DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 16 April 2018, 15:04 WIB

Kolom

Partai Setan, Partai Allah, dan Rasionalitas Politik

Hilmi Amin Sobari - detikNews
Partai Setan, Partai Allah, dan Rasionalitas Politik Cyber Indonesia laporkan Amien Rais karena pernyataan soal 'Partai Setan'
Jakarta - Isu demi isu terus diembuskan oleh politisi untuk meraih simpati dan menentukan ke mana arah angin opini publik berembus. Belum habis perdebatan mengenai pernyataan kontroversial 'kitab suci itu fiksi' dari Rocky Gerung di sebuah acara televisi, Amien Rais tiba-tiba muncul dengan dikotomi Partai Setan (Hizbussyaithan) versus Partai Allah (Hizbullah).

Pernyataan politisi senior yang pernah menjadi Ketua MPR dan lekat dengan julukan Bapak Reformasi itu semakin meningkatkan tensi ketegangan panggung politik nasional. Dengan positioning-nya sebagai tokoh Islam sekaligus bagian dari partai yang dilahirkan dari ormas Islam, tentu saja hal itu disambut oleh publik dengan beraneka tanggapan. Akibatnya, kita sebagai penonton (atau pelaku) harus menyaksikan publik terbelah (lagi dan lagi) dalam wacana, pro A dan pro B. Energi pun habis dikerahkan untuk perdebatan yang sia-sia dan cenderung destruktif.

Pada ujung perdebatan, dikotomi dukungan politik yang terbentuk sejak Pilpres 2014 lalu semakin menguat dan akibatnya kohesi antaranggota masyarakat dan antarkelompok semakin renggang. Inikah yang diinginkan para politisi itu?

Tetapi, menyalahkan politisi sebagai aktor tunggal menurut saya pun tidak tepat. Terlepas dari efek destruktif yang dihasilkan dari trik-triknya, para politisi itu memang dituntut untuk mendulang suara. Apalah artinya nama besar atau dukungan melimpah jika kemudian kalah di kontestasi. Maka, cara-cara mendulang suara yang efektif pun terus digali dan diterapkan.

Kita ingat, pada Pilgub 2017 di DKI, politik identitas menemukan momentum. Para politisi yang diuntungkan tentu akan termotivasi untuk mengecap kemenangan yang sama. Sudah terbukti politik identitas itu efektif mendulang suara. Pada Pilpres 2014 misalnya, isu-isu SARA yang lekat dengan identitas menyajikan pertarungan yang keras di antara kandidat dan kemenangan-kekalahan hanya berselisih prosentase yang tipis. Saya kira, tanpa perlu analisis yang mendalam, penggunaan isu-isu tersebut sebagai kampanye politik akan semakin ganas di tahun ini, dan akan terus meningkat sampai ke puncaknya di gelaran pilpres tahun depan.

Mengharapkan para politisi itu untuk mengubah metodenya ibarat sedang bermimpi di siang bolong, dengan kata lain akan sulit terwujud. Untuk itu diperlukan fokus pada hal yang lain agar efeknya tidak melebar atau yang ingin dihindari, pada tahap selanjutnya menjadi identitas permanen dari para pemilih. Maka pertanyaannya, pada area manakah kita harus menaruh fokus?

Isu politik yang dibangun politisi sejatinya bermuatan pesan-pesan yang diinginkan untuk ditangkap oleh para pemilih. Mengambil contoh isu dikotomi partai setan versus partai Allah, pesan yang disampaikan adalah: kami, politisi yang membuat isu, berada di partai Allah, sedangkan lawan kami sebaliknya ada di pihak setan. Pesan inilah yang ingin disampaikan. Maka, jika kamu seorang yang beriman, berpihaklah kepada kami, bergabunglah dengan kami, pilih kami, berjihadlah bersama kami, sebab jika tidak, maka kamu sedang berhadapan dengan Allah dengan segala konsekuensinya.

Pesan seperti inilah yang ditangkap oleh publik. Dan memang inilah yang diharapkan terbentuk. Padahal, jika kita merujuk pada redaksional yang digunakan Amien Rais, diksi yang dipilih cukup netral. Saya kutipkan. "Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? Untuk melawan hizbussyaithan."

Yang kemudian dilanjutkan dengan, "Saya enggak katakan begitu. Jadi ini bukan partai, tapi cara berpikir. Cara berpikir yang untuk Allah dan yang diikuti oleh setan. Yang cara berpikir gelombang manusia yang pro setan itu pasti akan merugi, sementara gelombang besar yang didikte oleh kehendak Allah pasti menang."

Mengapa saya katakan netral? Diksi Hizbullah dan Hizbussyaithan bukanlah baru. Dalam Alquran, kata hizbullah disebutkan dua kali: Almujadilah ayat 22 dan Almaidah ayat 56. Sedangkan hizbussyaithan adalah antitesis dari hizbullah. Ia tidak disebut secara spesifik. Namun, sebagai lawan dari hizbullah, setiap Alquran menyebut setan dan sifat-sifatnya (membangkang, melakukan maksiat, dan lain-lain) maka inilah gambaran dari hizbussyaithan itu.

Mengingat diksi tersebut ada di dalam Alquran, penyebutannya seharusnya tidak menimbulkan polemik. Ia familiar bagi seorang muslim. Menggugatnya seakan-akan menunjukkan kegagapannya dalam memahami konsepsi Alquran. Tapi, nyatanya terjadi polemik. Tentu saja ada perkara lain yang menjadi penyebab.

Jika kita mengingat bahwa pesan itu terdiri dari pengirim, media pengantar pesan, dan penerima; maka bisa jadi problemnya ada di salah satunya. Gejolak ini muncul bukan karena isi pesannya yang netral tetapi karena sudah terbentuknya opini publik yang melekat terhadap pengirim dan penerima pesan. Amien Rais selama ini identik dengan kelompok oposisi, sehingga pesan yang diterima, hizbullah adalah kelompoknya, dan koalisi pemerintah ada di posisi berseberangan.

Nah. Karena Amien Rais sebagai pengirim pesan sudah tidak bisa diubah lagi posisinya dalam benak publik, artinya apapun yang datang darinya dianggap sebagai anti-pemerintah, walaupun itu terkait ajaran agama sekalipun, maka kini fokusnya adalah ke penerima pesan, yang dalam kontestasi politik adalah para pemilih di pilpres tahun depan, yaitu: saya, Anda, mereka, kita pemilik suara. Penerimaan pesan itu kemudian bias oleh apa yang telah kita yakini sebelumnya alias prekonsepsi yang telah tertanam sebelum kita menerima pesan itu.

Bayangkan jika Anda sudah sejak awal mengidentifikasi diri sebagai bagian dari kelompok Amien Rais misalnya, maka pesan tersebut akan membuat Anda mengangguk-angguk takzim. Sebaliknya, jika Anda ada di pihak berlawanan maka pesan tersebut akan membuat Anda menggelengkan kepala sambil membayangkan 'kok teganya ada politisi yang bermain-main dengan agama' untuk memenuhi ambisi kekuasaannya. Artinya, pesan itu hanyalah episode tambahan dari cerita drama politik yang selama ini dipentaskan.

Namun kejadiannya bisa menjadi lain jika Anda adalah pemilih pemula yang masih ragu-ragu. Hal-hal sederhana seperti ini bisa sangat efektif. Misalkan Anda seorang muslim dan menangkap pesan itu seperti yang diinginkan. Kemudian Anda tidak memiliki saringan yang cukup, maka sentimen keagamaan Anda bisa muncul dan selanjutnya secara politik sudah bisa ditebak hasilnya.

Terkait saringan, inilah yang menurut saya saat ini kurang. Saringan yang saya maksud adalah rasionalitas: politik dipahami sebagai kontestasi berdasarkan rasio bukan sentimen primordial. Iklim politik kita saat ini yang lemah rasionalitasnya tentu menjadi lahan subur isu-isu sentimen primordial yang sebenarnya bukan semata karena kotornya trik yang dipakai tetapi juga karena lemahnya saringan di para pemilih.

Saya misalnya, ketika mendengar diksi partai setan versus partai Allah dipanggungkan, melihatnya sebagai hal yang biasa saja karena bagi saya diksi itu telah akrab sejak kecil, sehingga saya tidak terpengaruh oleh pesan politik yang tersembunyi di dalamnya. Akan menjadi lain jika saya tidak akrab dengan hal itu, kemudian gagap, dan terpengaruh.

Politik sejatinya tidak hanya pertarungan gagasan, trik, dan berbagai manuver para politisi tetapi juga pertarungan internal dalam diri seorang pemilih. Mereka yang tidak punya saringan yang cukup akan mudah diombang-ambingkan gelombang politik yang dimainkan. Maka buatlah saringan yang rapat dan kuat agar kita mampu menyaring isu-isu yang bertebaran dengan pesan politik yang tersembunyi di dalamnya.

Hilmi Amin Sobari menulis opini keagamaan di media cetak dan daring, sesekali menulis cerpen. Bermukim di Bekasi. Bisa disapa di akun Twitter @hilmisobari


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed