DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 10 April 2018, 15:17 WIB

Kolom

Sharing Teknologi Pertanian Melalui Survei Konversi Gabah

Husni Mubarok - detikNews
Sharing Teknologi Pertanian Melalui Survei Konversi Gabah Survei konversi gabah (Foto: Sayrief Fitra Hasbulloh)
Jakarta - Indonesia merupakan negara Agraris. Namun sektor agraria kita tidak terdengar mentereng dibandingkan sektor-sektor lain. Bahkan berita yang muncul di permukaan selalu tentang permasalahan kurangnya pasokan atau stok pangan yang menyebabkan melambungnya harga barang-barang yang ada di masyarakat.

Desa-desa yang berkembang menuju ke arah urban atau perkotaan menyebabkan tergerusnya lahan pertanian yang diganti dengan lahan permukiman. Usaha mengoptimalisasi lahan atau tanaman pertanian yang ada merupakan salah satu solusi menjawab kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan.

Optimaslisasi lahan yang ada dapat dilakukan melalui perbaikan sumber daya manusia dari petani, bibit yang unggul, serta peralatan pertanian yang mendukung. Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini melakukan Survei Konversi Gabah atau biasa disingkat SKGB. Melalui survei ini dapat diketahui gabah dengan kualitas tertentu akan menghasilkan beras dengan kualitas tertentu. Selain itu dapat diketahui pula gabah sekian kilogram dapat menghasilkan beras sebanyak sekian kilogram.

Dalam proses pengukuran tidak lupa juga dilakukan pengukuran kadar air dari gabah dan beras. Untuk pengukuran kadar air, BPS menggunakan alat ukur otomatis. Hanya dengan memasukkan beras atau gabah yang ingin diketahui kadar airnya maka akan diperoleh berapa besaran kadar airnya secara akurat.

Survei tersebut memancing perhatian petani. Setiap ada petugas yang melakukan pengamatan terhadap gabah dan beras, petani berkumpul mengamati apa yang dilakukan petugas. Sharing informasi otomatis terjadi karena petani tertarik dengan alat yang dibawa petugas.

Pengetahuan tentang kadar air sangat penting dalam produktivitas gabah yang akan digiling. Gabah yang terlalu kering akan menyebabkan beras pecah ketika digiling. Namun gabah kering sangat bagus untuk digiling jika pemanfaatan berasnya tidak untuk langsung dijual, melainkan disimpan untuk konsumsi sendiri. Lalu kadar air yang tidak terlalu kering akan bagus jika pemanfaatan berasnya nantinya adalah untuk dijual.

Masalahnya adalah bagaimana petani mengukur kadar air jika tidak memiliki alat-alat modern? Kasus ini terjadi di Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah. Di kabupaten ini, masyarakat mengukur bagaimana gabah layak untuk digiling atau tidak adalah dengan menginjak-nginjak sampel gabah. Dari gabah yang diinjak kemudian dihitung berapa persen gabah yang rusak. Ketika banyak gabah yang rusak dan patah berasnya maka petani menganggap bahwa gabah tersebut sudah bagus untuk digiling.

Adapun metode lain yang digunakan petani yaitu dengan mengupas gabah lalu menggigit beras yang keluar dari gabah dan dikira-kira keras atau tidak beras yang digigt. Ketika beras yang digigt dirasa renyah maka petani menganggap bahwa beras tersebut siap untuk digiling.

Ketika melihat petugas mengukur menggunakan alat yang modern, saat itu petani mulai terlihat wajah optimistis akan pertanian mereka. Salah satu petani di Desa Tende, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah beranggapan bahwa pengukuran kadar air secara otomatis tersebut membuat mereka merasa diperhatikan pemerintah, dan apabila mereka terus diperhatikan dengan penyuluhan tentang informasi dan penyaluran alat-alat yang sudah modern maka Indonesia akan mampu swasembada pangan.

Melalui alat tersebut diketahui bahwa kadar air gabah yang baik untuk digiling dengan tujuan berasnya untuk dijual adalah pada kisaran 11-15 persen. Sedangkan kadar air gabah yang baik untuk digiling dengan tujuan berasnya untuk disimpan dan dikonsumsi sendiri adalah berada di bawah 10 persen.

Ketika para petani mendapati bahwa kadar gabah yang akan mereka giling dengan tujuan untuk dijual adalah di bawah 8,5 persen, mereka terkaget. Mereka berniat menjual beras yang mereka hasilkan untuk dijual tetapi ternyata gabah yang mereka siapkan terlalu kering, sehingga beras yang dihasilkan akan pecah dan harganya di pasar akan jatuh karena mutu atau kualitas yang dianggap tidak cukup baik.

Mereka berpikiran bahwa ketika menjemur gabah lebih lama maka akan semakin baik hasil berasnya padahal sebaliknya. Menurut salah satu petani, andai saja satu desa punya satu alat seperti ini maka mereka optimistis dengan kemampuan produksi beras di kabupaten. Petani mulai menyadari bahwa mereka selama ini bekerja bodoh. Bekerja tanpa mengetahui ilmunya. Mereka merasa bahwa mereka bukan petani yang profesional.

Mereka bercita-cita petani Indonesia menjadi seperti petani di luar negeri di mana hasil produksinya telah banyak diintervensi oleh teknologi dan pengetahuan.

Husni Mubarok, S.S.T staf Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten Tolitoli

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed