DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 17 April 2018, 16:02 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Partai Setan, Fiksi, dan Arogansi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Partai Setan, Fiksi, dan Arogansi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Keributan tentang Partai Allah vs Partai Setan muncul, menyusul kericuhan tentang kitab suci sebagai fiksi. Dua obrolan itu meramaikan pekan-pekan ini. Saya tidak akan tambah memanaskannya, apalagi jika cuma berbekal keberpihakan dangkal seturut sikap-sikap partisan. Yang seperti itu cukup di grup Whatsapp saja hehehe.

Yang ingin saya bincangkan di sini hanyalah soal kebahasaan. Intinya, saya menemukan kesamaan pola antara kedua kasus itu. Ada semacam "kesenjangan berbahasa", anggaplah begitu istilahnya. Ada komunikasi yang tidak nyambung antara pembicara dan pendengar, karena masing-masing menalar dalam dua semesta bahasa yang berbeda.

***

Jadi begini. Kita tahu, baru saja Yang Terhormat Bapak Amien Rais memanaskan lini masa dengan pernyataan beliau tentang Partai Allah melawan Partai Setan. Sembari menyampaikan itu, Pak Amien menyebut PAN, PKS, dan Gerindra sebagai bagian dari Partai Allah.

Orang-orang pun ribut. Banyak yang sebal karena seolah beliau yang mumpuni itu mengajak Tuhan untuk main partai-partaian. Untunglah, segera muncul orang-orang dengan ilmu agama yang tinggi. Mereka menjelaskan bahwa konsep Partai Allah dan Partai Setan memang ada di dalam Alquran. Hizbullah dan hizbussyaithon, istilahnya. Kata hizb di situ berarti 'partai' atau 'golongan'. Hizbullah menunjuk golongan yang baik, alias golongan Allah. Adapun hizbussyaithon adalah golongan jahat, alias golongan setan.

Saya tidak berani membantah konsep dikotomis dalam Alquran tersebut. Namun pelan-pelan mulai tampak akar keributan yang tidak terlalu kita cermati, yakni pada penerjemahan hizb dengan 'partai'.

Terjemahan itu memang benar, sebab secara makna asal, kata 'partai' sangat dekat dengan 'golongan'. Jadi Pak Amien tidak salah saat mengatakan bahwa secara spiritual ada golongan baik dan golongan jahat yang sedang berseteru di alam dunia ini. Masalah justru mulai muncul ketika beliau menyebut PAN, PKS, dan Gerindra.

Akibatnya cukup jauh. Kategori golongan baik vs golongan jahat tadi seketika menyempit ke dalam dimensi politik praktis yang kasat mata. "Partai-partai" tadi bukan lagi dipahami sebagai kategori manusia dalam sisi moralitas dan keimanan mereka, melainkan jatuh sebagai identifikasi institusi politik praktis semata.

Dalam hal ini, perlu kita melihat perspektif masyarakat awam dalam mencerna makna kata 'partai'. Benar bahwa pada awalnya istilah partai bermakna golongan. Namun jangan dinafikan bahwa selalu ada gejala penyempitan makna dalam bahasa. Di tengah publik awam penutur bahasa Indonesia di zaman ini, makna kata 'partai' sudah menyempit. Ia tidak lagi diartikan sebagai golongan dalam konteks sebuah kriteria moral, melainkan sesederhana partai dalam dunia politik elektoral.

Jadi masalahnya adalah kesenjangan bahasa antara Pak Amien dan para ahli agama di satu sisi, dan masyarakat awam penutur bahasa Indonesia di sisi yang lain. Meski kata yang diucapkan sama, masing-masing pihak mencernanya secara berbeda.

Memang sih, segalanya akan baik-baik saja kalau Pak Amien tidak menyebut-nyebut PAN, PKS, dan Gerindra. Lalu kenapa beliau menyebut ketiganya? Wah, kalau soal itu ya jangan tanya saya hehehe.

***

Pola yang mirip berjalan pula dalam kasus Rocky Gerung Sarjana Sastra, yang mengatakan "Kitab suci itu fiksi". RG dan publik pendengar berbicara dalam dua bahasa yang berbeda. Bunyi katanya sih sama, yakni fiksi. Namun pihak pertama menyebutkan kata itu dalam semesta Bahasa A, sedangkan pihak kedua menangkapnya dalam semesta Bahasa B.

Jadi kalau menyimak penjelasannya, tampak bahwa RG menyebut kata 'fiksi' dalam pemaknaan akademis, dalam makna orang sekolahan, atau bisa juga diklaim "dalam makna awalnya". Sebutlah RG menyebut kata 'fiksi' dari perspektif filsafat. Filsafat secara luas memang milik umat manusia seluruhnya, bukan cuma milik kaum akademisi. Namun toh tidak seluruh umat manusia mempelajari disiplin keilmuan filsafat. Begitu, bukan?

Saya sendiri pernah mempelajari makna kata 'fiksi', karena saya belajar di Fakultas Sastra. Fiksi dalam perspektif ilmu sastra lumayan dekat dengan apa yang dijelaskan oleh RG. Ringkasnya, fiksi bukan kebohongan, melainkan imajinasi. Sebuah karya sastra fiksi tidak dapat diartikan sebagai karya yang berisi dusta belaka, melainkan kombinasi antara realitas dan imajinasi. Poinnya, dalam disiplin keilmuan sastra, kata fiksi bukan bermakna 'kebohongan'. Ini sangat dekat dengan penjelasan RG ketika dia mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi karena mengaktifkan imajinasi.

Nah, sementara itu, jangan lupa. Di luar perbincangan ala sekolahan di buku-buku filsafat, buku teori sastra, teori film, atau teori seni pertunjukan, ada dunia yang berbeda. Dunia tersebut jauh lebih luas, yakni masyarakat awam. Publik awam pada hari ini menangkap bahwa kata 'fiksi' bermakna khayalan sepenuhnya. Itulah kenapa dalam percakapan sehari-hari, 'fiksi' nyaris selalu diperlawankan dengan 'fakta'. Fakta adalah kejujuran, fiksi adalah kebohongan. Itulah yang dipahami masyarakat umum.

Saya jadi ingat sebuah acara kuis di televisi bertahun-tahun silam. Di situ pemandu acara menyajikan sebuah pernyataan, lalu peserta diminta memencet tanda untuk menilai apakah pernyataan itu fakta atau fiksi. Pernyataan "George Bush adalah Presiden Amerika", misalnya, akan dinilai sebagai fakta. Adapun "George Bush adalah Presiden Zimbabwe" dinilai sebagai fiksi. Jadi, tidak ada sifat imajinasi dalam poin-poin yang dinilai sebagai fiksi. Jika memakai istilah yang sering dipakai belakangan, fiksi disetarakan dengan hoax.

Memang seperti itulah makna fiksi dalam pemahaman awam, yakni sesuatu yang berlawanan dengan fakta.

Lalu apakah masyarakat umum salah? Tidak. Apakah Rocky Gerung salah? Juga tidak. Dalam memaknai kata 'fiksi' sesuai versi yang dia anut, RG sesungguhnya tidak salah. Dia salah hanya karena dua hal lain. Pertama, karena ia mengira bahwa kitab suci hanya berisi cerita tentang masa depan. Padahal dalam Alquran saja ada banyak kisah masa lalu, juga aturan-aturan moral yang selama ini telah diikuti umat Islam selama lebih dari satu milenium. Kesalahan kedua, RG mengira bahwa versi makna 'fiksi' yang ia pegang itulah satu-satunya yang benar, sembari menyalahkan versi makna lain yang hidup di tengah publik luas.

Posisi kata 'fiksi' dalam pemahaman publik saat ini memang dekat-dekat dengan kepalsuan. Artinya, memang telah terjadi pergeseran makna atas kata tersebut di dalam konsensus kebahasaan publik. Nah, karena publik sudah menggeser makna tersebut, Pusat Bahasa sebagai pengelola Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun menampungnya.

Masyarakat umum tidak salah, KBBI juga tidak salah. Yang salah adalah mereka yang menafikan terjadinya gejala perluasan, penyempitan, dan pergeseran makna sebuah kata dalam medan bahasa. Dengan gejala-gejala seperti itu, kadang sebuah kata bermakna satu hal di KBBI, namun mengandung makna spesifik yang agak lain di satu lingkup perbincangan yang lebih sempit.

Kita ambil satu contoh pembanding yang paling gampang atas gejala ini. Bagi masyarakat awam, kata 'artis' sekarang ini lazim saja dimaknai sebagai pesohor atau selebritas. Sampai-sampai muncul istilah semacam "artis Facebook" dalam percakapan sehari-hari, hanya karena akun Facebook orang terkait punya jutaan pengikut. Namun makna awal 'artis' jelas bukan itu. Artis adalah seniman. Maka, kalau di lingkungan sebuah Institut Seni tiba-tiba Anda menyebut Denny Siregar atau Jonru sebagai para artis, misalnya, saya kira Anda akan segera ditendang keluar kelas.

Baik masyarakat seni maupun masyarakat umum sama-sama tidak salah dalam memaknai istilah 'artis' sesuai dengan yang mereka pahami masing-masing. Yang salah adalah ketika seorang seniman menutup mata dari realitas di sekelilingnya, lalu dengan tengil dan penuh semangat puritan menyangkal habis-habisan bahwa telah terjadi pergeseran makna yang lazim-lazim saja di dalam ruang-ruang bahasa.

***

Dengan melihat segala ilustrasi di atas, saya menemukan satu pihak yang paling arogan di antara semua. Bukan Pak Amien, bukan Pak Rocky. Melainkan orang-orang pintar yang menganggap bahwa masyarakat awam hanyalah orang-orang pemalas dan kurang piknik ketika mereka cuma membuka KBBI untuk menemukan makna kata-kata penuai kontroversi.

Beberapa kali saya menjumpai sikap demikian dalam rentetan perdebatan atas kedua kasus tersebut. Dalam kesombongan mereka, para elite pengetahuan tadi menafikkan berlakunya makna sebuah kata di tengah mayoritas masyarakat penutur, sembari mengagung-agungkan diri karena memahami arti kata dalam lingkup yang lebih terbatas dan lebih mulia.

Mereka, para elite tengil itu, membayangkan bahwa semua orang harus mendalami minat yang sama dengan mereka, harus mengerti betul dunia mereka, dan harus tunduk mengakui bahwa makna yang dipahami publik awam adalah makna yang sia-sia.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed