DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 16 April 2018, 11:35 WIB

Catatan Agus Pambagio

Bisnis Pariwisata: Berkaca pada Vietnam

Agus Pambagio - detikNews
Bisnis Pariwisata: Berkaca pada Vietnam Agus Pambagio (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Sektor pariwisata Indonesia merupakan sektor paling potensial untuk dikembangkan mengingat keanekaragaman seni budaya dan alam yang lengkap yang tidak dipunyai oleh Negara lain. Selain itu secara universal generasi "now" merupakan generasi selfi yang keinginan untuk travelling lebih besar daripada keinginan untuk menabung atau berinvestasi. Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Maka dari itu pemerintah harus serius menggarap infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata yang menjanjikan ini, jangan hanya terpaku pada promosi dan pencitraan.

Kesiapan infrastruktur dan SDM merupakan persyaratan utama yang harus disiapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Daerah. Tanpa kedua hal ini dibereskan tidak mungkin pariwisata Indonesia akan maju, dan menjadi penghasil devisa utama. Pengembangan pariwisata tidak bisa hanya dilakukan dengan pencitraan melalui slogan "Wonderful Indonesia" (WI) saja. Terbukti bahwa slogan WI sudah mengalahkan "Trully Asia"-nya Malaysia, tetapi dampaknya pada kenaikan jumlah wisman masih minimalis. Tidak seperti Malaysia, yang sukses slogannya sukses juga kunjungan wismannya karena selain berslogan juga menyiapkan infrastruktur dan SDM.

Promosi besar-besaran melalui pencitraan tidak dilakukan oleh pesaing utama kita saat ini, yaitu Vietnam. Mereka mengalokasikan dana sektor pariwisata sebagian besar untuk pengembangan infrastruktur penunjang pariwisata dan pengembangan SDM, melalui pendidikan formal, vokasi, dan pelatihan-pelatihan. Promosi dilakukan tetapi dengan target negara. Upaya mereka terbukti, jumlah wisman yang masuk Vietnam tahun 2017 sebanyak 10 juta dan target tahun 2018 adalah 18 juta. Indonesia?

Vietnam saat ini pesaing utama Indonesia, bukan Malaysia atau Thailand atau Singapura yang sudah melesat jauh jumlah wismannya. Kalau kita tetap menggunakan pendekatan pencitraan dan tidak punya target pasar serta abai terhadap pengembangan infrastruktur dan SDM, maka tahun ini kita bisa kalah telak dengan Vietnam. Untuk membuktikan perkiraan tersebut, saya minggu lalu selama 8 hari keliling ke beberapa objek turis di Vietnam bagian Utara.

Vietnam Versus Indonesia

Saya mendarat sekitar magrib waktu Hanoi disambut udara sejuk sekitar 15 celcius langsung menuju kota Bac Ha di dataran tinggi dengan suhu sekitar 10 celcius. Perjalanan ditempuh 3 jam dengan bus wisata. Esok harinya saya kunjungi Pasar Can Cau di luar kota Bac Ha. Ini pasar becek yang masuk agenda pariwisata Vietnam yang memperdagangkan hasil kerajinan masyarakat Bac Ha. Para penjualnya dan pemandu wisata lokal menggunakan baju daerah yang berwarna warni, sangat menarik wisman. Tidak terbayang pasar becek bisa jadi objek turis yang menarik wisman.

Di kota Bac Ha objek turisnya tidak menarik tetapi karena dikemas bagus jadi menarik dan unik. Dari Pasar Can Cau, kita mengunjungi desa Ban Pho untuk menonton kebun sayur mayur, buah, dan pembuatan arak jagung tradisional warga desa. Tontonan sederhana yang oleh pemerintah Vietnam dikemas dengan sangat menarik, misalnya kita bisa berinteraksi dengan warga di rumah-rumah mereka, mencicipi arak jagung buatan sendiri (kalau berminat), dsb. Lagi-lagi wisman bule "tumpah ruah", dan antusias mendengarkan penjelasan pemandu wisata. Indonesia punya banyak atraksi seperti ini tetapi belum serius dijadikan objek wisata.

Selain Pasar Can Cau, juga ada pasar mingguan yang bernama Bac Ha Market yang lebih lengkap dan luas daripada Can Cau; tidak becek tapi tradisional. Pasar ini menjual segala macam kerajinan, hasil bumi, arak, beragam daging hewan dan ternak di jual secara rapih. Penjualnya juga berpakaian tradisional warna warni sangat menarik. Tidak ada penjual yang memaksa; meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris tapi ramah. Malam sebelumnya di lokasi yang sama ada acara rakyat yang sangat sederhana dan monoton tetapi wisman numpuk, sekali lagi karena kemasan. Acara sejenis ini banyak di Indonesia dan lebih menarik tetapi kembali tidak dikemas untuk wisman.

Lalu kita pindah ke kota Sa Pa (berada 3200 meter di atas permukaan laut). Kotanya berdebu, hiruk pikuk dan objek turisnya terbatas tetapi wisman tumpah ruah. Lain lagi kemasan di desa Trung Do, kita berperahu kelotok menyusuri Sungai Chay sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan udara sejuk sambil membayangkan menonton film Rambo dan ganasnya Vietkong terhadap tentara GI. Kemasan ini sangat menarik wisman. Kembali, Indonesia punya banyak sungai tetapi belum dikemas untuk wisman.

Berikutnya saya kunjungi Kota Lao Cai untuk naik kereta api malam Chapa Express menuju Hanoi. Chapa Express merupakan KA berkamar tidur mirip KA Bima (Jakarta - Surabaya) tempo dulu. Sangat nyaman tidur di tempat tidur bertingkat toilet dan keretanya bersih, meskipun fisik KA-nya tidak sebagus KA di Indonesia. Kecepatan sekitar 70 Km/jam tetapi goncangannya kuat mirip naik KA di Indonesia tahun 80-an. Perjalanan Lao Cai - Hanoi ditempuh sekitar 7 jam. Penumpangnya banyak wisman.

Hanoi merupakan kota taman dan danau. Di seluruh kota ada 25 danau dan puluhan taman dengan pepohonan rindang dan jogging track. Lalu lintas sama gilanya dengan Jakarta. Becak ada, tetapi untuk wisata. Kita naik becak atau cyclo untuk berkeliling kota tua Hanoi dan pasar Dong Xuan yang terkenal dan menjual aneka barang berharga miring kualitas baik, mirip Pasar Glodok atau Pasar Senen atau Pasar Mayestik tempo dulu. Kembali wisman lalu lalang banyak sekali meskipun low seasons

Objek wisata terakhir yang saya kunjungi adalah Halong Bay yang terkenal itu dan diakui UNESCO sebagai milik dunia. Wisman sangat padat padahal ini bukan peak seasons. Dari pelabuhan kita diantar dengan boat kecil untuk sampai di kapal pesiar yang berlabuh tidak jauh dari pelabuhan. Jujur, objek wisata di Halong Bay tidak seindah Raja Ampat, tetapi Halong Bay tanpa sampah --tidak seperti di Pelabuhan Sorong.

Objek wisata Halong Bay juga tidak selengkap Raja Ampat yang mempunyai keindahan bawah lautnya untuk diselami atau sekedar snorkling, tetapi wisman tumpah ruah melebihi Raja Ampat. Lalu saya berpikir ada apa dengan pariwisata Indonesia, sehingga sebentar lagi dapat dilampaui oleh Vietnam? Padahal objek wisata kita jauh lebih beragam, bagus, dan banyak.

Antisipasi Pemerintah

Dari BPS dan Bank Indonesia (BI), jumlah wisman masuk Indonesia tahun 2017 sekitar 12,2 juta (dari target 15 juta), meleset karena ada letusan Gunung Agung di Bali. Namun data dari Kementerian Pariwisata sekitar 14,2 juta di mana data tersebut termasuk pelintas batas (PLB) dan wisman khusus yang memang sehari hari keluar masuk perbatasan karena mereka tinggal di daerah sekitar garis batas negara.

Vietnam tahun 2017 dapat menjaring 10 juta wisman dan target tahun 2018 adalah 18 juta wisman. Menurut saya target tersebut dapat tercapai kalau melihat jumlah wisman yang berlalu lalang di Vietnam mulai dari bandara, stasiun KA, objek wisata, dan lain-lain berlimpah. Sementara target Indonesia di tahun 2019 adalah 20 juta. Untuk mencapai 20 juta di tahun 2019, Indonesia memerlukan tambahan wisman sekitar 8 juta. Sanggupkah? Saya terus terang meragukan.

Saran saya sebaiknya dalam berpromosi, Indonesia harus mempunyai target wisman dari negara tertentu yang mempunyai hubungan historis dengan Indonesia, seperti negara bekas penjajah (Belanda, Inggris, Jepang, Portugal), berlatar belakang perdagangan (China, India, Malaysia, Singapura), berlatar belakang keagamaan (negara Timur tengah), dan tetangga seperti Australia. Jangan "gebyah uyah". Lakukan promosi besar-besaran, berikan bebas visa, tiket promo penerbangan ke Indonesia, dsb.

Sama seperti yang dilakukan oleh Vietnam. Vietnam banyak berpromosi ke Amerika dan Perancis (penjajah), Jepang dan Korea Selatan (investasi), China (perbatasan), dan Australia. Sudah saatnya pemerintah melakukan promosi cerdas tapi hemat. Vietnam bisa, Indonesia harus bisa. Wonderful Indonesia sudah ngetop, jadi tidak perlu lagi dipromosikan ke Time Square atau London Taxi. Dana yang terbatas sebaiknya digunakan untuk menyiapkan SDM dan infrastruktur pariwisata seperti yang dilakukan oleh Vietnam. Pemandu wisman nasional harus berpendidikan sarjana (4 tahun) lalu mempunyai lisensi sebagai pemandu nasional.

Untuk tingkat lokal, pemerintah daerah melakukan pelatihan dengan waktu maksimum 1 bulan lalu mereka mendapat sertifikat juga. Awasi kerja para pemandu wisata, jika melenceng langsung dicabut izinnya. Jangan hanya terpaku pada Bali sebagai jantungnya bisnis Pariwisata. Memang sudah ada program pengembangan 10 destinasi unggulan tetapi sampai hari ini belum dapat mengangkat wisman datang ke Indonesia karena memang dua hal di atas belum disentuh pemerintah. Ingat, pesaing utama kita saat ini adalah Vietnam.

Kita punya banyak daerah wisata yang lebih menarik daripada Vietnam, tetapi sepi wisman karena memang kita tidak siap menyambut mereka. Tempat wisata penuh sampah, rakyat belum merasa bahwa pariwisata masa depan mereka, infrastruktur ke lokasi wisata buruk dan membuat wisman kurang nyaman dan aman, banyak preman dan copet, tingginya isu radikalisme, dll. Ayo, mari kerja cepat dan tepat untuk menyambut 20 juta wisman di 2019 sesuai janji kampanye JKW-JK di Pemilu Presiden 2014 lalu!

Agus Pambagio pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed