DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 02 April 2018, 12:20 WIB

Kolom

Meningkatkan Investor Saham Melalui Edukasi Berkelanjutan

Heru Wibowo - detikNews
Meningkatkan Investor Saham Melalui Edukasi Berkelanjutan Ilustrasi: ist.
Jakarta -

Kampanye Yuk Nabung Saham telah dicanangkan oleh pemerintah sejak 2015, tepatnya diluncurkan pertama kali pada 12 November 2015 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hasil kampanye tersebut cukup menggembirakan. Menurut Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan, pada Desember 2015 jumlah investor di pasar modal masih sekitar 434.107 orang, sedangkan pada awal 2018 sudah meningkat menjadi sekitar 635.000 investor. Hal ini menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan --hingga mencapai 46 persen.

Apabila kita melihat data yang ada pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), catatan jumlah investor hingga Januari 2018 sudah mencapai lebih dari 1,1 juta investor. Angka tersebut merupakan jumlah Single Investor Identification (SID) terkonsolidasi yang terdiri dari investor pemilik saham, surat utang, reksadana, Surat Berharga Negara (SBN), dan efek lain yang tercatat di KSEI

Pencapaian tersebut tentunya merupakan suatu hal yang menggembirakan. Semakin besar investor saham dalam negeri membuat ketergantungan pasar modal Indonesia terhadap investor luar negeri menjadi berkurang. Namun begitu apabila kita lihat perbandingan dengan persentase jumlah penduduk yang sekitar 250 juta, investor pasar modal Indonesia sangatlah kecil. Kurang dari 1 persen penduduk Indonesia yang memanfaatkan instrumen-instrumen pada pasar modal.

Apabila kita bandingkan dengan tetangga Malaysia, kurang lebih 3,8 juta penduduk mereka telah memanfaatkan pasar modal. Ini artinya dari sekitar 32 juta penduduk Malaysia kurang lebih terdapat 11,8 persen penduduk yang berinvestasi pada pasar modal.

Persepsi Negatif

Walaupun kampanye menabung saham sudah dilakukan secara masif, masih banyak persepsi-persepsi negatif dari masyarakat terkait menabung atau investasi dalam saham. Salah satu persepsi tersebut yaitu masih banyak masyarakat yang menganggap investasi saham termasuk ke dalam perjudian. Masyarakat sering menyebut dengan kata "bermain saham" yang memiliki konotasi dengan bermain-main dengan perjudian. Hal tersebut tidak bisa kita salahkan sepenuhnya.

Kadang mereka menganggap saham bagaikan sebuah permainan angka yang mempunyai tingkat spekulasi tinggi. Bahkan tiap detik angka-angka dalam running trade akan terus menampilkan harga saham yang berubah ketika jam perdagangan buka. Agar anggapan perjudian tersebut dapat hilang di masyarakat, kita perlu memberikan beberapa edukasi. Berinvestasi di saham artinya kita membeli persentase kepemilikan atas sebuah perusahaan. Selanjutnya kenali dulu saham yang akan kita beli, jangan asal membeli saham yang kita tidak tahu kesehatan perusahaannya.

Jadi kesimpulannya pilihlah saham yang kita ketahui lalu simpan untuk jangka waktu tertentu dan anggap seperti sebuah tabungan. Dengan begitu investor saham tidak akan terjebak pada spekulasi atas naik dan turunnya harga saham tiap detik. Kampanye menabung saham dan edukasi seperti itu yang harus terus kita suarakan pada masyarakat.

Persepsi negatif berikutnya yaitu masyarakat masih takut menyimpan uangnya pada investasi-investasi selain perbankan. Banyaknya kasus penipuan investasi kadang membuat mereka lebih merasa nyaman berinvestasi pada deposito atau tabungan saja, yang bisa diambil sewaktu-waktu. Itu lebih aman menurut mereka dibandingkan dengan saham yang tidak jelas fisik barangnya.

Sekarang perdagangan saham serba online, jadi kita sebagai investor memang sudah tidak mendapatkan lagi secarik kertas saham seperti zaman dahulu. Tetapi jangan khawatir, semua saham yang kita beli tercatat pada sekuritas tempat kita melakukan pembelian. Kita bisa mencetak laporan bulanan yang menunjukkan jumlah saham yang kita miliki.

Selain catatan dari sekuritas, juga ada satu lembaga tersendiri yang melakukan pencatatan saham seluruh investor. Lembaga tersebut adalah PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). KSEI ini merupakan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di pasar modal Indonesia. Setiap nasabah pasar modal akan mendapatkan akun dari PT KSEI ini. Di dalam akun ini akan tercatat investasi apa saja yang dimiliki oleh nasabah, baik itu saham maupun obligasi. Jadi kita tidak perlu khawatir, apalagi ada regulator yang mengawasi jalannya pasar modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selain mengawasi lembaga keuangan perbankan juga menjadi pengawas lembaga-lembaga yang terkait pasar saham. Keamanan dana nasabah semakin terjamin dengan rekening dana nasabah pada sekuritas yang menggunakan rekening atas nama nasabah sendiri. Untuk mengakomodasi nasabah muslim yang ingin berinvestasi pada perusahaan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, OJK menerbitkan Daftar Efek Syariah yang selanjutnya disebut DES.

OJK secara periodik menerbitkan DES dua kali dalam setahun, yaitu pada akhir Mei dan akhir November. Selain itu, terdapat DES Insidentil yang diterbitkan karena adanya penetapan saham yang memenuhi kriteria syariah pada saat pernyataan pendaftaran emiten dalam rangka penawaran umum perdana (IPO) efektif. Saham-saham yang masuk kategori syariah tersebut mendapatkan persetujuan dari Dewan Syariah Nasional. Sampai dengan sekarang terdapat 2 indeks syariah di Indonesia yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia Sharia Stock Index (ISSI).

Selain jenis saham yang masuk kategori syariah, kita perlu melihat juga transaksi-transaksi pasar saham yang sesuai dengan prinsip syariah. Dewan Syariah Nasional telah memberikan fatwa terkait hal itu. Pasal terkait transaksi yang dilarang ada pada pasal 5 fatwa DSN MUI nomor 40 tahun 2003. Salah satu pasal tersebut menyatakan bahwa transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi dan manipulasi yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba, maisyir, risywah, maksiat, dan kezaliman.

Edukasi Lanjutan

Hal selanjutnya yang perlu menjadi perhatian adalah melakukan edukasi lanjutan bagi mereka yang telah membuka rekening efek di pasar modal. Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat lebih sering mengadakan seminar, pelatihan maupun sosialisasi-sosialisasi. BEI juga dapat bekerja sama dengan sekuritas untuk mendorong mereka agar memberikan edukasi berkelanjutan kepada nasabah masing-masing.

Jangan sampai masyarakat sudah bersemangat untuk mengikuti program menabung saham, tetapi kemudian mereka tidak diberikan pelatihan maupun pendampingan. Begitu banyaknya saham yang tercatat di bursa perlu kita perkenalkan dengan baik kepada masyarakat. Karena dari ratusan saham yang listing di BEI, selain ada perusahaan sehat yang terus membukukan laba, ada juga saham-saham perusahaan yang membukukan kerugian. Kemudian ada juga saham-saham yang sangat likuid transaksinya dan ada juga saham-saham tidur tanpa peminat.

Masyarakat yang awam terhadap pasar modal dan baru membuka rekening efek perlu mengetahui konsekuensi membeli saham-saham perusahaan yang merugi dan tidak likuid tersebut. Edukasi saham dengan metode value investing yaitu bagaimana cara dalam menghitung valuasi harga saham harus terus digalakkan. Edukasi-edukasi terkait bagaimana cara menghitung valuasi dan pemilihan saham untuk dibeli dan disimpan dalam jangka waktu yang panjang sangat penting.

Lebih mudahnya, kita bisa merekomendasikan dengan memulai membeli perusahaan yang kita kenal produknya sehari hari. Atau, perusahaan besar yang telah berdiri dan teruji selama puluhan tahun. Kita bisa mulai mengedukasi dengan memperkenalkan saham-saham LQ45. Saham yang termasuk dalam LQ45 merupakan 45 saham yang dipilih secara berkala oleh BEI. Biasanya perusahaannya sehat serta memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas transaksi harian yang besar.

Diharapkan jika kita mengenalkan saham-saham LQ45 apalagi dengan kategori bluechips maka akan memberikan kenyamanan dalam menabung saham dengan resiko yang minimal. Hasilnya ketika banyak contoh sukses, dalam jangka panjang investor saham dalam negeri kita akan terus meningkat dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Heru Wibowo, S.E staf pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed