DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 04 April 2018, 13:29 WIB

Kolom

Citra Kandidat dalam Pilgub Jateng

Mohamad Jokomono - detikNews
Citra Kandidat dalam Pilgub Jateng Foto: detikcom
Jakarta - Dalam poster-poster sebagai alat peraga kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng) 2018 yang tertempel di sejumlah tembok, dapat ditemui kata sapaan terhadap para kandidat. Yang berupa poster, seperti kebetulan saya lihat adalah penggunaan kata sapaan "Pak" yang dilekatkan pada nama "Dirman" (Sudirman Said). Lalu kata sapaan "Mbak" pada pasangan wakilnya "Ida" (Ida Fauziyah).

Sementara itu, untuk pasangan petahana Ganjar Pranowo dan Taj Yassin Maimoen, hanya tampak penggunaan kata sapaan berupa nama diri di spanduk-spanduk atau poster-poster. Hanya untuk calon wakil gubernur Taj Yassin, sering dalam realitas pemberitaan di media massa mendapat tambahan kata sapaan "Gus" menjadi "Gus Yassin", merujuk pada santri yang mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang tinggi. Sebutan "Gus" ini tentu saja bukan tanpa maksud adanya transaksi politis yang dibangun tim sukses pasangan ini untuk membidik khalayak pemilih yang agamais.

Kata sapaan bisa berwujud nama diri. Bisa pula kata yang tergolong dalam istilah kekerabatan (pak, mbak, pakde), gelar kepangkatan, profesi atau jabatan (profesor, kapten, dokter). Atau, kata yang menunjukkan status pernikahan (tuan, nyonya, nona), kata nama pelaku (penonton, pendengar, hadirin), dan kata ganti persona kedua (Anda). Berdasarkan realitas yang saya lihat, penggunaan kata sapaan dalam alat peraga kampanye Pilgub Jateng 2018 merupakan jenis yang tergolong dalam istilah kekerabatan, yaitu "Pak" dan "Mbak" dan yang berkombinasi dengan nama diri.

Sebagaimana kita rasakan bersama dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, kata sapaan "Pak" telah mengalami perluasan medan makna, tidak harus untuk menyebut hubungan kekerabatan yang merujuk pada ayah. Tetapi, bisa dikenakan biasanya untuk laki-laki kira-kira separuh baya sebagai bentuk ungkapan rasa hormat.

Demikian pula dengan kata sapaan "Mbak" atau "Mas" tidak harus dikenakan kepada perempuan atau laki-laki yang secara kekerabatan adalah saudara kandung perempuan atau laki-laki yang lebih tua dari kita. Akan tetapi, bisa meluas penggunaannya untuk sapaan kepada orang-orang yang relatif belum terlalu tua, sehingga dalam rasa bahasa sebaiknya tidak disebut "Bu" atau "Pak". Atau, untuk menunjukkan keakraban kita terhadap orang tersebut, sehingga patokan usia bisa menjadi tanpa batas jelas.

Pada mulanya, kata sapaan ini berfungsi untuk menegur orang yang menjadi lawan bicara dalam komunikasi interpersonal ataupun komunikasi publik dalam bentuk penggunaan bahasa lisan. Sementara itu, dalam komunikasi massa via media poster atau spanduk yang identik dengan bahasa tulis, biasanya merupakan bagian dari kampanye politik yang dapat terkait dengan upaya tim sukses untuk menjual citra para kandidat yang mereka dukung kepada khalayak pemilih. Kata sapaan dalam komunikasi massa via media poster atau spanduk itu merupakan kreasi tim sukses pasangan calon.

Dalam Pilgub Jawa Timur dua periode sebelum ini, tahun 2008 dan 2013, pernah muncul kata sapaan yang berkaitkan dengan kekerabatan, yaitu kata "Pakde" untuk calon gubernur saat itu, "Karwo" (Sukarwo). Di lingkungan istilah kekerabatan kelompok budaya Jawa, "Pakde" untuk menyebut kakak kandung atau kakak sepupu dari ayah atau ibu kita. Pada realitas perluasan maknanya ia juga bisa merujuk pada laki-laki yang meskipun tidak ada pertalian darah, usianya kira-kira lebih tua dari ayah atau ibu kita.

Sosok "Pakde" adalah citra seorang yang dituakan. Dia memiliki gambaran sifat yang melindungi, menganyomi, dan mampu mrantasi (mencari solusi dengan bijak) persoalan-persoalan pelik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Kira-kira begitulah citra yang hendak dimunculkan dengan penggunaan kata sapaan hasil kreasi tim sukses kampanye pemenangan di balik pemunculan "Pakde Karwo".

Selain itu, istilah kekerabatan tersebut juga menunjukkan seorang yang remaket (hangat dan akrab dalam pergaulan) dan nyemadulur (memperlakukan orang lain seperti keluarga sendiri). Dua entitas sikap yang menjadi dambaan dari seorang pemimpin dalam pandangan masyarakat di lingkungan budaya Jawa. Pak Dirman = Jenderal Sudirman? Tentu bukan kebetulan atau muncul dari kekosongan pengetahuan, ketika tim sukses menyuguhkan tagline "Mbangun Jateng, Mukti Barang Pak Dirman dan Mbak Ida" (Membangun Jateng, Sejahtera Bersama Pak Dirman dan Mbak Ida).

Penggunaan kata sapaan "Pak" yang melekat pada nama diri "Dirman" (Sudirman Said), sehingga menjadi bentukan "Pak Dirman" pastilah bukan tanpa maksud. Saya hanya bisa menduga karena saya memang bukan salah seolah tim sukses Sudirman Said dan Ida Fauziyah, sebutan "Pak Dirman" itu juga menggiring asosiasi khalayak pemilih di Jateng ke arah glorifikasi seorang Sudirman Said yang hendak coba disejajarkan dengan Jenderal Soedirman. Kata sapaan "Pak Dirman" juga biasa diberikan kepada Jenderal Soedirman dari para anak buah beliau atau yang mengenal dekat beliau, seperti Soepardjo Roestam dan Noegroho Notosoesanto, dalam tulisan atau pernyataan lisan mereka sewaktu masih hidup dalam berbagai kesempatan di masa lalu.

Bisa jadi pula, Sudirman Said ditampilkan dengan kesamaan kata sapaan "Pak Dirman" dengan Jenderal Soedirman, karena keduanya berasal dari wilayah pengguna bahasa Jawa dengan dialek yang relatif hampir sama. Dialek ngapak, begitu istilah lapangannya. Seperti kita ketahui dari data sejarah, Panglima Besar Jenderal Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Sementara itu, Sudirman Said lahir pada 16 April 1963 di Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Boleh dikatakan dialek bahasa Jawa di Brebes dan Purbalingga, meskipun tidak persis sama, termasuk wilayah dialek ngapak.

Konsekuensi logis dari glorifikasi lewat kata sapaan "Pak Dirman" itu, bisa jadi Sudirman Said diarahkan oleh tim suksesnya menuju ke pencitraan sikap dan pribadi yang sekualitas dengan Jenderal Soedirman. Noegroho Notosoesanto dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah (Redaksi Taufik Abdullah, Aswab Mahasin, Daniel Dhakidae; LP3ES Jakarta, 1979) menulis, "Bagi mereka yang pernah mengenal Pak Dirman, 11 Asas Kepemimpinan ABRI itu terlihat sebagai cermin daripada solah-bawa Pak Dirman sebagaimana yang pernah mereka amati" (halaman 61). Solah-bawa Jenderal Soedirman itu mungkin yang hendak dicitrakan tim sukses kepada Sudirman Said pada persepsi khalayak pemilih di Jawa Tengah, lewat penggunaan kata sapaan "Pak Dirman".

Setidaknya Sudirman Said coba dicitrakan sebagai pribadi yang memiliki beberapa solah-bawa Jenderal Soedirman yang masih dianggap relevan dalam era kepemimpinan masa kini. Kesebelas solah-bawa kepemimpinan Jenderal Soedirman itu, menurut Noegroho Notosoesanto (1979: 61) meliputi: takwa (beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa), ing ngarsa sung tulada (memberi contoh yang baik kepada anak buah), ing madya mangun karsa (ikut terlibat dan menggugah semangat di tengah-tengah anak buah), tut wuri handayani (mendukung anak buah yang ingin berbuat baik dan maju).

Selanjutnya, waspada purba wisesa (mengawasi dan mengoreksi kesalahan anak buah), ambeg parama arta (memilih dengan tepat apa yang seharusnya menjadi prioritas kebijakan), prasaja (berperilaku yang sederhana dan tidak neko-neko atau berlebihan), satya (sikap loyal timbal balik dari atasan kepada bawahan, dari bawahan kepada atasan, dan ke samping). Adapun selebihnya adalah gemi nastiti (kesederhanaan dan kemampuan membatasi penggunaan atau pengeluaran dana untuk keperluan yang benar-benar sesuai dengan keperluan), blaka (kemampuan, kerelaan, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan segala kebijakan secara transparan), dan legawa (kemauan, keikhlasan, dan kerelaan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab, serta kedudukan pada generasi berikut).

Representasi Perempuan

Sementara itu untuk calon wakil gubernur, penggunaan kata sapaan "Mbak" bagi Ida Fauziyah, bisa jadi karena memang usianya yang relatif muda untuk ukuran seorang politikus. Dia lahir pada 16 Juli 1969. Saat ini baru 48 tahun, belum menyentuh 50 tahun. Dia sekaligus merepresentasikan dua hal, yaitu perempuan dan kaum muda.

Representasi kemudaannya, paling tidak memori publik diarahkan oleh tim sukses menuju ke realitas bahwa saat dia menjadi anggota DPR pada 1999, usianya baru 29 tahun. Sementara itu, kata sapaan "Mbak" merupakan representasi gender yang selama ini terus-menerus memperjuangkan kesetaraan haknya untuk berkiprah di dunia politik. Dia belum "Ibu", tetapi masih "Mbak". Perempuan yang usianya masih relatif muda.

Selanjutnya soal penyebutan nama diri yang singkat di belakang kata sapaan "Mbak", yaitu cukup "Ida" dan bukannya nama lengkap "Ida Fauziah". Demikian pula dengan Sudirman Said, hanya diambil nama singkat atau nama panggilan "Dirman" setelah kata sapaan "Pak". Ini pun tidak lepas dari kebiasaan dalam tradisi budaya Jawa, bahwa penyebutan nama pendek ini untuk menunjukkan adanya suatu upaya pencairan kondisi hubungan formal menjadi lebih informal atau akrab. Suatu hubungan yang dicitrakan oleh tim sukses agar lebih remaket (dekat) dengan khalayak pemilihnya.

Saya belum melihat penggunaan kata sapaan, kecuali nama diri, yang secara resmi terpampang di spanduk atas poster dari pasangan calon gubernur Ganjar Pranowo dan calon wakil gubernur Taj Yassin Maimoen. Karena itu, tanpa mengurangi netralitas tulisan ini, saya belum begitu banyak memberi penonjolan bahasan terkait dengan mereka. Sebagai pasangan petahana, bisa jadi mereka lebih menekankan strategi komunikasi politik yang menggarap sisi lain.

Mohamad Jokomono alumnus Magister Ilmu Komunikasi Unversitas Diponegoro Semarang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed