DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 13 April 2018, 17:19 WIB

Kolom Kalis

Khotbah Jumat dan Peradaban Laki-Laki

Kalis Mardiasih - detikNews
Khotbah Jumat dan Peradaban Laki-Laki Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Pelantang mesjid kampung siang ini membuat saya lega. Sang khatib menyampaikan materi khotbah bertema bakti kepada kedua orangtua. Cinta kepada kedua orangtua, ujar Sang Khatib, ditempatkan Al Qur'an pada posisi nomor dua, setelah cinta kepada Allah beserta Rasulnya. Materi seluhur itu membuat saya membayangkan, puluhan laki-laki yang keluar dari mesjid usai Salat Jumat itu, sesampainya di rumah langsung memeluki ibunya, atau jika mereka jenis pekerja di perantauan maka akan segera mengajukan rindu lewat telepon. Syukur-syukur sekalian ditambah transfer gaji ke kampung halaman. Lhadalah, setelah kelegaan itu, saya penasaran untuk mengetahui tema-tema Khotbah Jumat di tempat lain.

"Adem atau gerah?" tanya saya.

Keisengan saya melempar survei tentang Khotbah Jumat di linimasa Twitter ternyata menghasilkan jawaban yang iseng pula tetapi sangat faktual. Sebagian menjawab cukup seragam, yakni tema tentang isra' mi'raj yang akan jatuh esok hari. Tetapi, lebih banyak yang menjawab: ngantuk. Bahkan, salah satu canda yang terkenal di kalangan jamaah Salat Jumat konon adalah "lebih baik mendapat nikmat tidur daripada bicara saat khatib berkhotbah".

Seseorang menjawab dengan cukup menggelitik, "Hari ini Jumatan di mesjid kampung, adem bener khotbahnya. Tapi minggu lalu Jumatan di mesjid kampus, tetap inti khotbah: khilafah solusinya!"

Khotbah adalah salah satu seni menyampaikan pesan, gagasan atau pikiran kepada orang lain secara lisan dengan teknik dan retorika tertentu. Hatoon Al Fassi, sejarawan Arab Saudi yang juga seorang profesor di Universitas King Saud, Riyadh mengatakan bahwa Salat Jumat adalah peradaban laki-laki, yang artinya khotbah Jumat adalah saat di mana produk pikiran laki-laki disebarkan kepada sesama laki-laki. Di Arab, di mana diskursus studi keislaman sangat didominasi oleh tafsir laki-laki, khotbah Jumat bahkan memungkinkan khotib untuk berbagi tentang ide poligami, otoritas, dan superioritas laki-laki dalam semua bidang kehidupan, hingga kultur kekerasan keluarga yang dalam beberapa fikih klasik masih diperbolehkan. Dari situasi itu, Hatoon menganggap bahwa khotbah Jumat adalah tantangan berat gerakan perempuan, sebab perempuan tidak mungkin masuk, dan menginterupsi mimbar gagasan di dalamnya.

Dalam sebuah diskusi P3M, LKIs, dan INFID muncul sebuah pertanyaan seputar apakah mesjid merupakan ruang privat atau ruang publik. Mesjid, pada akhirnya adalah ruang publik, sebab arus gagasan direproduksi secara sadar dan diterima sebagai kebenaran mutlak, sebab ditopang oleh pemahaman kebenaran Islam dan legitimasi kuasa institusi mesjid sebagai rumah ibadah yang disakralkan. Itulah sebabnya sangat penting untuk mewujudkan kesadaran perihal nalar kritis terhadap konten gagasan di atas mimbar.

Beberapa penjawab survei Khotbah Jumat di Twitter juga melapor tentang tema sakralnya simbol-simbol agama, tentu dikaitkan dengan konteks ribut-ribut puisi Sukmawati. Ada pula yang mendapat khotbah seputar kampanye terselubung dalam rangka pilkada. Tak ketinggalan, tentu khatib yang tidak lelah-lelahnya mengatakan demokrasi adalah produk barat yang tidak sesuai dengan anjuran mendirikan negara Islam.

Merujuk kepada karakternya yang rutin dan jamaahnya yang khas, Khotbah Jumat sebagai salah satu media pendidikan Islam dapat digolongkan sebagai ta'lim. Jika istilah ta'dib, menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas adalah proses pendidikan Islam yang bertujuan mentransformasi nilai-nilai akhlak dalam diri manusia, maka kita artikan ta'lim memiliki level tujuan yang agak lebih sederhana, yakni membekali jamaah dengan perenungan yang berisi pemahaman dan tanggung jawab.

Khotbah Jumat yang membangkitkan kantuk, sepertinya erat berkaitan dengan tema yang jauh dari kehidupan sehari-hari jamaah. Bayangkan saja, di sebuah desa yang berpenduduk mayoritas nelayan yang menyempatkan Salat Jumat selepas panas-panas melaut atau kaum petani yang jeda sejenak membersihkan diri secara gegas demi pergi ke mesjid, lalu mendapati ulasan tentang kaum kafir Amerika yang katanya melakukan berbagai strategi demoralisasi kaum Muslimin. Sebab puyeng bin lieur, maka tidur adalah solusi.

Padahal, bisa jadi nelayan dan petani itu ingin diapresiasi kerja-kerja mereka. Bahwa hasil laut dan hasil panen memang tidak pernah membuat nelayan dan petani kaya, tetapi bukankah kerja-kerja itu yang menopang kebutuhan pokok semua orang kota sepanjang tahun? Syukur-syukur jika khatib berminat menyampaikan materi pentingnya kepedulian pada teknologi kelautan dan pertanian yang tidak merusak lingkungan, juga pentingnya solidaritas untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan dari hasil panen tanah sendiri.

Urf atau tradisi masyarakat memang salah satu nilai normatif pendidikan Islam yang sering dilupakan. Urf adalah kebiasaan masyarakat baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus dan seakan-akan merupakan hukum tersendiri sehingga jiwa merasa tenang dalam melakukannya karena sejalan dengan akal, dan diterima dengan tabiat.

Selain urf, sunah Nabi juga seringkali disalahpahami. Sunah bukan sekadar teks hadis yang selama ini sering dikutip berdasarkan kepentingan politis golongan tertentu. Sunah seharusnya meliputi seluruh akhlak yang terpancar dari keseharian Nabi. Dengan memahami tindakan Nabi, keputusan Nabi, pertimbangan Nabi ketika menakar sebuah permasalahan, maka akan nampak bahwa Nabi adalah manusia pemimpin teladan yang bijak dan manusiawi.

Sementara itu, di sudut desa yang jauh dari hiruk-pikuk kontestasi politik elektoral kota, seorang khatib yang bertugas hari itu sedang sibuk pergi ke warung foto kopi untuk menggandakan materi Khotbah Jumat dari sebuah buku kumpulan pidato dan ceramah yang ia beli di atas bis antarkota seharga sepuluh ribu rupiah. Konon, materi di dalam buku itu adalah materi yang sama dari hasil cetak ulang sebuah penerbitan selama puluhan tahun dan tidak pernah direvisi.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed