DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 13 April 2018, 14:50 WIB

Kolom

Kearifan Angkringan

Heri Priyatmoko - detikNews
Kearifan Angkringan Angkringan atau wedangan khas Solo (Foto: istimewa)
Jakarta - Langit temaram. Mentari baru saja mendengkur di ufuk barat. Lik Man, penjaja angkringan di tengah Kota Solo, bergegas menyalakan templok sebagai alat penerang jajanan yang terhidang di atas meja. Apinya melik-melik, terlindungi semprong berkaca tipis, namun lumayan membantu bola mata pembeli kala memilih makanan yang hendak disantap. Memang kurang terang sinarnya, sebab suasana inilah menjadi salah satu ciri khas angkringan, wedangan, atawa hik.

Angkringan, yang asalnya dari kata "angkring", sudah berusia seabad lebih bercokol di Kota Bengawan, jauh sebelum merebak di telatah Yogyakarta. Sebagai buktinya, jurnalis Djawi Hiswara pada edisi 28 Januari 1918 menyurat terminologi "angkring" dalam pemberitaannya. Koran lawas terbitan Surakarta yang saya temukan di Perpustakaan Nasional Jakarta itu menjelaskan bahwa angkring adalah keranjang pikulan untuk mewadahi panganan dan air kopi (yang tergeletak di samping jalan). Menjamurnya angkringan di kampung halaman Presiden Jokowi itu merupakan buntut dari kehadiran listrik yang menerangi paras kota di malam hari pada permulaan abad XX.

Satu dekade kemudian, Majalah Kajawèn bertarik 1930 turut menyebut istilah "angkring". Juru warta dalam rubrik humor meronce selarik kalimat penting: pangunjukanipun wedang sang prabu ing ngriku punika tèh manjangan angkring...." Terjemahan bebasnya: minuman hangat sang prabu ialah teh (bermerek) manjangan angkring. Fakta tersebut menyiratkan angkring bertemali dengan unsur minuman teh panas. Detik itu, angkring juga sudah populer hingga dicomot untuk nama merek teh.

Lalu, pengertian angkring dibulatkan oleh pakar kamus Jawa, Poerwadarminta yang menyurat dalam Bausastra Jawa (1939). Lelaki ini memaparkan angkring ialah pikulan dan perangkatnya (kothakan wadhah pangangan) yang dipakai untuk menjajakan bakmi, soto, minuman, dan lainnya secara keliling. Keterangan di muka menyediakan petunjuk bahwa bakul angkringan tempo doeloe berjualan keliling dan menjemput pembeli keluar-masuk gang perkampungan. Selain menyasar kampung, mereka juga memikul dagangan ber-genteyongan dari keramaian demi keramaian.

Kini, hampir tiada bakul angkring muter. Di samping menguras energi dan capek, juga dinilai kurang praktis dengan metode jemput bola. Sebaliknya, pembeli sekarang justru keluar rumah berburu angkringan. Maka, pedagang rata-rata dari daerah Klaten ini memilih manggrok (berdiam) bersama gerobaknya di bibir jalan laiknya Lik Man yang mulai bukak dasar pukul 17.00 sampai larut malam.

Angkringan menggamit sederet fungsi. Dialah penanda kota yang tak pernah tidur, sekaligus potret kegigihan warga kelas bawah mengais secentong nasi. Gerobak yang berjumlah ratusan itu simbol wong cilik bertahan dari jepitan hidup di area perkotaan. Bermodal secukupnya dan tanpa susah payah mencari ijazah, mereka menggulung lengan baju nglembara ke Solo dan Yogyakarta mengikuti jejak kerabat dan tetangganya berjualan angkringan.

Bagi kaum pembeli, angkringan berikut nasi kucing-nya bukan sebatas juru penyelamat kala kantong kempes. Dengan merogoh kocek secukupnya, kita sanggup melahap gorengan yang disajikan meliputi mendoan, bakwan, tahu susur, lentho, pisang goreng, limpung, blanggreng, tape goreng, dan lainnya. Juga memesan wedang teh kebo njerum (kerbau berendam di air), yakni teh dengan gula batu yang dibiarkan menggeletak tanpa diusik oleh sendok. Bila dihayati, sesungguhnya angkringan laksana ruang perenungan. Dengan segenap menu dan tampilan sederhana, hik mengajak kita ngemadne urip (menikmati hidup) barang beberapa jenak, tanpa harus kemrungsung (tergesa-gesa) lantaran dikejar waktu.

Seraya menyesap wedang teh ginastel (legi, panas dan kentel) dan camilan yang menggerakkan mulut, kita duduk nglaras di dingklik panjang. Di sini kita berkesempatan menghibur diri, membahagiakan hati, mengendorkan ketegangan hidup, yang telah menjadi tradisi manusia Jawa selama ini. Seperti priayi di masa silam yang menikmati suara burung perkutut dan duduk di kursi goyang serta kulitnya dielus angin sepoi dari rerimbun daun di pekarangan rumah.

Gampang dijumpai penikmat angkringan duduk sendirian maupun berbincang bersama teman sambil berpikir, mencari akal agar kebutuhan keluarga tercukupi. Nongkrong di angkringan, pikirannya mulai terbuka sehingga menemukan cara yang tepat untuk berbuat apa besok pagi. Kearifan angkringan bukan berhenti pada perkara perut dan mengajari ajur-ajer (melebur) dalam berinteraksi sosial lintas kelas sebagaimana jarwo dhosok wedang (ngawe kadang), yaitu mencari-menambah teman. Tetapi juga sarana mengendalikan batin (rohani) supaya dirinya tak larut oleh kegelisahan jiwa, angan-angan yang tak karuan juntrungnya, harapan yang tak mungkin tercapai, di mana semua itu kalau dibiarkan dapat berakibat fatal bagi pribadi dan keluarga.

Dalam nuansa angkringan yang khas, kita tanpa sadar mudah dibujuk menggelar momen instrospeksi dan metani atau meneliti diri sendiri. Kalau mampu berpikir sejauh itu, kita dapat semeleh, berdamai dengan keadaan yang dialami dan tak akan menggerutu kepada Gusti Allah perihal nasib maupun kondisi aktual yang dinilai kurang mengenakkan.

Tidak jarang pula dipergoki sopir becak dan buruh bangunan lungguh jegang bercengkerama di angkringan dibumbui humor ala wong cilik. Dengan suasana santai dan harga makanan terjangkau dompet, angkringan merajuk mereka semeleh. Bila telah membanting tulang namun tetap berkekurangan, perlahan mereka dipaksa menerima kasunyatan urip apa adanya. Melalui cara inilah, mereka menemukan ketenteraman batin dan sumber kebahagiaan sejati manusia. Ya, angkringan menjelma menjadi klinik rohani segala kelas sosial.

Heri Priyatmoko dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed