DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 13 April 2018, 11:40 WIB

Kolom

Iman, Fiksi, Filsafat

Abul Muamar - detikNews
Iman, Fiksi, Filsafat Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Dalam dua bulan terakhir, masyarakat kita dibuat ribut oleh perkara-perkara politik yang menyangkut iman dan fiksi. Mulai dari pidato Prabowo Subianto yang menyatakan Indonesia akan bubar pada tahun 2030 berdasarkan novel Ghost Fleet (2015) karangan PW Singer dan August Cole, lalu berlanjut dengan puisi kontroversial Sukmawati Soekarnoputri dan puisi Gus Mus yang dinukil oleh Gubernur Ganjar Pranowo, sampai terakhir pernyataan pengamat politik Rocky Gerung yang menyebut kitab suci sebagai fiksi, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di televisi. Semua perkara itu remeh dan receh saja sebenarnya, namun begitu pun bisa membuat urat kita saling tegang.

Secara garis besar, kita tahu bahwa ada dua kubu yang saling berseberangan dalam memandang persoalan-persoalan ini. Pertama adalah kubu yang tidak sepakat dengan pelaku yang mengucapkan, dan kedua adalah kubu yang mendukung. Perkara mendukung atau menentang, kita pun tahu, itu lebih ditentukan oleh berada di pihak mana si pelaku: pemerintah atau oposisi. Soal kubu-kubuan ini, untuk sementara kita singkirkan dulu. Termasuk soal berada di pihak mana si Rocky Gerung.

Dari sekian banyak polemik yang terjadi, saya memang paling tertarik pada kontroversi yang timbul karena ucapan Rocky, yang dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Saya tertarik melihat respons banyak orang menangkap ucapan tersebut, terlebih pada orang-orang yang tak senang dan marah, yang sampai ada yang menyebut Rocky Gerung gila dan sesat.

Rocky bilang begini: "Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu menghidupkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi."

Adakah yang salah dari ucapan Rocky tersebut? Benarkah Rocky menganggap kitab suci sebagai fiksi --dengan 'fiksi' (nomina) yang dimaknai sebagai sebuah karangan/imajinasi (nomina)? Pertanyaan ini tak sederhana untuk dijawab.

Namun, orang-orang yang menganggap Rocky menyamakan kitab suci dengan fiksi, menurut saya mereka hanya belum memahami apa yang dimaksudkan Rocky. Apa mungkin seorang Rocky yang ahli filsafat, sedemikian pongahnya menggunakan nalarnya untuk menegasikan imannya di hadapan banyak orang? Saya kira kok tidak.

Saya berkaca dari lingkungan saya, yang kebetulan menempuh pendidikan filsafat secara formal. Sehari-hari, saya berjumpa dengan dosen-dosen yang sama seperti Rocky. Bisa saya pastikan, mereka semua sama corak berpikirnya dengan Rocky. Mereka, misalnya, sering melemparkan pertanyaan maupun pernyataan kepada kami, seperti, "Tuhan itu di mana?", "Alam semesta itu Tuhan atau bukan?", atau "Kita semua adalah Tuhan", "Kursi juga termasuk Tuhan."

Lantas, apakah mereka, dosen-dosen saya itu, gila dan sesat? Tentu saja tidak. Sebab sehabis bertualang liar dengan nalar, mereka langsung ngeluyur ke musala kampus untuk Salat Dzuhur atau Ashar. Kalaupun mereka memang gila dan sesat, apakah kita bisa memastikan bahwa para petinggi fakultas dan universitas juga gila dan sesat karena memperkerjakan orang-orang gila dan sesat?

Saya kira, di sini menjadi perlu (bahkan penting) bagi orang-orang yang ingin merespons kalimat-kalimat seperti yang diucapkan Rocky itu, untuk terlebih dahulu belajar atau paling tidak mengenal sedikit filsafat. Sebab, menurut saya, ucapan Rocky tersebut merupakan sebuah ucapan filosofis. Tanpa bermaksud meremehkan kemampuan nalar pembaca atau orang-orang yang belum pernah belajar filsafat, ucapan seperti itu memang tidak bisa ditanggapi dengan logika sederhana. Butuh sedikit "keliaran" dan "kenakalan" dalam berpikir untuk menanggapi ucapan seperti itu. Dan, tentu saja, dibutuhkan kemauan untuk itu.

Dalam lingkungan orang-orang filsafat, jangankan "sekadar" menyebut kitab suci adalah fiksi, mempertanyakan keberadaan Tuhan saja pun boleh. Sudah makanan sehari-hari, bahkan. Sekali lagi, apakah petinggi fakultas dan universitas tidak tahu soal itu? Tentu saja mereka tahu dan sampai sekarang, belum ada kejadian di universitas mana pun juga, baik dosen maupun mahasiswa, dikeluarkan karena menjadi "liar" dan "nakal" seperti itu. Justru, memang sudah menjadi tugas mereka untuk berpikir radikal (berpikir sampai ke akar-akarnya) tentang segala sesuatu, tak terkecuali tentang apa yang kita sebut sebagai Tuhan.

Menurut saya, penjelasan panjang lebar Rocky tentang apa itu "fiksi", serta perbedaannya dengan "fiktif" (kata sifat), lalu menyebut kitab suci termasuk fiksi, akan menjadi sia-sia dan percuma. Sampai berbuih pun mulut dia, penjelasan itu tidak akan dipahami dengan utuh oleh (terutama) pihak yang berseberangan dengannya, tanpa mereka terlebih dahulu menanggalkan logika berpikir yang sederhana itu. Bahkan, kacamata iman juga perlu dilepaskan terlebih dahulu agar bisa menangkapnya lebih jernih (penekanan pada kata 'kacamata', bukan 'iman').

Tak Membuat Sesat

Dalam filsafat agama atau filsafat ketuhanan, pertanyaan mengenai esensi keberimanan atau keberadaan Tuhan selalu menjadi narasi utama. Menjadi perbincangan yang menarik tiap kali membahas tentang iman dengan dimensi esoteris (hakiki, bersifat metafisik) dan eksoteris (yang bersifat wujud, yang tampak). Misalnya, dalam Islam, iman eksoteris menuntun seseorang untuk tampil dengan baju koko dan sarung serta kopiah saat hendak salat ke masjid; sedangkan iman esoteris tidak akan mempersoalkan rupa pakaian yang dipakai asalkan sudah cukup menutupi aurat.

Dalam bahasa Immanuel Kant, segala sesuatu yang bersifat eksoteris berada di ruang fenomena dan dan hanya itulah yang dapat dijangkau oleh nalar manusia. Di sisi lain, dimensi esoterik terlingkup dalam ruang nomena yang tak mungkin dapat dipahami dengan akal. Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu soal itu.

Dalam konteks yang terjadi belakangan ini, termasuk ucapan Rocky Gerung di talkshow televisi itu, sejatinya kita sedang membicarakan hal-hal yang bersifat eksoteris, yang berada di ruang fenomen, yang tampak, serta bisa dinalar.

Ketika mengatakan "kitab suci adalah fiksi", Rocky tentu mengucapkannya dalam ruang fenomen tadi. Akan menjadi sulit halnya untuk diterima, ketika ucapan itu ditangkap dengan "nalar iman". Itu pulalah saya kira yang melatari perundungan terhadap Sukmawati dan Ganjar. Alih-alih dianggap sebagai sebuah kritik atas kondisi sosial yang tengah berlangsung, puisi-puisi mereka justru ditangkap sebagai sebuah penistaan, dan karenanya mereka dianggap sesat.

Karena itu, sekali lagi saya kira, pengenalan terhadap filsafat menjadi penting untuk masyarakat kita saat ini, yang sering terpecah belah karena persoalan perbedaan cara pandang tentang beragama. Tidak harus menempuh kuliah filsafat seperti saya, tentunya. Bisa dilakukan dengan membaca sedikit buku-buku pengantar filsafat di rumah saat ada waktu luang. Untuk apa? Ya, untuk meluaskan wawasan berpikir, mempertajam logika, dan mengasah daya kritis. Saya berani menjamin, asal fondasi iman kita sudah benar dan mantap, belajar filsafat tidak akan membuat kita sesat, menjadi ateis, dan semacamnya.

Sebaliknya, dengan belajar filsafat, keberimanan kita akan semakin teruji karena kita tidak hanya sekadar menelan mentah-mentah dogma-dogma dalam agama. Dan, kita tidak akan mudah lagi untuk diadu domba dan dipecah belah hanya karena hal-hal remeh temeh seperti jilbab, baju koko, puisi, atau kalimat-kalimat logis seperti yang diucapkan oleh Rocky Gerung dan lainnya.

Abul Muamar mahasiswa magister Filsafat UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed