergi pagi dan pulang malam. Instrumen tentang bekerja berarti punya kantor secara fisik.

Satu hasil studi mengejutkan tentang dunia kerja dirilis oleh Gallup. Terungkap bahwa, hanya 13% karyawan yang benar-benar bekerja di kantor sebagaimana mestinya.

Sementara ada 87% karyawan kantoran merasa terpaksa masuk kantor. Mereka ngantor sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Di kantor, kerjanya bisa jadi cuma main game, baca WhatsApp, nonton Youtube, scroll Twitter, atau nge-like posting-an Instagram. Banyak juga yang cuma ngobrol ngalor-ngidul, atau malah sering bolos di jam kerja.

Realitas seperti itu sering kita jumpai terutama di instansi pemerintah. Dulu. Tahun 2002, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi waktu itu bilang, 65% ASN tidak produktif.

Entah sekarang sudah berubah atau masih tetap sama. Apakah program reformasi birokrasi sudah membuktikan tajinya, atau sekadar bubuhan di atas kertas? Yang pasti, para abdi masyarakat tersebut bekerja secara optimal sesuai fasilitas yang diberikan oleh rakyat (melalui negara).

Makan gaji buta, 87% pekerja itu menerima berbagai fasilitas setiap bulan hanya karena rutin nyetor muka atau sidik jari (baca: absen finger print). Sementara kinerjanya tidak optimal.

Anda mungkin termasuk karyawan atau tipe pekerja yang disebutkan dalam studi Gallup tersebut. Tak perlu merasa bersalah. Bekerja terkurung di balik tembok dan partisi ruangan yang kita sebut sebagai 'kantor' memang semakin terasa menjemukan.

Terlebih, suasana kerja di kebanyakan kantor masih mempertahankan tradisi lama. Hirarkis, dan tak jarang sarat unsur kompetisi sesama pegawai. Yang dibangun mestinya iklim kolaboratif. Atmosfer yang tercipta terasa kaku, serius, dan kadang-kadang menegangkan. Hal itu membuat kebatinan ruang kerja menjadi tidak nyaman.

Padahal, di era digital amat banyak inovasi teknologi informasi yang membantu menyelesaikan pekerjaan secara virtual. Yup, kita telah mamasuki babak virtual office.

Kita dapat bekerja dari mana saja. Bukan lagi di balik tembok dan partisi kantor yang membosankan. Tapi dari atas meja kafe yang comfy, hingga bahkan dari atas kasur empuk di apartemen kita. Itu jika instrumen yang digunakan adalah produktivitas.

Yang menyedihkan, pimpinan perusahaan dan institusi sebetulnya sudah mengetahui bahwa iklim kerja di kantor jauh dari kata optimal. Namun, para pengambil kebijakan tak dapat berbuat banyak. Tradisi lama enggan didedah.

Menurut studi TomTom Telematic terhadap 400 Manajer Senior di Inggris yang notabene merupakan negara maju dan adaptif terhadap perubahan, kecanggungan mengadopsi inovasi terjadi karena ketidakpercayaan terhadap teknologi. Meskipun, mereka menyadari bahwa banyak benefit yang bakal diberikan.

Ringkasnya, distrust terhadap teknologi digital masih tinggi, meskipun produk digital telah menjadi makanan sehari-hari dari bangun tidur sampai tidur kembali. Ini satu paradoks yang amat sangat nyata di era modern ketika manusia semakin banyak menyerahkan otoritasnya kepada produk-produk digital.

Distrust parsial ini memupuk status quo. Alhasil, tak sedikit institusi merasa gagah mempertahankan tradisi lama. Termasuk tradisi bekerja berarti harus masuk kantor.

Padahal, kalau pegawai diberikan keleluasaan dapat memilih bekerja secara remote --di mana saja, dan dari mana saja-- amat banyak benefit yang bisa dinikmati perusahaan atau institusi. Mulai dari efisiensi listrik, hemat ruang, dan berbagai kemanfaatan ekonomis lain.

Nah, kamu termasuk yang gaya kerjanya harus ngantor, atau berharap diberi kebebasan bekerja di mana saja? Kemukakan opini, dan viralkan! Semoga tulisan ini dibaca para bos-bos pengambil kebijakan di kantormu!

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan praktisi ekonomi digital




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed