DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 03 April 2018, 12:16 WIB

Mimbar Mahasiswa

Menyoal Etika Jelang Kontestasi Politik

Daniel Purba - detikNews
Menyoal Etika Jelang Kontestasi Politik Ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta -

Polarisasi jelang pilkada, pileg, atau yang paling seksi yaitu pilpres membentuk dengan jelas sekat-sekat pembatas ruang beretika dan sopan santun di masyarakat. Pemilu saat ini bukan menjadi pesta demokrasi bagi rakyat, tapi menjadi arena pertaruhan adu kekuatan politik oleh para tokoh-tokoh politik Indonesia. Etika yang selama ini disembunyikan muncul jelang kontestasi politik. Baik itu etika yang baik maupun buruk, walaupun sebenarnya porsinya lebih banyak yang buruk.

Etika pejabat negara/tokoh politik menjadi sorotan pertama yang dikonsumsi oleh publik di media mainstream maupun media sosial. Media sosial memberikan ruang baru kepada publik untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan etika pejabat negara/tokoh politik. Sedikit saja kesalahan dalam bertutur kata atau dalam berbicara misalnya, bisa menjadi hidangan utama dalam perdebatan di ranah dunia maya.

Terlebih menjelang kontestasi politik, kenikmatan untuk "menyantap" perdebatan terkait etika tadi menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Tentu saja kesalahan dalam bertutur kata ini dinikmati oleh lawan politik atau pendukung lawan politik ketika lawan politiknya "terpeleset" dalam berbicara.

Tokoh-tokoh politik yang saling berafiliasi biasanya cenderung akan melakukan tindakan yang sama dengan koleganya; mendukung bila benar, dan membela bila salah. Harmonisasi yang ditimbulkan ditujukan supaya publik akan mengira bahwa ada chemistry yang baik antartokoh politik. Saat ini, strategi ini sepertinya mulai ditinggalkan. Para lawan-lawan politik dari pemerintahan yang sedang berjalan misalnya lebih memilih untuk berjuang sendiri-sendiri, walaupun secara garis besar mereka memiliki tujuan yang sama. Dibuat tidak menjadi satu kesatuan agar terlihat majemuk.

Dalam etika politik, etika kader-kader partai politik misalnya diturunkan dari etika pemimpinnya, walaupun tidak secara keseluruhan, namun sedikit-banyaknya pasti terjadi. Momentum sepertipilpres akan memancing etika-etika pejabat negara/politikus yang tersembunyi, yang selama ini belum diketahui oleh publik, akan muncul ke permukaan. Seperti yang saya sebut di awal, etika yang muncul bisa saja baik atau buruk, bahkan bisa jadi etika yang dibuat-buat seolah-olah baik atau seolah-olah buruk.

Namun, pada kenyataannya gaya kepemimpinan seorang pemimpin partai akan mempengaruhi etika kader-kader dari partai politik itu sendiri. Penanaman ideologi partai menjadi resep utama dalam membentuk karakter seorang kader partai. Tentu penanaman ideologi harus disejajarkan dengan penanaman etika-etika berpolitik yang baik, supaya ke depan partai politik mampu menghasilkan kader-kader terbaik yang siap bertarung dalamkontestasi politik dengan menjalankan asas-asas pemilu yang baik.

Menyerang Lawan Politik

Serangan kepada lawan politik menjadi bagian dari rangkaian kampanye yang tidak tertulis dalam agenda kampanye. Namun, saya yakin menyerang lawan politik adalah agenda tidak tertulis namun terpatri pada tim pemenangan maupun tim sukses (timses). Serangan-serangan yang ditujukan kepada lawan politik biasanya tidak jauh dari kasus yang pernah menimpa si lawan politik, masa lalu si lawan politik, dan bahkan tidak jarang ada yang sampai membawa perkara urusan rumah tangga.

Tentu hal ini menjadi tidak elegan untuk dikonsumsi oleh publik. Sebagai seorang politikus seharusnya serangan-serangan yang ditujukan kepada lawan politik harus bersifat elegan dan bersifat membangun. Seperti misalnya menyerang dengan program-program unggulan, visi dan misi yang baik, dan harapannya serangan ini juga dibalas dengan nada-nada yang serupa. Nada-nada yang bersifat konstruktif.

Publik memiliki barometer tersendiri dalam menilai etika pejabat negara/politikus, mana yang harus dipilih dan mana yang harus ditinggalkan. Saat ini komunitas-komunitas independen yang mendukung KPU dalam menjalankan dan mewujudkan pemilu yang jujur dan adil sudah terbentuk dan tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia.

Tatkala komunitas-komunitas ini berdiri dan memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam hal kriteria-kriteria calon kepala daerah/calon legislatif/calon presiden yang seperti apa yang layak untuk dipilih, maka bersiap-siaplah para politikus yang selama ini tidak mengedepankan etika yang baik di hadapan publik akan merasakan akibatnya. Kemungkinan lain yang akan terjadi bisa saja para politikus yang tidak terpilih tadi akan menganggap komunitas-komunitas independen tersebut berafiliasi dengan lawan politiknya.

Kualitas demokrasi di Indonesia salah satunya diukur dengan kualitas pemilu. Kualitas pemilu yang baik diukur dengan berbagai macam indikator, salah satunya yaitu terkait dengan etika tokoh politik, khususnya yang menjadi peserta pemilu. Penyelenggara pemilu menurut saya bisa saja memberikan penghargaan kepada pasangan atau timses, bahkan partai politik yang sudah beretika baik dalam proses pemilu. Karena cukup sulit rasanya saat ini menemukan hasil pemilu atau pilkada yang tidak berujung di Mahkamah Konstitusi.

Demokrasi menjadi napas baru bagi negeri ini pasca-reformasi. Memasuki 20 tahun reformasi ini, mari kita bersama-sama mewujudkan kontestasi politik yang kualitas, supaya menghasilkan pemimpin yang berintegritas. Harapan ada di tangan kita, perilaku politisi ada di media, keputusan di tangan Anda. Pada tanggal pemilihan nanti kita yang akan menentukan ke arah mana bangsa ini akan kita bawa. Semoga menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Daniel Estomihi Purba mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Ketua Divisi Kominfo BEM FISIP Universitas Jambi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed