DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 05 April 2018, 12:05 WIB

Kolom

Belajar dari 'Runtuhnya' Uber di Asia Tenggara

Putra Wanda - detikNews
Belajar dari Runtuhnya Uber di Asia Tenggara Foto: Reuters
Jakarta - Salah satu berita yang banyak dibahas oleh netizen Indonesia akhir-akhir ini adalah tutupnya bisnis Uber di Indonesia. Uber merupakan layanan taksi online pertama dan paling populer di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Tetapi pada awal 2018, isu penjualan bisnis Uber di Asia Tenggara mulai banyak diperbincangkan netizen. Sebenarnya apa yang menjadi penyebab 'tumbangnya' bisnis taksi online raksasa ini di beberapa negara Asia?

Mari kita runut lebih jauh ke belakang dengan menengok China, negara dengan jumlah pengguna transportasi online terbanyak di Asia. Sekitar pertengahan 2016 Uber menjual bisnis transportasi online-nya ke perusahaan lokal Didi Chuxing. Penjualan bisnis tersebut terjadi setelah Uber kehilangan market share di China. Masuk dengan kepercayaan dan dana yang sangat besar, namun Uber pada akhirnya tidak bisa menaklukkan 'tembok besar' China dan kehilangan lebih dari 2 Miliar USD selama menjalankan bisnisnya di negeri itu.

CEO Uber Travis Kalanick pada saat itu tidak terlalu khawatir dengan kerugian dan lambatnya operasi bisnis perusahaan. Padahal kalangan investor mulai khawatir dengan kesulitan yang dihadapi Uber yang tampaknya tidak berkesudahan. Namun, pada akhirnya UBER mengambil keputusan penjualan bisnis ke Didi Chuxing untuk menghentikan kerugian yang semakin membengkak.

Tidak lama setelahnya, kita pindah ke Rusia; pada 2014 Uber masuk ke pasar transportasi online Rusia dengan model bisnis yang mirip dengan di China. Di sana Uber kembali berkompetisi dengan pemain lokal bernama Yandex Taxi. Yandex merupakan pemain besar yang memiliki core bisnis di mesin pencarian. Pada saat Uber melakukan ekspansi di Rusia, Yandex telah meluncurkan layanan sejenis sekitar 3 tahun sebelum Uber datang.

Selama beroperasi di Rusia, Uber seringkali terlibat dalam perang tarif dengan Yandex Taxi. Akibatnya kedua perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar selama periode tersebut. Selain perang tarif, Uber juga harus menghadapi perbedaan budaya dan pembatasan regulasi oleh pemerintah setempat.

Budaya, Regulasi, dan Burning Cash

Perusahaan raksasa yang sudah beroperasi di lebih dari 600 kota di dunia dan tampaknya kini semakin banyak diadopsi di berbagai belahan dunia, namun Uber seringkali menghadapi kesulitan ketika terjadi perang tarif. Selain itu, regulasi pemerintah lokal juga memberi tekanan tersendiri bagi ekspansi perusahaan transportasi online seperti Uber.

Kita mulai dari regulasi, ambil sebuah contoh di Indonesia, dengan adanya peraturan penentuan tarif minimum dan maksimum bagi penyedia transportasi online. Ini merupakan sebuah serangan langsung terhadap bisnis inti transportasi Uber yang menerapkan model bisnis harga dinamis. Selain itu, kebijakan pembatasan jumlah kendaraan, uji lisensi kendaraan, dan keharusan membentuk korporasi menjadi sebuah hambatan bisnis transportasi online seperti Uber selama ini.

Sedangkan, kegagalan Uber untuk melakukan ekspansi bisnis di China dan Rusia tidak hanya berhubungan dengan masalah modal. Tetapi, hal penting yang harus disadari adalah perbedaan budaya termasuk bahasa serta regulasi pemerintah lokal. Ini tercermin sejak lama; aplikasi Yandex adalah Google di Rusia, dan Baidu adalah mesin pencari terpopuler di China.

Di dalam ekosistem sharing economy seperti transportasi online, elemen-elemen yang terlibat saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Di dalam bisnis transportasi 'sharing', operasi bisnis tidak hanya ditujukan untuk sharing kendaraan, tetapi juga sharing pengguna dan sopir. Misalnya, jika kita melihat realitas, para driver banyak menggunakan Uber and Yandex secara bersamaan, akibatnya perang tarif ini tidak sepenuhnya efektif untuk keberlangsungan bisnis.

Hal lain menjadi perhatian saya adalah strategi burning cash yang populer dalam bisnis transportasi online. Uber telah menjalankan strategi ini di berbagai negara yang menjadi sayap operasinya. Strategi burning cash yang dilakukan selama bertahun-tahun telah membawa dampak bisnis yang sangat besar bagi Uber. Dampak positifnya ada, tetapi menyimpan dampak negatifnya sangat besar.

Awalnya, strategi ini ditujukan salah satunya untuk memenangkan kompetisi bisnis dengan memperbesar pangsa pasar. Tetapi, burning cash ini telah terbukti tidak berhasil di berbagai negara seperti China di mana Uber menghabiskan 2 Milliar USD selama 2 tahun, dan kedua di Rusia di mana Uber sulit bersaing dengan Yandex, dan terbaru Asia Tenggara di mana strategi burning cash ini tidak bertahan lama menghadapi pemain lokal seperti Go-Jek dan Grab yang mengakar lebih kuat di masyarakat.

Terakhir, Uber juga mengalami kesulitan dalam menaklukkan pasar India dan Brasil ketika berkompetisi dengan pemain-pemain taksi online lokal. Saya melihat jika Uber masih mengandalkan strategi burning cash sebagai motor bisnis untuk memenangkan kompetisi dan melambungkan nilai pasar, maka akan menemui kegagalan di beberapa negara berikutnya.

Strategi ini memang cara agresif untuk ekspansi bisnis, namun tidak dapat bertahan lama. Di tengah keterbatasan dana investor dan regulasi yang ketat, Uber perlu mencari model ekspansi baru.

Kompetisi Pasca Uber

Grab merupakan perusahaan yang mulai menggerakkan bisnisnya dari layanan transportasi online. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini tercatat sangat agresif dalam melakukan ekspansi dan inovasi bisnis. Grab saat ini dianggap sebagai salah satu pemain besar berlabel unicorn di kawasan Asia Tenggara.

Yang terbaru dan banyak mengundang perhatian tentu berita Grab telah mengakuisisi raksasa transportasi online Uber di kawasan Asia Tenggara. Kesuksesan Grab akan meningkatkan iklim investasi start up di Singapura, dan menjadi awal bagi start up lokal negeri itu untuk menguasai pasar Asia Tenggara. Hal ini juga seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap bisnis rintisan di kawasan Asia Tenggara.

Namun, cerita tidak berhenti sampai di sana. Apa akibatnya bagi perusahaan sejenis yaitu Go-Jek yang sudah mengakar kuat di Indonesia?

Keluarnya Uber dari kawasan Asia Tenggara akan mengangkat dominasi dua perusahaan yakni Grab dan Go-Jek ke permukaan. Saya prediksikan persaingan head-to-head antara Grab dan Go-Jek baru saja dimulai. Kompetisi keduanya tidak hanya terbatas pada taksi online, tetapi juga melebar ke sektor pembayaran digital, pemesanan produk dan makanan, serta layanan delivery lain.

Memang, saat ini Go-Jek masih menguasai pasar dalam negeri Indonesia yang disebut sebagai pasar terbesar di kawasan ASEAN. Namun, Grab telah lebih dulu melalukan ekspansi di negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya. Hari ini Grab semakin melebarkan sayap bisnisnya melalui Uber, dan menjadi semakin kompetitif. Ini memberi sinyal peringatan bagi Go-Jek, bahwa tekanan kompetisi dalam bisnis ini semakin besar.

Realitas saat ini memang aplikasi Go-Jek lebih cepat dan lengkap dibandingkan dengan Grab. Namun, agresifnya bisnis, inovasi, dan eksekusi Grab serta dukungan investor sekelas Softbank menjadi perhatian khusus. Hal ini akan menjadikan Go-Jek tertekan jika tidak agresif dalam mengembangkan inovasi, eksekusi, dan ekspansi bisnis.

Financial Technology

Kompetisi head-to-head antara Grab dan Go-Jek ini baru dimulai. Kedua perusahaan memiliki layanan yang mirip seperti taksi online, pesan-antar produk atau makanan, dan sistem pembayaran digital. Satu hal yang menjadi perhatian saya adalah inovasi dalam financial technology (fintech). Go-Jek memiliki Go-Pay, dan Grab memiliki Grab-Pay. Nah, inovasi dan pengembangan teknologi fintech inilah yang menjadi kunci dalam memenangkan pasar berikutnya.

Layanan online seperti transportasi, pemesanan barang, jasa kurir dsb memerlukan infrastruktur fintech sebagai motor untuk mempercepat bisnis sehingga menjadi efisien. Saat ini, Go-Jek sudah memiliki lebih dari 900.000 driver baik dari unit motor atau mobil, dengan mitra sekitar 125.000 merchants, lebih dari 15 juta pengguna aktif per minggu, serta transaksi melebihi 100 juta transaksi per bulan. Ini merupakan kemajuan pesat yang dicapai sejak 2016.

Dengan semakin matangnya penerapan fintech pada aplikasi Go-Jek, diprediksikan perusahaan besutan Nadiem Makarim tersebut dapat melipatgandakan capaian di atas. Beberapa waktu yang lalu Go-Jek melakukan kesepakatan bisnis penting dengan beberapa start up di bidang fintech yakni pertama dengan Kartuku, start up yang bergerak dalam pembayaran dalam negeri. Kedua Midrans, start up yang disebut sebagai gerbang pembayaran nasional, dan Mapan, start up yang bergerak dalam bisnis simpan dan pinjam.

Melihat semakin besarnya bisnis Go-Jek, peluang untuk menciptakan inovasi dan ekspansi bisnis dengan fintech ini sangat terbuka. Selain dengan merchants, Go-Jek tentunya harus semakin banyak membangun jaringan dengan pihak perbankan nasional agar penerapan fintech di Indonesia semakin luas.

Realitas lain yang harus disadari adalah Indonesia dengan penduduk lebih dari 260 juta, sekitar 60 persen tidak memiliki akses perbankan formal selama bertahun-tahun. Inilah momen yang tepat melambungkan teknologi fintech untuk menjawab keterbatasan akses perbankan formal bagi pengguna layanan internet di seluruh Indonesia.

Kompetisi dalam bisnis digital seperti Uber, Grab, dan Go-Jek tidak akan berhenti. Start up lokal dan luar negeri saling bersaing untuk memenangkan pasar. Pada akhirnya inovasi dan model bisnis yang efisienlah yang akan bisa bertahan di sana. Nah, dengan keluarnya Uber dari Asia Tenggara, menjadi momen tepat bagi Go-Jek untuk melakukan ekspansi di kawasan regional.

Singkatnya, salah satu pelajaran yang bisa diambil yakni kesuksesan Go-Jek membuktikan pemain lokal bisa memenangkan persaingan bisnis digital melalui inovasi, model bisnis, dan lingkungan yang saling mendukung.

Putra Wanda pemerhati teknologi informasi, Ph.D student in Computer Science, HRBUST, China


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed